JEPARA (SUARABARU.ID)- Surutnya industri mebel di Kabupaten Jepara benar-benar menjadi pukulan telak bagi para pelaku usaha yang selama ini menggantungkan hidup dari berjualan produk kayu ukiran khas Jepara.
Menjamurnya pabrik juga menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat lebih memilih beralih menjadi buruh pabrik daripada bekerja atau menjadi buruh di sektor industri mebel seperti tukang kayu, tukang ukir hingga tukang amplas. Alasan mereka sederhana, bekerja di pabrik upah lebih bisa diandalkan.
Namun bagi Muadz, Camat Tahunan yang baru saja pindah tugas dari Kecamatan Karimunjawa, membangkitkan industri mebel di Jepara, khususnya di Kecamatan Tahunan menjadi tantangan tersendiri baginya.
Ditemui di ruang kerjanya, Muadz blak-blakan bicara soal industri mebel yang saat ini sedang surut. Ia mempunyai strategi untuk menghidupkan kembali showroom yang telah vakum. “Sepanjang jalan Soekarno Hatta dari Ngabul hingga Senenan, melihat banyak showroom mebel tutup menjadi keprihatinan tersendiri bagi saya”, ujar Muadz saat membuka obrolan dengan suarabaru.id, Jumat (7/11/2025).
“Kalau kita bandingkan dengan dua dekade yang lalu, tepatnya pada tahun 1998, Tahunan menjadi primadona bagi para pemburu furniture. Bukan hanya lokal, para buyer dari mancanegara pun ikut meramaikan transaksi ekspor mebel”, lanjut Muadz bersemangat.
Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu pasar mebel ikut terkena imbasnya. Padahal, menurut Muadz, Tahunan lokasinya sangat strategis, sebagai pintu masuknya kota Jepara,
“Tahunan pada masanya sering disebut-sebut sebagai sentra ukir Jepara, bahkan sampai hari ini ada brand yang masih tertulis Tahunan sebagai sentra ukir Jepara”, ungkap Alumni FISIP Unsoed ini menambahkan.
Ketika disinggung soal langkah apa yang akan dilakukan untuk membangkitkan industri mebel di Tahunan, pria asal Desa Surodadi, Kecamatan Kedung ini mempunyai gagasan membangun City Walk dan showroom terpadu.
“Ini bukan pekerjaan mudah, tidak seperti membalik telapak tangan. Tapi kalau semua stakeholder mensuport tentu cita-cita ini akan mudah diwujudkan, karena tidak ada yang gak mungkin”, cetusnya.
Masih menurut Muadz, Tahunan memerlukan ruang pamer yang representative, terintegrasi, dan berkelanjutan berbasis homebase.
“Hal ini akan menciptakan destinasi wisata belanja yang menarik bagi pembeli lokal maupun internasional, meningkatkan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha mebel, UMKM lokal serta memanfaatkan potensi ekonomi kreatif dari UMKM non-mebel untuk memperkaya pengalaman pengunjung”, terangnya.
“Ikhtiar pembangunan City Walk dan showroom mebel terpadu menjadi jawaban nyata atas tantangan yang dihadapi industri mebel Jepara. Proyek ini tidak hanya menghadirkan ruang baru, melainkan membangun sebuah ekosistem yang berkelanjutan, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan”, tandas Muadz.
ua













