blank
Sejumlah wisatawan asal Yogyakarta, saat menikmati Tengkleng Bu Surati Pasar Gede Solo, yang disajikan di pincuk daun pisang.(SB/Bambang Pur)

SURAKARTA (SUARABARU.ID) – Ada sentuhan sensasi tersendiri tatkala menikmati menu kuliner Tengkleng dengan pincuk daun pisang (pengganti piring). Apalagi disajikan dalam kondisi panas, lengkap dengan nglethus (menggigit) lombok (cabe) yang masih disertakan dengan tangkainya dan ikut dimasak dalam panci kuah Tengkleng.

Kesannya spesifik, nikmat, alami dan khas. Apalagi saat ngrokoti atau ngrikiti (menggigit daging yang menempel pada tulang), yang harus dipegang memakai tangan. Terlebih lagi ketika menyedot sungsum dari lubang tulang, mak sruuuup….yang diselingi menikmati irisan daging atau jerohan dari sundukan layaknya sate disujen (ditusuk).

Ingin mencoba ? Datang saja ke Kota Solo, Jawa Tengah. Menu Tengkleng yang disajikan memakai pincuk daun pisang, mudah dijumpai hampir di pusat-pusat keramaian. Seperti di Pasar Gede atau utara Pasar Klewer. Di Pasar Gede, setidak-tidaknya ada Tengkleng Bu Surati, Mbak Janti dan Mbak Retno.

Di utara Pasar Klewer ada Tengkleng legendaris Bu Edi (sudah menurun ke generasi kedua), yang awalnya berjualan di dekat Gapura Plengkung Pasar Klewer, dan sekarang pindah ke sebelah utaranya. Yakni berdampingan dengan Masjid Besar Keraton Surakarta.

Tengkleng adalah makanan tradisional khas Solo. Yakni sejenis sup berbahan utama tulang dan kepala kambing serta jerohan. Cara memasaknya tidak memakai santan. Kuahnya bening, memancarkan aroma yang menggugah rasa lapar.

Dimasak dengan bumbu tradisional aneka macam rempah-rempah. Seperti jahe, kunyit, lengkuas, daun salam, daun jeruk, kayu manis, kemiri, bawang merah dan putih, jinten, pala, cengkih kering dan garam dapur.

Wong Cilik

Tulang kambing yang dimasak tengkleng, masih ada sedikit-sedikit daging yang menempel, seperti pada tulang iga, kepala dan kaki. Juga menyertakan jeroan (babat dan iso) dan otak. Dilengkapi dengan irisan daging yang ditusuk layaknya sate.

blank
Tengkleng Bu Edi Pasar Klewer Surakarta, menu kuliner khas Solo yang disajikan di pincuk daun pisang.(SB/Bambang Pur)

Menur kuliner wisata khas Kota Bengawan ini, memiliki sejarah panjang yang lahir di masa sulit pangan pada penjajahan Belanda. Sajian daging kambing yang dibuat sate, tongseng dan gulai, waktu itu hanya diperuntukkan bagi tuan dan nyonya serta noni Belanda, atau untuk Raja dan Bangsawan Keraton saja.

Kawula alit (wong cilik), kemudian berkreativitas membuat Tengkleng, dengan memanfaatkan bahan dari tulang, kepala, kaki serta jerohan kambing, Kreativitas masak Tengkleng ini, awalnya muncul di Pesanggrahan Raja di Pengging Boyolali, Jawa Tengah.

Kok dinamakan Tengkleng ? Ini berawal dari bunyi kleng, kleng…..yang muncul saat tulang Tengkleng bersentuhan dengan piring seng (bukan keramik) sebagai tempat makan wong cilik.

Dalam perkembangannya, Tengkleng menjadi menu kuliner yang banyak digandrungi masyarakat. Alasannya ? ”Sisa daging yang menempel tulang, itu nikmatnya luar biasa,” ujar sejumlah penggemar Tengkleng.

Karena memiliki penggemar, berdampak pada harga Tengkleng tidak dapat dikatakan murah. Seporsi Tengkleng yang dijual Bu Surati di Pasar Gede dan Bu Edi di Pasar Klewer dipasang harga Rp 50 ribu. Di Tengkleng Mbak Retno Pasar Gede Rp 40 ribu. Bu Surati dan Mbak Retno juga melayani pesanan setiap panci Rp 1,7 juta dan Rp 1,6 juta. Satu panci, bisa untuk 50 sampai 60 porsi saat dihidangkan sebagai jamuan tamu.(Bambang Pur)