JEPARA (SUARABARU.ID) – Kelompok Kerja Guru (KKG) Dabin 1 Kecamatan Bangsri me-launching buku kompilasi Dari Pena Guru untuk Murid. Peluncuran dilakukan di SDN 5 Bangsri pada Kamis (27/11/2025).
“Ini merupakan bagian dari kegiatan literasi yang menjadi agenda puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT Ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-80 di lingkungan KKG kami,” kata Ketua KKG A. Saihu, S.Pd.
Kegiatan literasi itu dikemas dalam bentuk Lomba Menulis Surat untuk Murid. Naskah lomba itulah yang kemudian dibukukan, lalu ciluncurkan. Acara peluncuran dihadiri Ketua PGRI Kabupaten Jepara Darono Ardi Widodo, S.Pd.Ind., semua penulis, dan seluruh unsur yang mengisi ruang dalam buku kompilasi.
“Lomba Menulis Surat untuk Murid dan peluncuran buku ini, menjadi wujud apresiasi terhadap dedikasi para pendidik sekaligus sarana untuk meningkatkan kembali minat menulis di kalangan guru se-Dabin 1,” tambahnya.
Dia menekankan, perkembangan dunia pendidikan dewasa ini menuntut guru untuk tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai agen literasi yang mampu memberikan teladan dalam membaca dan menulis. Lomba menulis surat dipilih sebagai bentuk ekspresi yang paling dekat dengan dunia pendidikan, karena melalui surat guru dapat menyampaikan pesan, harapan, motivasi, bahkan refleksi mendalam kepada murid.
Kegiatan ini juga bertujuan memfasilitasi guru untuk kembali membangkitkan minat menulis, menggali kreativitas, serta membangun komunikasi emosional antara guru dan murid melalui karya tulis. Tema yang dipilih dalam kegiatan untuk seluruh kepala sekolah, guru kelas, dan guru mata pelajaran se-Dabin 1 adalah “Ekspresikan Kreativitas dan Perasaan Lewat Surat untuk Murid.”
“Tema ini memberikan ruang bagi pendidik untuk mengekspresikan isi hati dan gagasan mereka melalui tulisan yang komunikatif, inspiratif, dan menyentuh. Antusiasme peserta sangat tinggi, terbukti dengan masuknya 57 karya dari berbagai sekolah di wilayah Dabin 1,” lanjutnya.

Seluruh karya mendapatkan penilaian objektif oleh tiga juri yang memiliki kompetensi dan latar belakang pendidikan memadai, yaitu Trisnindyati, S.Pd. (Kepala SDN 2 Krasak), Zulistyani, S.Pd. (Kepala SDN 5 Bangsri), dan Anita Isasjani, S.Pd. (Guru SDN 1 Kedungleper). Aspek penilaian mencakup isi dan kesesuaian tema (40%); ketulusan, emosi, dan kreativitas (35%); serta kerapian dan kaidah kebahasaan (25%).
Tiga peserta terbaik yang ditetapkan sebagai pemenang adalah Yuwida Romanda Saktilia, S.Pd. (SDN Kepuk 1), Maimun, S.Pd. (SDN 3 Krasak), dan Deny Sugiyarto, S.Pd.SD (SDN 1 Krasak).
Kumpulan surat dalam buku Dari Pena Guru untuk Murid, masing-masing mencerminkan karakter, ide, dan nilai pendidikan yang berbeda. Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa bagian penting sebagai wujud penghargaan dan dukungan dari berbagai pihak. Sambutan buku diberikan Ketua PGRI Kabupaten Jepara, Darono Ardi Widodo, S.Pd.Ind., dan Koordinator Satkordik Kecamatan Bangsri, Yatena, S.Pd., M.M.
Dalam sambutannua, Darono Ardi Widodo, S.Pd.Ind. menyampaikan apresiasinya. Dia juga berharap agar kegiatan literasi seperti ini terus dikembangkan. Sementara Yatena, S.Pd., M.M. menekankan pentingnya kreativitas guru dalam menjalankan tugas profesional. Sedangkan dalam Sekapur Sirih, Ketua KKG A. Saihu, S.Pd menjelaskan latar belakang kegiatan serta proses penyusunan buku kompilasi.
Buku ini juga dilengkapi testimoni dari empat tokoh pendidikan, yaitu Lukman Khakim, S.Pd. (Ketua PGRI Cabang Bangsri), Sutanti, S.Pd. (Ketua Dabin), dan Edi Asroni, S.Pd. (Kepala SD) dan Sabsriwinarti (Pengurus KKG).
Selaku oengurus KKG, Sabsriwinarti menyebut, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi karya tulis guru, tetapi juga menjadi simbol sinergi berbagai elemen pendidikan dalam mendukung gerakan literasi. Lomba menulis surat dan penerbitan buku kompilasi ini, dia sebut memiliki makna strategis bagi peningkatan profesionalisme guru. Melalui kegiatan ini, tampak tiga dampak utama yang memberi kontribusi bagi dunia pendidikan di Dabin 1.
Pertama, kegiatan ini memperkuat budaya literasi guru. Guru memperoleh ruang untuk mengekspresikan gagasan dan refleksi melalui tulisan yang bermakna. “Seperti dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, ‘Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.’ Melalui tulisan, guru telah menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi di kelas, tetapi juga melalui kata-kata yang menginspirasi,” kata Sabsriwinarti.

Kedua, kegiatan ini membentuk embrio komunitas menulis yang hidup di lingkungan Dabin 1. Semangat dan antusiasme para guru membuktikan bahwa menulis bukan hanya kemampuan, tetapi juga aktivitas kolektif yang mempererat kebersamaan. Komunitas ini diharapkan menjadi wadah berkelanjutan untuk saling berbagi, belajar, dan berkarya.
Dan ketiga, kegiatan ini meningkatkan komunikasi edukatif antara guru dan murid. Melalui surat-surat yang penuh motivasi dan pesan moral, hubungan emosional dan spiritual antara guru dan murid semakin kuat. Tulisan-tulisan tersebut menjadi jembatan hati yang menyampaikan harapan, perhatian, dan doa yang tulus dari seorang guru.
“Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan karya tulis, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mengembangkan budaya menulis, memperkuat profesionalisme guru, serta menegaskan bahwa guru tetap menjadi sosok inspiratif bagi murid-muridnya. Dengan terlaksananya kegiatan ini, semangat literasi diharapkan terus tumbuh dan berkembang sehingga guru semakin mampu menciptakan karya-karya baru yang memberi manfaat luas bagi dunia pendidikan,” tandasnya.
Hadepe – Sabsri













