blank

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Dalam suasana akademik yang hangat dan penuh antusias, widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah, Muh Khamdan, hadir memberikan pendampingan coaching pada kegiatan Seminar Laporan Aktualisasi yang digelar daring oleh Kementerian Pariwisata, Senin (24/11/2025). Pendampingan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan kompetensi sekaligus ruang akselerasi inovasi para dosen, laboran, dan fasilitator pemerintahan yang tengah mengikuti tahapan aktualisasi di lingkungan Kementerian Pariwisata.

Sebanyak 9 peserta dari lingkungan kampus Politeknik Pariwisata Bali menampilkan gagasan-gagasan inovatif yang menggambarkan dinamika pengembangan kepariwisataan saat ini. Mulai dari penguatan akreditasi program studi kepariwisataan, peningkatan publikasi ilmiah dan jejaring internasional, pembenahan arsip dan sarana praktik, hingga strategi optimalisasi PNBP melalui kontrol hotel praktik dan digitalisasi data kepariwisataan. Masing-masing peserta memaparkan proyek aktualisasi yang langsung bersentuhan dengan tugas sehari-hari mereka di kampus.

blank

Dalam sesi coaching sebelumnya, Muh Khamdan menekankan pentingnya membangun pola pikir inovatif yang berkelanjutan. Ia menggarisbawahi bahwa setiap inovasi, sekecil apa pun, memiliki potensi keberlanjutan jika dibingkai dengan kerangka kerja yang sistematis, terukur, dan berbasis kebutuhan riil sektor pariwisata. Selain itu, ia mengajak para peserta untuk memahami dan menindaklanjuti aspek hak kekayaan intelektual sebagai bagian dari tanggung jawab akademik dan profesional.

“Tahap inovasi tidak berhenti pada tahap ide. Ia perlu dilindungi, diperkuat, dan dipublikasikan sebagai kontribusi keilmuan,” tegas Khamdan dalam sesi diskusi dari ruang widyaiswara Badiklat Hukum Jawa Tengah di Semarang. Peserta pun menyambut baik ajakan itu dengan berkomitmen mendaftarkan hak cipta atas karya dan inovasi yang sedang mereka kembangkan.

Salah satu peserta, Luh Putu Kartini, seorang dosen yang mengangkat tema peningkatan akuntabilitas dalam publikasi internasional, kerjasama riset, dan pengabdian masyarakat, menuturkan bahwa pendampingan ini memberinya pemahaman baru mengenai pentingnya dokumentasi akademik yang terstruktur dan terstandardisasi. Menurutnya, kolaborasi dengan widyaiswara dari Badiklat Hukum Jateng, justru memberikan perspektif lain, bahwa kerja-kerja bidang publikasi, riset, dan pengabdian tidak hanya soal kualitas pembelajaran, tetapi juga manajemen data dan perlindungan inovasi kampus.

blank

Sementara itu, Komang Oktari Ariyani, seorang laboran, menampilkan gagasan mengenai penataan alat-alat kitchen untuk praktik kepariwisataan yang selama ini belum terdigitalisasi secara optimal. Ia menyebut, masukan yang diberikan Khamdan membuatnya semakin yakin bahwa sistem digital bukan hanya penata informasi, tetapi juga bentuk pertanggungjawaban layanan publik menuju tata kelola laboratorium pariwisata yang modern dan akuntabel.

Peserta lain, Melati Rahmariyanto, seorang fasilitator pemerintahan, mengangkat inovasi peningkatan PNBP dari kontrol hotel praktik. Ia menekankan pentingnya sistem kontrol yang adil dan valid, mengingat hotel praktik merupakan laboratorium industri yang menjadi titik temu antara pendidikan vokasi dan pengalaman profesional mahasiswa. “Pendampingan coaching ini membantu kami melihat bahwa inovasi teknis perlu selalu disandingkan dengan regulasi yang tepat,” ujar Melati.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Politeknik Pariwisata Makassar, Dr. Herry Rachmat Widjaja, yang bertindak sebagai penguji. Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya implementasi nilai BerAKHLAK sebagai fondasi karakter para pendidik dan penggerak pariwisata nasional. Ia menilai bahwa inovasi para peserta telah menunjukkan arah pembudayaan pelayanan publik yang lebih humanis, akuntabel, dan kolaboratif.

Selain penguji utama, sejumlah co-mentor dari Politeknik Pariwisata Bali turut memberikan testimoni terkait proses pendampingan yang berlangsung sejak Oktober hingga menjelang akhir November 2025. Mereka menilai bahwa pola coaching lintas instansi ini menjadi ruang belajar baru yang mempertemukan pengalaman teknis bidang pariwisata dengan perspektif hukum, tata kelola, dan manajemen publik.

Menutup kegiatan, para peserta menyampaikan apresiasi atas kolaborasi Badiklat Hukum Jawa Tengah dan Politeknik Pariwisata Bali yang dinilai mampu menghadirkan lingkungan pengembangan kompetensi yang inspiratif. Pendampingan coaching ini diharapkan menjadi model pembelajaran inovatif yang tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga menguatkan ekosistem kepariwisataan yang lebih adaptif, profesional, dan siap bersaing secara global.

Hadepe