JAKARTA (SUARABARU.ID) – Pergantian zaman dan munculnya wajah-wajah baru di tubuh Partai Golkar tidak serta-merta menghapus peran para tokoh senior.
Di tengah gerak politik yang dinamis, nama Ridwan Hisjam dan Akbar Tandjung, dua tokoh senior ini tetap menempati posisi penting. Keduanya juga sebagai rujukan nilai, arah, dan tradisi politik bagi kader-kader Golkar lintas generasi.
Ridwan Hisjam merupakan figur yang tumbuh dan besar bersama Golkar. Lima kali dipercaya rakyat sebagai anggota parlemen (DPR RI), ia telah melewati berbagai fase krusial perjalanan politik nasional. Mulai dari era Orde Baru, Reformasi, hingga memasuki era politik generasi milenial.
Keberlanjutan kiprahnya menjadikan Ridwan sebagai simbol konsistensi dan adaptasi dalam tubuh partai. Meski tak lagi berada di parlemen, peran Ridwan Hisjam tetap terasa hingga kini.

Ia aktif menjaga komunikasi internal, memberi pandangan strategis, serta menjadi tempat bertanya bagi kader-kader muda Golkar yang kini mulai mengisi ruang kepemimpinan. Pengalaman panjangnya menjadikan Ridwan sebagai jembatan antara nilai-nilai lama Golkar dan tuntutan politik kekinian.
Sementara itu, Akbar Tandjung dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam sejarah Partai Golkar. Mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut berperan besar menjaga eksistensi partai di masa transisi politik nasional pascareformasi, ketika banyak partai lama menghadapi ujian berat dalam mempertahankan eksistensi, relevansi dan soliditas.
Relasi antara Ridwan Hisjam dan Akbar Tandjung terbangun bukan semata karena kedekatan personal, melainkan oleh ikatan sejarah dan kesamaan pandangan ideologis.
Ridwan Hisjam dikenal sebagai salah satu kader yang banyak menyerap nilai kepemimpinan Akbar Tandjung. Terutama, soal loyalitas, konsolidasi internal, serta pentingnya visi jangka panjang dalam membesarkan partai.
Keselarasan pandangan tersebut kembali mengemuka dalam pertemuan yang berlangsung di Akbar Tandjung Institute beberapa waktu lalu. Dalam forum itu, keduanya mendiskusikan arah dan masa depan Golkar, dengan penekanan pada pentingnya menjaga soliditas partai sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
“Golkar harus tetap menjadi kekuatan politik yang mengakar, namun juga responsif terhadap dinamika baru. Pengalaman masa lalu adalah bekal penting untuk menatap masa depan,”ujar Ridwan Hisjam, Minggu (11/1).
Pertemuan kedua tokoh tersebut menegaskan kesamaan pandangan mengenai pentingnya kesinambungan kepemimpinan, penguatan konsolidasi internal, serta regenerasi kader agar Golkar tetap relevan di tengah perubahan politik yang kian cepat.
Di tengah alih generasi, Ridwan Hisjam dan Akbar Tandjung tampil sebagai poros pengalaman dan nilai. Bukan sekadar penjaga sejarah, tetapi juga sumber pembelajaran politik bagi kader-kader Golkar dalam memahami bagaimana partai besar bertahan dan berkembang dari satu zaman ke zaman berikutnya.
Bagaimana pun Partai Golkar ingin tetap berperan dalam dinamika politik Tanah Air kini dan yang akan datang. Pertemuan Ridwan Hisjam dan AkbarTandjung di Akbar Tandjung Institute sebagai tokoh senior partai belum lama ini semakin mempertegas peran tersebut.
Komper Wardopo













