KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) –
Yayasan Brayat Panangkaran kembali menggelar gerakan budaya rakyat, dalam rangka Ruwat Rawat Borobudur (RRB) ke-24. Yayasan tersebut menggelar bincang budaya di Balaidesa Kalisalak, Salaman, Kabupaten Magelang, hari ini, Rabu (21/1/26).
Acara tersebut juga terkait 40 tahun Candi Borobudur dikelola oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur (PT TWCB). Agenda tersebut sebagai forum kritis yang mengevaluasi kinerja pengelola.
Pendiri Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur, Sucoro Setrodiharjo, ketika ditanya tentang kenapa Desa Kalisalak yang jadi pilihan tempat kegiatan. Padahal jarak desa itu dengan Borobudur, sekitar 12 kilometer. Menurut dia, Borobudur tidak lepas dari pertanian maupun pengairan.
Ditegaskan, melalui acara itu dia tidak akan mengajak agar Candi Borobudur dikelola seperti dulu.
Tapi, agar warga mengingat masa lalu, bahwa keberadaan Borobudur tidak lepas dari ruh spiritual petani Kalisalak.
Menurutnya, ingatan itu mungkin memberi manfaat. Konon di seputar Candi Borobudur dahulu ada danau purba-nya. Airnya dari Kali Tangsi.
Kegiatan tersebut untuk mengingatkan sejarah Borobudur. Maka, hasilnya akan dibukukan.
“Kegiatan bincang budaya ini lahir dari kesadaran bersama bahwa Borobudur bukan sekadar monumen batu yang membeku, melainkan jejak spiritual dari peradaban petani yang hidup di abad ke-8. Para leluhur yang akrab dengan tanah, air, dan siklus alam, mampu mempersembahkan Borobudur sebagai mahakarya dunia. Itu dibangun bukan dengan kegaduhan teknokratis, melainkan dengan ketulusan doa, kesabaran, dan keselarasan hidup yang mendalam,” tuturnya.
Kegiatan bertema: Menggali akar spiritual Borobudur dari Desa Kalisalak dan merawat warisan dengan kejujuran niat itu, diikuti berbagai elemen masyarakat. Ada dosen perguruan tinggi, dalang, kelompok tani, pemain seni tradisional Gatholoco, dan tokoh masyarakat.
Kali Tangsi
Ditambahkan oleh Sucoro, Borobudur tak lepas dari Kali atau Sungai Tangsi. Niatnya, mau menghubungkan lagi masyarakat Kalisalak dan Borobudur.

Petani setempat, Moh Taufik Isnanto, menuturkan, Kali Tangsi, mata airnya dari Sutopati, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Pengaturan airnya di Krasak, Kecamatan Salaman. Dari sana aliran airnya melalui Desa Sriwedari dan melewati Desa Kalisalak. “Diskusi ini menyangkut tanah, air, budaya,” katanya.
Selama ini daerah irigasi Tangsi dikelola dengan baik. Ada pengurus Persatuan Petani Pemakai Air-nya. Aliran airnya pun didata. Sebagai gambaran, pada Rabu (21/1/26) air yang mengalir di sungai 8.991 liter/detik. Air yang masuk irigasi 2.537 liter/detik. Data itu tiap hari berbeda.
Petugas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Novita Siswayanti, dalam acara itu menuturkan, Desa Kalisalak sektor pertaniannya terawat dengan baik. Di sisi lain, Borobudur sebagai objek wisata dunia tak lepas dengan kawasan pertanian. “Di Kalisalak ada program Trimulyo. Bagus kalau ditindaklanjuti, bisa menjadi icon wisata,” harapnya.
Menurutnya, bagaimana keberlangsungan eksistensi Kalisalak. Bukan hanya dari pertaniannya saja, tapi bisa mendatangkan wisatawan untuk hadir ke Kalisalak. Hal itu bisa memberi harapan baik bagi warga setempat.
Gatholoco
Kades Kalisalak, Abdul Chamid, berterima kasih wilayahnya
ditempati untuk acara tersebut. Disebutkan, desa yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Purworejo itu seluas 450 hektare, sebagian berupa tegalan, persawahan, pekarangan. Dalam perkembangannya sudah banyak penggerusan. Misalnya, tanah pertanian untuk pemukiman.
Disebutkan, pintu masuk desa, dulu berupa persawahan, sekarang pertokoan. Itu bangunan di atas tanah persawahan. Menurut dia, hal tersebut yang jadi keprihatinan dan kekhawatiran, apakah pelestarian bisa dipertahankan sampai anak cucu atau tidak.
“Dengan menggiatkan pembangunan wisata alam, juga akan mengeruk pertanian. Misalnya bangunan gazebo di tengah sawah. Awalnya untuk wisata alami, tapi menggerus lahan pertanian,” kata
Kades Abdul Chamid.
Daya tarik yang ada di desa itu adalah kesenian tradisional Gatholoco. Berupa tarian dan nyanyian yang berisi pitutur luhur (petunjuk baik) tentang pertanian, kemasyarakatan, kekeluargaan, dan pelestarian alam. Kesenian berupa tarian yang pemainnya berpakaian adat Jawa itu masih eksis. Sekitar 20 pemainnya latihan rutin setiap bulan.
Eko Priyono












