SEMARANG SUARABARU.ID : Beberapa tahun terakhir, linimasa media sosial dipenuhi oleh gaya berpakaian yang 0terasa akrab namun juga asing. Celana rendah pinggang, atasan mini, tas mungil, kacamata warna warni, dan estetika mencolok ala awal 2000-an kembali mendominasi.
Fashion Y2K kembali berkuasa, kali ini bukan lewat majalah mode atau televisi, melainkan melalui TikTok dan Instagram. Yang menarik, tren ini justru digandrungi generasi yang tidak pernah benar-benar hidup di era tersebut. Pertanyaannya, mengapa gaya lama ini terasa begitu relevan bagi generasi hari ini.
Jawabannya tidak sesederhana nostalgia. Dalam konteks masyarakat digital, selera berpakaian tidak lagi tumbuh secara organik, melainkan dikonstruksi melalui paparan media yang berulang. Di sinilah Teori Kultivasi menjadi relevan untuk membaca fenomena fashion Y2K. George Gerbner menjelaskan bahwa media memiliki kekuatan untuk membentuk persepsi realitas melalui paparan jangka panjang yang konsisten. Media tidak memaksa audiens untuk berpikir tertentu, tetapi secara perlahan menanamkan gambaran tentang apa yang normal, menarik, dan pantas ditiru (Gerbner & Gross, 1976).

Media sosial hari ini bekerja dengan logika yang bahkan lebih kuat dibanding televisi. Konten fashion Y2K muncul secara terus-menerus dalam bentuk OOTD, haul, referensi selebritas, hingga video transformasi gaya. Paparan visual yang berulang ini menciptakan ilusi bahwa Y2K adalah standar estetika masa kini. Ketika gaya yang sama terus hadir di layar, audiens mulai memandangnya sebagai realitas sosial yang wajar. Inilah proses kultivasi bekerja secara halus namun efektif.
Fenomena ini sejalan dengan pandangan Morgan, Shanahan, dan Signorielli yang menyebut bahwa teori kultivasi tetap relevan di era media baru, terutama ketika audiens terpapar konten homogen dalam jangka waktu lama (Morgan et al., 2015). Dalam konteks fashion Y2K, algoritma media sosial mempersempit pilihan visual dan memperkuat tren tertentu, sehingga gaya tersebut terasa dominan dan tak terelakkan.
Masalahnya, versi Y2K yang dikultivasi media bukanlah representasi utuh dari era 2000-an. Media hanya menampilkan sisi yang estetis dan menguntungkan secara komersial. Standar tubuh kurus ekstrem, pakaian minim, dan citra selebritas glamor kembali dinormalisasi tanpa konteks kritis. Penelitian Tiggemann dan Slater menunjukkan bahwa paparan intens terhadap citra tubuh ideal di media sosial berkorelasi dengan meningkatnya ketidakpuasan tubuh, terutama pada generasi muda (Tiggemann & Slater, 2014). Dengan kata lain, fashion Y2K tidak hanya memengaruhi gaya berpakaian, tetapi juga cara individu memandang tubuh dan dirinya sendiri.
Fashion sejatinya adalah sistem makna sosial. Crane menegaskan bahwa pakaian bukan sekadar penutup tubuh, melainkan simbol yang diproduksi dan disebarkan melalui media untuk membangun identitas dan diferensiasi sosial (Crane, 2012). Ketika Y2K terus dikultivasi sebagai simbol gaya yang keren dan relevan, generasi muda terdorong untuk mengadopsinya sebagai bagian dari identitas sosial mereka, sering kali tanpa menyadari bahwa pilihan tersebut telah lebih dulu diarahkan oleh media.
Algoritma media sosial memperparah efek ini. Pariser menyebut kondisi ini sebagai filter bubble, di mana pengguna terus disuguhi konten serupa berdasarkan preferensi sebelumnya (Pariser, 2011). Ketika seseorang menyukai satu konten Y2K, maka linimasanya akan dibanjiri gaya serupa. Akibatnya, pilihan fashion terasa bebas, padahal sebenarnya dibatasi oleh logika algoritmik.
Kembalinya fashion Y2K seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tren gaya, tetapi sebagai cermin bagaimana media membentuk selera kolektif secara diam-diam. Teori kultivasi membantu kita memahami bahwa apa yang kita anggap sebagai preferensi pribadi sering kali merupakan hasil dari paparan media yang panjang dan konsisten.
Di tengah derasnya arus tren, sikap kritis menjadi penting. Menyukai fashion Y2K bukanlah masalah, namun menyadari bagaimana dan mengapa kita menyukainya adalah langkah awal untuk menjadi audiens yang lebih sadar. Jika tidak, kita berisiko terus mengulang siklus tren tanpa pernah benar-benar memilihnya secara reflektif.
Penulis: Chalifian
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro













