blank

JEPARA(SUARABARU.ID) – Puluhan cerita pendek (cerpen) inspiratif karya para pendidik di Jepara, akan diterbitkan. Penerbitan buku antologi tersebut mengiringi peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan hari ulang tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tahun ini.

“Budaya literasi harus terus kita kuatkan. Penerbitan buku ini merupakan bagian dari upaya PGRI Jepara untuk memperkuat budaya literasi di kalangan guru. Makanya kami fasilitasi,” kata Ketua PGRI Kabupaten Jepara Darono Ardi Widodo.

Hal itu dia sampaikan Minggu (9/11/2025), saat Pengurus Kabupaten PGRI Jepara menyelenggarakan Workshop Pengembangan dan Penyusunan Kompetensi Menulis Guru dengan tema “Merangkai Kata, Mengasah Imajinasi, Memantik Literasi dalam Cerpen”. Darono yang membuka workshop itu secara resmi juga mengatakan, menulis merupakan salah satu bentuk ekspresi intelektual dan pengabdian profesi. Melalui karya tulis, termasuk cerpen, guru dapat menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan, dan kebangsaan.

“Di sekolah pun, saya selalu mendorong para guru menghasilkan karya, termasuk ketika karya tulis pernah menjadi instrumen wajib kenaikan pangkat,” tandasnya.

Ketua Panitia Endah Pramurti Setianingrum menjelaskan, workshop ini merupakan tindak lanjut dari lomba penulisan cerpen guru tingkat Kabupaten Jepara. PGRI Jepara akan memfasilitasi penerbitan antologi karya para pemenang dan peserta sebagai bentuk apresiasi serta pembinaan literasi berkelanjutan.

blank

 

“Kami berharap dapat diluncurkan bertepatan dengan puncak peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tingkat Kabupaten Jepara,” jelas Endah.

Alternatif waktu peluncuran lainnya adalah pada malam resepsi HGN dan HUT PGRI yang berlangsung 20 Desember 2025 mendatang.

Narasumber, Sulismanto memaparkan pentingnya menulis cerpen dengan memperhatikan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dia mengaitkan sejarah penerbitan cerpen dengan media massa. “Pengaruh ragam bahasa yang terbit di media massa, menjadikan cerpen taat pada kaidah bahasa” ungkap pemilik nama udara “Indra Sadewa” tersebut.

Kepada para peserta, dia menunjukkan contoh-contoh aturan dari Ejaan Bahasa Indonesia (EYD), yang masih sering salah diterapkan dengan baik pada berbagai karya tulis.

Kegiatan yang juga diisi dengan sesi tanya jawab dan bedah karya peserta, berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta antusias berbagi pengalaman dan memperdalam pemahaman tentang teknik penulisan cerpen.

blank

Antusiasme peserta bahkan membuat pembawa acara, Itta Muyassyaroh, harus beberapa kali mengingatkan keterbatasan waktu.

Hadepe