KUALA LUMPUR (SUARABARU.ID)– Hasil penelitian tim dosen Universitas Semarang (USM), yang menawarkan jawaban konkret atas teknologi sinyal bus prioritas berbasis RFID, yang dirancang khusus untuk simpang rawan macet, terutama di Simpang Sam Poo Kong, Semarang.
Hasil penelitian itu sebelumnya telag dipresentasikan dalam The International Conference on Artificial Intelligence and Its Applications (Icon-AI 2025), di Universiti Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu-Kamis (12-13/11/2025).
Tim Peneliti USM terdiri dari, Ketua Prof Dr Ir Mudjiastuti Handajani MT, anggota Dr Ari Endang Jayati ST MT, Elfira N Ardina ST MTrT, Eko S Hasrito, dan Siti V Octaviany.
BACA JUGA: Mahasiswi USM, Fitrya Juara III Nasional Garuda Science Olympiad 2025
Penelitian itu merupakan hasil kerja sama, antara tim USM yang dipimpin Prof Mudjiastuti dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Prof Mudji, panggilan akrab Prof Dr Mudjiastuti, hasil analisis mendalam terhadap data lalu lintas nyata jumlah kendaraan yakni, panjang antrian, durasi lampu lalu lintas, kecepatan rata-rata, hingga jarak antarbus yang dikumpulkan langsung di lokasi.
Dengan memanfaatkan simulasi canggih berbasis perangkat lunak VISSIM, tim peneliti berhasil merancang sistim pintar yang mampu “mengenali” kedatangan bus umum sebelumnya, lalu secara otomatis memperpanjang waktu lampu lalu lintas warna hiaju, agar bus tidak terjebak di antrean.
BACA JUGA: Ketua LPPM USM Lakukan Monev PKM ‘Robotic Ship Fishery’
”Bisa dibayangkan, sebuah bus Trans Semarang yang sedang menuju halte berikutnya. Saat bus mendekati simpang Sam Poo Kong, sensor RFID yang terpasang di tiang lampu akan mendeteksi keberadaannya,” katanya.
Dia juga menyebutkan, sistim pengendali pintar kemudian memutuskan, jika bus masih jauh dari garis stop, lampu tetap normal. Tetapi jika bus sudah dekat dan antrian panjang, sistim akan meminta izin untuk memperpanjang durasi lampu hijau, selama beberapa detik. ”Ini bukan tentang memberi hak istimewa, melainkan tentang efisiensi,” ujarnya.
Ditambahkannya, dalam dunia transportasi modern, waktu tunggu bus yang terlalu lama, bukan hanya membuat penumpang frustrasi, tetapi juga membuat transportasi massal menjadi tidak menarik. Sehingga mendorong lebih banyak orang beralih ke kendaraan pribadi, yang pada akhirnya justru memperparah kemacetan.
BACA JUGA: 34 Calon Wisudawan Pascasarjana USM Dilepas
Hasil simulasi menunjukkan dampak nyata. Waktu tunggu bus berkurang hingga 27,5 persen, dari rata-rata 65,2 detik, menjadi hanya 47,3 detik.
Panjang antrian kendaraan di simpang juga menyusut 18 persen, sementara jumlah kendaraan yang bisa melewati simpang dalam satu jam meningkat 6,7 persen.
”Angka-angka ini bukan hanya statistik, tetapi ribuan penumpang bisa sampai tujuan lebih cepat, lebih nyaman, dan lebih tepat waktu,” ungkapnya.
BACA JUGA: 432 Lulusan Ikuti Geladi Bersih Wisuda Ke-74 USM
Lebih penting lagi, imbuhnya, hal itu membuka peluang bagi kota Semarang untuk menerapkan sistim serupa di simpang-simpang lainnya, sebagai bagian dari visi Smart City, yang inklusif dan berkelanjutan.
Yang membedakan penelitian ini dari studi sebelumnya yakni, pendekatan holistiknya. Banyak penelitian sebelumnya hanya fokus pada prototipe atau simulasi tanpa validasi data lapangan.
Tim ini tidak hanya menggunakan data riil dari lapangan, tetapi juga memvalidasi model simulasi mereka, dengan tingkat akurasi sangat tinggi, Koefisien Determinasi (R²) mencapai 0,993, yang berarti model mereka hampir sempurna mereplikasi kondisi nyata.
BACA JUGA: 71 Calon Wisudawan Fakultas Teknik USM Dilepas
”Ini bukan tentang teknologi yang rumit, tapi tentang solusi yang tepat untuk masalah nyata. Kita ingin bus umum menjadi pilihan utama, bukan karena paksaan, tapi karena bus benar-benar lebih cepat, lebih andal, dan lebih nyaman,” tuturnya.
Dengan dukungan dana dari BRIN dan LPDP, serta kolaborasi erat dengan Dinas Perhubungan Kota Semarang, proyek ini siap masuk tahap implementasi. Langkah selanjutnya, integrasi dengan sistim jadwal Trans Semarang, sehingga bus tidak hanya dapat membuat lampu hijau, tapi juga berkomunikasi dengan pusat pengendalian lalu lintas secara real-time.
Di masa depan, lanjutnya, ketika seorang warga Semarang menaiki bus dan melihatnya meluncur mulus melewati simpang yang biasanya macet, mereka mungkin tak sadar, di balik itu ada puluhan jam kerja keras para peneliti lokal, yang percaya kota yang cerdas adalah kota yang memprioritaskan manusia, bukan mesin.
Di sisi lain, USM juga mendapatkan penghargaan dari UTM, sebagai mitra host konferen, dengan jumlah makalah terbanyak dari satu institusi.
Riyan













