blank
Syafri Samsudin saat meneliti makam Cina.

Oleh: Syafri Samsdin

JEPARA (SUARABARU.ID)- Keberadaan pemakaman Cina atau yang biasa disebut bongpay (batu nisan) di beberapa desa di Kabupaten Jepara membuktikan bahwa peran warga Tionghoa dalam perjalanan panjang sejarah kota Jepara tidak bisa dilupakan begitu saja.

Berdirinya klenteng tua di desa Welahan dan klenteng di pusat kota (pecinan) atau peristiwa geger pecinan yang merembet sampai Jepara menjadi fakta sejarah pertemuan dua kebudayaan antara Cina dan Jawa.

Seperti contoh, batu nisan (bongpay) yang ditemukan berada di tengah area perkebunan warga, di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, masih tertanam secara tegak dan dalam kondisi relatif baik. Struktur batu masih solid, permukaan inskripsi tidak banyak aus, sehingga huruf-huruf Tionghoa masih dapat dikenali secara dasar.

Secara visual, bongpay tampak mengikuti pola umum nisan Tionghoa diaspora abad ke-18–19. Model batu tegak (standing stele), bidang inskripsi utama pada bagian depan, susunan teks vertikal dari atas ke bawah, penanda tahun dan era kekaisaran.

Pembacaan Dasar Inskripsi

Nama Almarhum 施智世 (Shi Zhishi), makna per huruf: 施 (Shi): marga/klan keluarga Shi. 智 (Zhi): bijaksana, cerdas, 世 (Shi): dunia, generasi.

Makna umum nama: “Zhishi dari marga Shi”, atau “Orang bijaksana dari keluarga Shi.”

Gelar dan penghormatan

Umumnya pada bongpay ditemukan frasa seperti: 顯考 / 顯妣 顯 (Xian): mulia, terhormat, 考 (Kao): almarhum laki-laki (ayah/leluhur), 妣 (Bi): almarhum perempuan (ibu/leluhur), jika bongpay menuliskan 顯考, maka artinya: “Leluhur laki-laki yang dihormati.”

Penanda Tahun

Umumnya berbunyi seperti: 嘉慶甲子年 Jiaqing Jiazi nian, makna per huruf: 嘉慶 (Jiaqing): nama era Kaisar Jiaqing (1796–1820), 甲子 (Jiazi): siklus kalender Tionghoa 60-tahunan, jatuh pada 1804 M, 年 (nian): tahun. Arti keseluruhan: “Tahun Jiazi pada masa Kaisar Jiaqing” → 1804 Masehi

Bagian Penutup (Umum)

Sering ditemui frasa seperti: 之墓 之 (zhi): kepunyaan, 墓 (mu): makam, Artinya: “inilah makamnya”

Interpretasi Sejarah

Konteks Kehadiran Komunitas Tionghoa di Jepara (Abad 18–19). Pada awal abad ke-19, Jepara merupakan kota pelabuhan aktif dalam perdagangan kayu, tekstil, beras, dan aktivitas pelayaran antarpulau. Banyak pendatang Tionghoa datang sebagai pedagang kayu jati, tenaga pelabuhan, tukang kayu dan tukang kapal, pedagang skala kecil, pekerja yang terlibat dalam perkebunan atau logistik.

Nama marga Shi (施) diketahui terdapat pada komunitas Hokkian dan Hakka. Kemungkinan besar almarhum adalah bagian dari arus migrasi dagang yang tinggal di pesisir Jepara atau pusat-pusat aktivitas ekonomi di Tahunan–Kedung.

Kemungkinan Penelusuran Keturunan

Secara metodologis, pelacakan keturunan dapat dilakukan melalui beberapa jalur pencarian nama marga di komunitas Tionghoa Jepara. Marga Shi (施) tidak terlalu besar di Jawa Tengah saat ini, namun masih muncul di beberapa kota. Data komunitas lokal bisa ditelusuri melalui klenteng tertua di Jepara atau Kudus, arsip organisasi Tionghoa seperti MATAKIN atau perkumpulan marga.

Pencarian lewat media sosial Arah pencarian nama marga “Shi / Sie / Sia / Se” (variasi romanisasi Hokkian), Pengguna yang mencantumkan asal keluarga Jepara–Kudus–Demak Keluarga yang menelusuri leluhur imigran lama era pra-1870.

Karena nama pribadi Tionghoa lama sering berubah setelah generasi ketiga, pelacakan lebih mengandalkan marga dan lokasi leluhur, bukan nama individu.

Bisa juga pencarian melalui arsip lain yang relevan. Arsip Belanda (VOC/NIOD) terkait pedagang Tionghoa di Jepara, arsip kelenteng (buku doa, catatan kematian, papan leluhur), riwayat pemakaman keluarga besar (jika ada kluster kubur lain).

Tanpa dokumentasi tambahan, pencarian ini belum bisa mengarah ke hasil pasti, namun masih memungkinkan jika data visual bongpay dan lokasi lain di sekitar makam ditelusuri lebih dalam.

Pembacaan dan interpretasi ini bukan hasil penelitian arkeologi formal. Tafsir huruf dan penanggalan dilakukan berdasarkan pengetahuan dasar epigrafi Tionghoa dan pola umum bongpay diaspora. Kesalahan kemungkinan besar tetap ada.

(Syafri Samsudin, Pegiat dan Pelestari Sejarah Kebudayaan Jepara)