blank
Ziarah massal MTs Ismailiyah Nalumsari Jepara.

JEPARA (SUARABARU.ID)- Di pagi yang masih berkabut tipis, Senin, (24/11/2025), halaman MTs Ismailiyah Nalumsari, Jepara, berubah menjadi titik awal sebuah perjalanan spiritual. Ratusan siswa berbaris rapi, sementara para guru dan anggota Banser GP Ansor Nalumsari memeriksa kesiapan rombongan.

Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini dipilih sebagai momentum untuk kembali menapak jejak para pendiri madrasah. Sebuah tradisi yang telah lama hidup, namun kali ini digelar dalam skala paling besar dalam beberapa tahun terakhir.

Sekitar pukul delapan pagi, deretan 15 kereta odong-odong mulai bergerak pelan meninggalkan kawasan madrasah. Kendaraan penuh warna itu, yang biasanya menjadi hiburan anak-anak di pasar malam, berubah menjadi armada peziarah.

Sebanyak 500 peserta memenuhi kursi-kursinya, menghadirkan pemandangan konvoi unik yang menarik perhatian warga sepanjang jalan Nalumsari. Dari atas odong-odong, tawa ringan siswa bersahut-sahutan, namun suasana tetap dikawal dalam ketertiban.

Tujuan pertama tidak jauh, kompleks pemakaman KH Dimyati Ismail, tokoh sentral pendiri madrasah yang namanya kini diabadikan sebagai identitas lembaga pendidikan itu. Letaknya hanya selemparan batu dari gerbang madrasah, namun maknanya tak terbilang. Di sinilah ziarah dimulai, dengan guru memimpin doa, sementara para siswa berdiri berjajar memandangi nisan sang kiai yang menjadi cikal bakal perjalanan panjang Ismailiyah.

Di kompleks itu pula para peserta menyempatkan diri berziarah ke makam tokoh penting lainnya, meliputi Habib Ahmad Al-Jufri, H. Asy’ari Ubaidillah, H. Sholikhul Hadi, dan H. Abdul Aziz. Deretan nama yang tersimpan dalam ingatan kolektif madrasah itu menjadi pengingat bahwa sebuah lembaga pendidikan tak dibangun oleh satu dua tangan saja. Para peserta saling bergantian membaca tahlil, dan para guru mengisahkan kembali kiprah para figur tersebut, dari pengajaran, pembinaan, hingga penjagaan tradisi ilmu.

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke pemakaman Desa Karangnongko. Odong-odong yang bergerak pelan menimbulkan dengung mesin dan musik ringan yang mengalun sepanjang rute, menciptakan kontras dengan khidmatnya agenda hari itu.

Di Karangnongko, rombongan disambut keteduhan pepohonan besar yang menaungi makam K. Rasifan Afroni dan Ibu Mastoya. Siswa kembali menundukkan kepala, memanjatkan doa singkat untuk para pendidik yang pernah mengorbankan waktu dan tenaga demi madrasah.

Perjalanan berlanjut menuju pemakaman Desa Muryolobo. Di tempat itu, terdapat makam seorang guru bernama Nur Said, sosok yang disebut-sebut sangat dekat dengan siswa dan dikenal mengajarkan disiplin tanpa harus meninggikan suara. Guru-guru memanfaatkan momen ini untuk memberi penjelasan singkat, menjadikan ziarah sebagai ruang belajar di luar kelas, tentang sejarah lokal dan makna pengabdian.

Makam berikutnya berada di Desa Pringtulis, tepat di belakang masjid setempat. Nama H. Chandiq tidak asing bagi banyak alumni. Ia dikenal aktif menggerakkan TPQ, Madrasah Diniyah, dan sejumlah majelis taklim di wilayah itu. Para peserta memasuki area pemakaman dengan langkah lebih perlahan. Dari kejauhan terdengar lantunan doa yang dipimpin salah satu guru senior, sementara kerumunan siswa berdiri melingkar dalam keheningan yang nyaris total.

Di sela perjalanan, Khalim, ketua panitia sekaligus wakil kepala bidang kesiswaan, menyampaikan bahwa tradisi ziarah seperti ini bukan sekadar ritual tahunan. “Kami menyesuaikan momentum. Bisa Hari Santri, Hari Pahlawan, atau seperti sekarang, Hari Guru. Intinya, kami ingin anak-anak memahami bahwa madrasah ini berdiri dari pengorbanan orang-orang yang tidak lagi terlihat,” ujarnya. Menurutnya, ziarah massal menjadi cara efektif menanamkan rasa hormat pada tradisi keilmuan.

Khalim juga menekankan bahwa kegiatan semacam ini memperkuat jaringan sosial di lingkungan madrasah. Keterlibatan Banser, guru, dan siswa membuat perjalanan tersebut terasa sebagai perpaduan antara silaturrahim dan refleksi. “Ini silaturrahim lahir dan batin. Mereka belajar tentang akar madrasah, tapi juga merasakan kebersamaan yang memperkuat karakter,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Habib Sholeh Al Jufri, yang juga menjabat Ketua MWCNU Nalumsari, Madrasah Ismailiyah kini menampung sekitar 450 siswa dari berbagai jenjang. Pertumbuhan madrasah yang stabil, ditambah konsistensi menghidupkan tradisi seperti ziarah, memperlihatkan bahwa identitas kultural tetap menjadi fondasi penting di tengah modernisasi pendidikan. Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini menutup perjalanan dengan kesadaran bersama: bahwa guru bukan hanya mereka yang hadir di kelas hari ini, tetapi juga mereka yang telah lama pergi, namun jejaknya tak pernah hilang.

ua