MAGELANG (SUARABARU.ID) – MENTARI pagi mulai beranjak terik. Muhammad Amanullah (33) duduk di teras Usaha Dagang (UD) Jambul, Desa Pucang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Senin, 22 Desember 2025. Sebagai petani muda, dipundaknya sudah memikul amanah menjadi bendahara Kelompok Tani Maju Mulyo, Dusun Gunung Tugel, Desa Purwosari, Kecamatan Secang.
Sebelum siang, belasan karung pupuk bersubsidi harus ditebus di Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS) UD Jambul, yang telah ditunjuk PT Pupuk Indonesia (Persero). Tidak semua milik Aman, melainkan titipan dari sejumlah petani di desanya. Tujuannya agar pengambilan pupuk bisa sekali jalan. Menghemat waktu tenaga, dan ongkos lain.
Distribusi akan lebih mudah, melihat waktu tempuh sekira 15 menit. Itupun dengan kondisi jalanan naik turun di perbukitan desa-desa setempat. Pihak petugas lapangan PPTS memfasilitasi angkutan pikap untuk membantu memudahkan para petani. Terkhusus, banyak petani yang sudah berusia lanjut. Mereka kesulitan menjangkau PPTS, dengan medan seperti itu.
”Akhir-akhir ini Alhamdulillah lebih mudah (pembelian pupuk bersubsidi). Pengambilan pupuk tidak harus pakai Kartu Tani saja, pakai KTP (Kartu Tanda Penduduk) semakin mudah. Mencari pupuk enggak kesulitan kayak tahun-tahun kemarin,” kata pemuda yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren tersebut.
Dalam penebusan pupuk, Aman cukup membawa sejumlah Kartu Tani milik petani yang diwakilinya. Bila tidak, cukup menggunakan surat kuasa dengan KTP. Bahkan juga, untuk petani muda seperti dirinya bisa membeli pupuk melalui aplikasi Integrasi Pupuk Bersubsidi (i-Pubers). Sebuah transformasi digital yang belakangan dilahirkan PT Pupuk Indonesia dan Kementerian Pertanian.
Ya, cukup dengan membawa KTP yang sudah terdaftar pada elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Hanya hitungan menit dibantu pelayanan petugas PPTS, karung-karung pupuk bersubsidi sudah bisa dipersiapkan diangkut menggunakan pikap.
Penebusan pupuk, kata Aman, harus dilakukan secepat mungkin. Di penghujung tahun 2025 ini, sebagian petani setempat segera mulai masuk musim tanam baru. Artinya petani membutuhkan ketepatan waktu untuk memupuk tanamannya. Saat pentingnya pada masa pertumbuhan tanaman.
Mayoritas petani di daerah setempat mengandalkan komoditas hortikultura, seperti jagung, ketela pohon, cabai, bahkan kopi. Jenis-jenis tanaman pangan yang digarap petani ini mendapat jatah pupuk subsidi dari pemerintah.
Adapun, Aman menanam komoditas jagung, di mana saat ini memasuki usia remaja. Pada masa ini, tanaman juga membutuhkan nutrisi dari pupuk. Dia mengombinasikan pupuk kimia, dan pupuk kandang untuk menjaga kestabilan kesuburan tanah.
”Ketika pemupukan itu terlambat itu resikonya, pertumbuhan tanaman akkan jadi terganggu. Maka dengan skema pengambilan pupuk ini, masa pemupukan itu jadi lebih mudah dan tepat waktu. Cukup beli pupuk membawa KTP saja bisa,” ucap anak ke empat dari lima bersaudara tersebut.
Kebijakan lain yang disyukurinya sebagai petani muda, yakni Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi sudah diturunkan lagi 20% sejak 22 Oktober 2025. Hal ini tertuang pada keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025. Kebijakan ini serasa bak hangatnya mentari pagi yang merambati punggung petani di tengah lelah.
Secara rinci harga sesuai HET terbaru, Pupuk Urea pada angka Rp1.800 per kilogram (kg) atau Rp90 ribu per karung berukuran 50 kg. Pupuk NPK Phonska seharga Rp1.840 per kg atau Rp92 ribu per karung ukuran 50 kg. Pupuk NPK Kakao seharga Rp2.640 per kg atau Rp132 ribu per karung ukuran 50 kg. Pupuk ZA seharga Rp1.360 atau Rp68 ribu per karung ukuran 50 kg. Selanjutnya Pupuk Organik Petroganik Rp640 atau Rp25.600 per karung 40 kg.
”Saya selaku petani mengucapkan banyak terima kasih. Semoga kedepannya masalah yang kaitannya dengan pupuk untuk petani itu dipermudah selalu. Sehingga petani bisa maju, lebih produktif,” kata Aman.

Mewariskan Profesi Petani
Sedikit berkisah, Aman mengambil jalan berbeda dari para saudara kandungnya. Profesi di dunia pertanian dengan mantap diri dipilihnya. Ia ingin melanjutkan pekerjaan petani, sebagai kehormatan dari orang tua yang harus diteruskannya. Jalan yang tidak mudah diambil oleh orang lain, khususnya generasi muda.
Matanya berbinar, mengenang martabat pekerjaan sang ayah sebagai petani. Ingatan yang selalu terjaga. Dengan cerita indah, ketelatenan sang ayah mengolah tanah. Tak kurang, tak lebih. Akan tetapi cukup untuk bertumbuh, hidup-menghidupi keluarga.
”Saya melihat kondisi orang tua di rumah, sedangkan lahan masih ada. Kalau tidak ada salah satu anaknya yang meneruskan profesi orang tuanya, nanti ladangnya bagaimana? Padahal orang zaman dahulu itu sudah ’ngrekosoni’ (susah payah) untuk memiliki ladang,” kata dia.
Keputusan menjadi petani, tak seketika sembrono datang. Ada rasa yang timbul di hati. Dahulu, saat libur dari pendidikan di pondok di pesantren, Man sering ke ladang untuk membantu orang tuanya. Baik mencangkul, menyemprot pestisida, dan lain-lain. Didikan ini dirasakan sangat bermakna, dan bernilai. Menjadi pondasi arah tujuannya hari ini.
Satu hal, ada prinsip yang pernah disampaikan sang ayah. Dalam bahasa Jawa berbunyi ‘Sing penting wong tani urip ning ndeso iso macul, dene sesuk iku sampeyan gede dadi wong mulya sing penting iso macul’. Bila diartikan singkat ’Yang penting jadi orang tani di desa itu harus bisa mencangkul, walaupun suatu saat menjadi orang sukses yang penting bisa mencangkul’.

Garap Konsep Pertanian Sirkular
Ilmu dan ketekunan Aman memang belum sebesar petani senior, ataupun ayahnya. Justru hal ini menjadi tugas besar baginya. Dia ingin menerapkan dunia pertanian yang sirkular. Mengombinasikan kebutuhan pupuk kimia, dan pupuk kandang untuk tanaman.
Setidaknya saat ini, dia memelihara sekira 20-an kambing. Kotoran hewan digunakan untuk memupuk tanaman hortikultura di ladang. Tanaman jagung miliknya, mulai dibiasakan diberikan gabungan nutrisi dari pupuk kimia dan pupuk kandang.
”Kalau sebelum tanam, saya kasih pupuk kandang. Sebenarnya saling ketergantungan antara pemupukan kimia dan pupuk kandang untuk pemupukan jagung,” ucapnya.
Di sisi lain apabila tanah terus menerus dimanjakan hanya dengan pupuk kimia, maka tidak akan baik untuk karakternya. Dari pengamatannya, tanah menjadi keras dan tak lagi subur alami. Maka perlu keseimbangan.
Belakangan, lanjut Aman, harga jagung sedang bagus. Kadang petani bisa menjual jagung pipilan seharga Rp6.000-Rp6.500. Angka yang dirasa melegakan hati. Apalagi, kekecewaan petani kerap kali timbul dari harga panen yang tidak sepadan dari jerih payah menanam.
Pada arah yang sama, harga pupuk subsidi juga sudah lebih murah 20% ketimbang sebelumnya. Kondisi ini, harap dia, akan menjadi energi dan motivasi tersendiri bagi petani muda di Indonesia.
Tuntutan digitalisasi dalam penyaluran pupuk bersubsidi dinilai sudah cukup menjawab kebutuhan generasi muda petani. Tentunya hal ini akan menjadi kebanggaan, dan mampu merawat kehormatan petani. Swasembada pangan berada di pundak generasi muda kedepan.

i-Pubers, Digitalisasi untuk Keadilan Akses Pupuk Subsidi
Kementerian Pertanian dan PT Pupuk Indonesia, telah meluncurkan aplikasi Integrasi Pupuk Bersubsidi (i-Pubers). Dirilisnya wadah digital ini digunakan untuk memantau, mencatat dan mengatur distribusi pupuk subsidi di seluruh Indonesia. Tidak lagi manual, setiap transaksi akan tercatat jelas, sehingga pemerintah dapat mengawasi langsung distribusi pupuk dari hulu hingga hilir.
Ganang Aswin (32), petani muda asal Desa Purwosari, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, juga merasakan dampak digitalisasi penyaluran pupuk bersubsidi. Menurutnya, untuk menebus pupuk subsidi, petani hanya perlu membawa kartu tani yang sudah terdaftar pada RDKK.
”Untuk pembelian, sudah tidak ribet lagi kayak dulu. Kan sebelumnya ribet, harus ada prosedur-prosedurnya seperti itu. Sekarang kalau saya cukup memakai kartu tani. Enggak perlu surat ini itu. Tinggal gesek (kartu), ada kuota diambil gitu,” ucapnya.
Ketersediaan pupuk subsidi dan aksesnya menjadi penting. Meski demikian, Ganang mengatakan, perlu kombinasi pupuk kimia dan pupuk kandang dalam bertani. Ini sangat dibutuhkan tanaman pada masa pertumbuhannya. Tidak boleh terlambat.
”Kebutuhannya kondisional, tergantung jumlah tanaman. Saya mengombinasikan pupuk kimia dan pupuk kandang, supaya juga bisa menjaga kestabilan kesuburan tanah,” ucap petani hortikultura itu
Kemudahan metode digitalisasi tersebut direstui Fatkhul Arif, Pelaksana lapangan Usaha Dagang (UD) Jambul, Desa Pucang, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Inovasi itu diakuinya berdampak pada serapan pupuk bersubsidi oleh petani yang cukup signifikan hingga penghujung tahun 2025.
”Pupuk NPK Ponska sekitar 95% serapannya. Kalau Pupuk Urea kurang lebih 85%. Jadi harapannya petani agar segera menebusnya. Sayang kalau tidak diambil, karena sekarang aturannya sudah sangat dipermudah,” ucapnya.
Arif bilang, PPTS UD Jambul bertugas melayani 20 kelompok tani di empat desa di Kecamatan Secang. Di antaranya Desa Pucang, Purwosari, Donorojo, dan Secang. Butir-butir nutrisi tanaman itu berguna pada komoditas tanaman pangan unggulan setempat. Di antaranya padi dan tanaman hortikultura seperti jagung, ketela, hingga cabai.
Lebih lanjut, sebagai pelaksana lapangan, Arif harus memiliki strategi dalam mendistribusikan pupuk langsung ke tangan petani. Dia bekerja keras menyosialisasikan kemudahan pembelian pupuk agar terdistribusi ke sawah dan ladang-ladang petani. Salah satunya menyediakan fasilitas angkut dan antar, bekerja sama dengan kelompok tani setempat.
Pupuk telah menjadi salah satu instrumen vital menjaga kehidupan petani. Butir-butir pupuk itu ialah hak mereka. Akan sangat tidak adil, bila ketersediaannya tidak tepat sasaran.
Sejauh ini, dikatakan Arif, digitalisasi penyaluran pupuk subsidi melalui aplikasi i-Pubers cukup efektif dan tepat sasaran. Jejak digital penebusan pupuk subsidi oleh petani terpantau betul. Dengan begitu, jatah pupuk subsidi petani tidak akan diambil oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Layanan ini diharapkan mampu memberikan jawaban bagi petani muda dari kalangan milenial maupun gen z yang berniat terjun di dunia pertanian. Mereka akan menjadi pewaris utama dalam menjaga kehormatan profesi petani. Sekaligus menafkahi bangsa ini dengan ketahanan pangannya.
“Para petani menyambut dengan senang hati dan gembira. Kalau dari sisi laporan sekarang lebih enak, karena sudah digitalisasi ya. Sebelumnya yang manual, sekarang lebih simpel lebih gampang dengan memakai handphone (gawai). Jadi terobosan i-Pubers pakai KTP itu sangatlah membantu,” kata Arif.

Serapan Pupuk Tinggi, Hasil Panen Melimpah
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, realisasi serapan pupuk bersubsidi pada 2025 di provinsi ini cukup apik. Angkanya mencapai 93,61% hingga 29 Desember 2025.
Rinciannya khusus untuk Pupuk Urea, dari alokasi 735.139.000 kg telah terdistribusikan ke petani mencapai 662.415.618 kg. Kemudian untuk Pupuk NPK Phonska dari alokasi 634.567.000 kg, telah terserap 626.261.314 kg. Secara umum ada lima jenis pupuk bersubsidi yakni Pupuk Urea, NPK Phonska, ZA, NPK Khusus, dan Organik Petroganik.
Frans bilang, angka serapan pupuk subsidi itu telah berkontribusi searah pada hasil panen yang mampu bertambah ruah. Bahkan, hasil panen komoditas padi, jagung, dan kedelai dari Jawa Tengah berkontribusi tiga besar nasional.
“Untuk padi, kontribusinya terhadap nasional nomor tiga. Jagung, kontribusinya terhadap nasional nomor dua, dan kedelai kontribusinya terhadap nasional nomor satu,” katanya.
Datanya, luas tanam padi di Jawa Tengah pada 2024 sebanyak 1.910.391 hektare menjadi 2.025.782 hektare pada 2026. Hasil produksi gabah kering panen (GKP) pada 2024 yakni 8.891.297 ton menjadi 9.397.904 ton pada 2025. Naik 5.066 ton, atau meningkat 0,06%.
Kemudian, luas tanam Jagung sebanyak 625.856 hektare pada 2024 menjadi 585.140 hektare. Hasil produksinya dari 3.282.384 ton menjadi 3.560.447 ton. Naik 2.781 ton, atau 0,08%.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkiraan produksi beras secara nasional sepanjang Januari–Desember 2025 akan mencapai 34,77 juta ton. Angka ini meningkat 4,14 juta ton atau naik 13,54 persen dengan perbandingan periode yang sama tahun 2024.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji ismartini, mengatakan, angka itu dicatatkan dari data potensi luas panen padi Januari-Desember 2025 yang mencapai 11,35 juta hektare. Atau meningkat sebesar 12,98 persen dibandingkan Januari-Desember 2024.
”Produksi padi gabah kering giling (GKG) pada Januari-Desember 2025 diperkirakan mencapai 60,34 juta ton, atau meningkat sebesar 13,55 persen dibandingkan Januari-Desember 2024,” katanya, Senin, 3 November 2025, melansir laman Kementerian Pertanian.

Meringkas Gemuknya Aturan Distribusi Pupuk
Hasil produksi yang bertambah ruah itu, disebut Pudji, diawali dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat sektor hulu-hilir. Salah satunya memudahkan proses penyaluran pupuk bersubsidi yang tepat sasaran, transparan, serta akuntabel.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, dahulu benang kusut distribusi pupuk harus melalui keputusan 12 menteri, 38 gubernur, dan 514 bupati/wali kota. Totalnya menggemuk 145 regulasi.
”Sekarang, cukup dari Kementerian Pertanian langsung ke pabrik. Pabrik langsung ke petani,” katanya dalam konferensi pers di kantor Kementan, Jakarta, Rabu 22 Oktober 2025.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan, perseroan mengalokasikan jatah 9,55 juta ton pupuk bersubsidi pada 2025. Jumlah itu harus segera terserap oleh petani dengan segala aspek kemudahan penebusannya.
“Tidak hanya tata kelola korporasi, perusahaan juga melakukan pembenahan-pembenahan pada tata kelola penyediaan pupuk. Untuk itu kami mendorong petani di seluruh Indonesia dapat mengoptimalkan penebusan pupuk bersubsidi yang tahun ini dialokasikan pemerintah sebesar 9,55 juta ton,” kata Rahmad, dinukil dari rilis pada laman PT Pupuk Indonesia, Senin, 20 Oktober 2025.
Perusahaan, lanjut Rahmad, menjalankan amanah penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan tata kelola baru yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi, serta Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 15 Tahun 2025 sebagian peraturan pelaksanaannya.
Dengan demikian, tugas PT Pupuk Indonesia dalam setiap jengkal pendistribusiannya dipastikan harus sesuai dengan prinsip 7T, yaitu tepat jenis, jumlah, harga, tempat, waktu, mutu, dan penerima.
Perbaikan tata kelola telah dilakukan perseroan melalui implementasi sistem digitalisasi di sepanjang jalur proses bisnis PT Pupuk Indonesia. Dimulai dari pabrik, kios pengecer atau PPTS, hingga di tangan petani. Tiap butir pupuk subsidi yang dimanfaatkan petani, diharapkan akan memberikan hasil yang melimpah ruah untuk capaian swasembada pangan bangsa. (*)
Diaz Azminatul Abidin













