SEMARANG – Investasi asal India di Indonesia yang masuk ke Provinsi Jawa Tengah tumbuh positif dari tahun 2024 ke 2025. Angkanya merangkak naik, meskipun masih di luar sepuluh besar negara yang investasinya masuk ke Jawa Tengah.
Data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, nilai investasi dari India di Jawa Tengah sepanjang tahun 2024 mencapai Rp101 miliar. Atau tepatnya Rp101.356.930.000.
Adapun nilai itu naik signifikan pada semester I 2025. Angka nilai investasinya mencapai Rp627 miliar. Atau tepatnya Rp627.434.370.000. Nilai ini diprediksi akan naik hingga penghujung tahun 2025.
Sementara itu, rangkuman lima besar sektor investasi di Jawa tengah pada semester I tahun 2025 di antaranya yang pertama industri karet dan plastik. Kedua, industri barang dari kulit dan alas kaki. Ketiga, industri tekstil. Keempat, perumahan, kawasan industri dan perkantoran, dan yang kelima industri makanan. Data ini rangkuman dari total penanaman modal asing (PMA) dari lintas negara maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Lebih lanjut Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengatakan, pada periode Januari–September 2025 nilai investasi yang masuk mencapai Rp66,13 triliun. Artinya sudah mencapai 84,42 persen dari target tahunan. Dampaknya mampu menyerap 326.462 tenaga kerja, dan menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah DKI Jakarta.
“Ini menunjukkan, Jawa Tengah menjadi salah satu lokasi investasi terbaik. Untuk PMA masih didominasi industri alas kaki, kemudian industri karet dan plastik, serta tekstil. Sementara, untuk PMDN didominasi sektor makanan dan minuman,” katanya belum lama ini.
Sakina mengatakan, Jawa Tengah memiliki sejumlah kawasan industri yang digadang-gadang menjadi magnet investor untuk berlomba-lomba menanamkan modalnya. Peluang ini tentu terbuka bagi banyak negara, termasuk India yang memiliki sejarah tersendiri kedekatannya dengan budaya masyarakat Indonesia.
Dikatakannya, ada empat kabupaten/kota yang memiliki kawasan industri dan cukup diminati investor. Di antaranya Kabupaten Kendal dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, Kota Semarang dengan sejumlah kawasan industri seperti Wijayakusuma, dan Candi, Kabupaten Demak dengan Jatengland, serta Kabupaten Batang yang memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.
Sakina mengatakan, kawasan industri yang ditunjang kemudahan transportasi akan menjadi salah satu pertimbangan utama bagi investor untuk menanamkan modalnya. Terkhusus industri yang berorientasi untuk hasil ekspor. (*)













