JNE
Direktur PT Moko Garment Indonesia, Ryan Muhammad, mempercayakan pengiriman produk kepada JNE ke seluruh daerah bahkan hingga pedalaman. foto : hery priyono

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Bagi sebagian orang, tempat kerja tak lebih dari sekadar pelataran untuk menukar keringat dengan selembar rupiah. Namun, bagi Kamsani (55 tahun), setiap sudut ruang cutting PT Moko Garment Indonesia adalah bagian dari detak jantungnya sendiri.

Pria paruh baya asal Kendal ini adalah saksi hidup dari sebuah keajaiban kecil yang bermula belasan tahun lalu, sebuah bukti bahwa kesetiaan dan kerja keras selalu menemukan jalan pulangnya.

Kembali ke tahun 2012, langkah kaki Kamsani terasa berat. Usai menyudahi nasib sebagai perantau di Batam, ia pulang ke Jawa Tengah dengan tangan hampa.

Berbulan-bulan menganggur di kampung halaman membuat batinnya bergolak. Di tengah ketidakpastian itu, garis nasib menuntunnya mengetuk sebuah pintu usaha konveksi rumahan milik seorang pria yang akrab disapa Pak Moko di sekitaran Mangkang Semarang.

“Dulu pertama saya pulang kerja dari Batam itu nganggur dulu, terus saya cari-cari kerja di sekitar sini. Hingga akhirnya saya diarahkan untuk datang ke tempat Pak Moko,” kenang Kamsani, matanya menerawang mengingat masa-masa sulit itu.

Saat itu, jangankan membayangkan sebuah pabrik modern, PT Moko Garment Indonesia hanyalah sebuah ruang sempit berukuran 3×3 meter. Rintisan tersebut dimulai dari sebuah kamar milik orang tua oleh dua orang adik kakak Budi Turmoko dan Ryan Muhammad.

Bermodalkan uang Rp5 juta, keduanya membeli dua mesin jahit konveksi secara tunai dan satu mesin bordir untuk memulai produksi.

Dari kamar rumah milik orang tua keduanya yang berprofesi sebagai petani tersebut, Kamsani dan seorang rekannya, Salim, menjadi dua penjahit pertama. Mereka berdua adalah fondasi awal dari sebuah mimpi besar.

Sebagai angkatan pertama, Kamsani langsung bekerja mengandalkan jemari tuanya tanpa perlu pelatihan. Dulu, sebelum teknologi mengambil alih, tanggung jawab besar dipikul di pundaknya.

Di tahun 2012 di awal berdirinya Moko Garment, dirinya harus memulai pola pakaian secara manual di atas lembaran kain besar, memotongnya dengan presisi tinggi demi sepotong seragam jadi.

Kini, zaman telah berganti. Mesin plotter dan cutting canggih telah berdiri di pabrik modern mereka di Karanggayam Semarang. Namun, posisi Kamsani tak tergantikan, dirinya tetap dipercaya penuh di bagian cutting.

Belasan tahun dedikasi itu kini telah berbuah manis. Upah dari keringatnya di Moko Garment tidak hanya mampu menghidupi istri dan kedua anaknya, tetapi juga mengantarkan anak sulungnya ke pelaminan.

Sementara itu, anak bungsunya, kini tengah menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas negeri di Surabaya.

Kehangatan tempat kerja ini kian lengkap karena sang istri, Purwanti, juga ikut bergabung di bawah atap yang sama sebagai kepala bagian produksi. Bagi Kamsani, tempat ini bukan lagi sekadar ladang mencari sesuap nasi.

“Kerja di sini alhamdulillah senang. Rasanya sudah kayak rumah sendiri, ada keinginan kuat untuk terus memajukan perusahaan ini,” ungkap Kamsani dengan mata penuh rasa syukur.

JNE
Komisaris PT Moko Garment Indonesia, Budi Turmoko, memperlihatkan safety work uniform produksinya yang pemasarannya merambah hingga mancanegara. foto : hery priyono

Perjuangan tidak mengkhianati hasil. Direktur PT Moko Garment Indonesia, Ryan Muhammad, masih ingat betul bagaimana perihnya merintis bisnis garmen ini dari titik nol tanpa latar belakang industri tekstil sama sekali.

Pada masa-masa awal, dirinya bersama sang kakak kerap menelan pil pahit. Berjalan dari pintu ke pintu menawarkan seragam ke berbagai korporasi secara door-to-door mereka lebih sering diusir sebelum sempat menjelaskan produk.

“Dulu, belum sampai memegang gagang pintunya saja kami sudah ditolak. Tapi sekarang keadaan berbalik, perusahaan-perusahaan yang dulu menolak kini kami sambut dengan pintu terbuka untuk bekerja sama,” katanya.

Kunci pembalikan nasib itu ada pada keberanian berselancar di arus digital. Melalui online web dan media sosial, Moko Garment berhasil menjaring pasar premium.

Kini, dari kamar kecil 3×3 meter itu, Moko Garment menjelma menjadi raksasa yang memproduksi 10.000 potong pakaian per bulan mulai dari wearpack, overall, hingga kemeja taktis safety kelas premium melalui brand Moko Workwear dan Moko Uniform.

Bukan hanya merajai pasar domestik, racikan material premium hasil riset mandiri mereka kini telah terbang tinggi hingga ke Malaysia, Singapura, Taiwan, Oman, bahkan menembus pasar Eropa hingga ke negara Siprus.

Di satu sisi, tantangan makro seperti regulasi pemerintah dan fluktuasi nilai tukar mata uang memang kerap membayangi langkah Budi dan Ryan. Namun, api optimisme di dalam pabrik itu terlanjur menyala besar.

“Bagi kami para pengusaha, sebenarnya tidak perlu muluk-muluk dibantu. Yang penting regulasi jangan mempersulit dan biarkan ekosistem bisnis lokal tumbuh mandiri,” kata Budi.

Bagi Budi dan Ryan, mendirikan usaha garmen tersebut target jangka panjangnya sangat jelas, yaitu menjadi brand workwear nomor satu di Indonesia yang siap diadu di kancah global.

Walaupun begitu, meski sayap bisnisnya telah mengepak hingga ke Timur Tengah, Budi dan sang adik tidak melupakan bumi tempatnya berpijak. Sekitar 60% dari 100 karyawan mereka adalah warga lokal sekitar Semarang yang diajari menjahit dari nol secara gratis.

Bahkan, Moko Garment menerapkan sistem “tentakel produksi”, sebuah konsep humanis di mana para mantan karyawan senior diberdayakan untuk membuka konveksi mandiri di rumah masing-masing dengan jaminan standar kualitas yang tetap terjaga.

Tidak hanya itu saja, mereka juga menggandeng lima SMK di Jawa Tengah, termasuk SMKN 1 Kendal, untuk menjadi laboratorium bisnis nyata bagi anak-anak muda magang mempraktekkan dan belajar cara produksi usaha garmen.

Walau begitu, mengirimkan ribuan potong pakaian dari Semarang ke pelosok Nusantara hingga pedalaman Papua dan wilayah pelosok lainnya bukanlah perkara mudah.

Di sinilah jembatan mimpi itu terhubung lewat kehadiran perusahaan pengiriman logistik PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Setiap sore, armada JNE setulus hati datang melakukan penjemputan paket (pick-up) harian di pabrik Moko Garment. Sinergi ini merupakan bagian dari komitmen besar JNE Semarang dalam menyokong urat nadi UMKM lokal.

Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, menyebutkan bahwa sektor retail dan socio-commerce seperti Moko Garment menyumbang hampir 60% dari total lalu lintas pengiriman di Semarang.

“Untuk memastikan paket-paket seperti milik Moko Garment sampai dengan selamat ke tujuan, JNE Semarang menyiagakan 600 personel dan lebih dari 100 armada transportasi setiap harinya,” kata Wahyu.

Bahkan, bagi pelaku usaha yang kewalahan mengelola stok dan pengemasan, JNE kini menghadirkan layanan Fulfillment Service—sebuah solusi logistik pihak ketiga (3PL) yang mengambil alih kerumitan pergudangan dan pengemasan dengan biaya murah, bahkan menyediakan fasilitas uji coba gratis.

Hery Priyono