blank
Duta Genre Kota Semarang, Harlan A Ganur dan Fadhilah Aulia, saat memberikan pemaparan tentang HIV/AIDS. Foto: dok/usm

SEMARANG (SUARABARU.ID)- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pusat Informasi dan Layanan Konseling (Pilus) Universitas Semarang (USM), belum lama ini menyelenggarakan acara Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2025, di Ruang BEM yang ada di Menara USM Lantai 4.

Kegiatan yang mengambil tema ‘Malam Diam, Hati Bicara: Melawan Stigma, Memulihkan Harapan’ itu, diikuti anggota internal UKM Pilus. Kegiatan ini dibuka Ketua Panitia, Zahra Aulia Ramadhani.

Dalam sambutannya, Zahra memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta, yang telah mengikuti kegiatan ini. Dia berharap, melalui MRAN 2025, peserta dapat menjadi lebih peka dan empati terhadap pejuang HIV/AIDS.

BACA JUGA: Petenis Meja USM Berjaya di Airlangga Open Series VII/2025

”Kami menggandeng Duta Genre Kota Semarang, Harlan A Ganur dan Fadhilah Aulia, untuk memberikan pemaparan tentang HIV/AIDS, penularan, pencegahan, serta pentingnya dukungan sosial terhadap ODHA,” katanya.

Respons peserta terhadap acara ini ternyata cukup tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan dalam sesi diskusi, yang membahas pencegahan HIV/AIDS, pemahaman ilmiah, serta dampak stigma sosialnya.

Harlan berharap, melalui sesi materi, diskusi, dan renungan malam, peserta belajar untuk memahami lebih dalam tentang HIV/AIDS, bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

BACA JUGA: Rektor USM Berharap Mahasiswa Siap Hadapi Era Society 5.0

Selain itu juga, menghapus stigma, menumbuhkan empati, serta membangun lingkungan kampus yang inklusif, merupakan langkah kecil yang berdampak besar.

Sesi Renungan Malam menjadi puncak kegiatan, di mana ruangan dibuat gelap, lilin dinyalakan sebagai simbol harapan, kesyahduan suasana menggambarkan dukungan moral terhadap mereka yang hidup dengan HIV/AIDS, dan para korban yang telah meninggal dunia.

Peserta kemudian menuliskan pesan empati untuk ODHA, melalui sticky notes yang ditempelkan pada papan yang sudah disediakan. ”Kami mengajak para peserta, untuk menghentikan stigma, memupuk empati, dan membangun kampus inklusif,” ungkapnya.

Riyan