blank
Senam stroke yang dilakukan dalam Gathering Komunitas Stroke RS Mardi Rahayu. Foto:Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Jumlah pasien stroke di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Direktur RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto, mengungkapkan bahwa peningkatan signifikan ini menjadi perhatian serius, terutama karena kini stroke mulai menyerang usia di bawah 60 tahun.

Hal itu disampaikan Pujianto usai kegiatan gathering komunitas peduli stroke di RS Mardi Rahayu, Rabu (29/10/2025). Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Stroke Sedunia.

Komunitas Peduli Stroke

Pujianto menjelaskan, kegiatan tahunan ini diikuti lebih dari 100 anggota komunitas peduli stroke. Mereka mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis seperti cek gula darah, tekanan darah, kadar kolesterol, hingga senam bersama. Selain itu, peserta juga diberikan edukasi mengenai pencegahan stroke dan pentingnya fisioterapi bagi pasien pascastroke.

“Pesertanya sangat antusias, meskipun sebagian besar merupakan penyintas stroke sehingga memiliki keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari,” ungkapnya.

Komunitas peduli stroke di RS Mardi Rahayu sendiri telah terbentuk sejak delapan tahun lalu dan terus berkembang sebagai wadah dukungan bagi pasien dan keluarga.

Kasus Stroke Terus Meningkat Tajam

Pujianto memaparkan data bahwa kasus stroke, baik rawat jalan maupun rawat inap, terus meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Tahun 2023, tercatat 14.804 pasien rawat jalan atau sekitar 1.233 pasien per bulan.

Tahun 2024, naik menjadi 27.901 pasien atau rata-rata 2.325 per bulan.

Hingga September 2025, jumlah pasien rawat jalan mencapai 24.887 atau sekitar 2.765 pasien per bulan, dan diperkirakan akan tembus 30.000 pasien hingga akhir tahun.

Sementara itu, pasien rawat inap juga meningkat dari 2.243 kasus pada 2023 menjadi 2.952 kasus pada 2024, dan 2.358 kasus hingga September 2025.

“Tren ini menunjukkan kasus stroke semakin banyak, terutama karena faktor gaya hidup,” jelas Pujianto.

Faktor Gaya Hidup

Menurutnya, sebagian besar kasus stroke disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat seperti tidak menjaga pola makan, tidak mengontrol kadar gula darah bagi penderita diabetes, serta kurangnya aktivitas fisik.

“Orang sekarang sibuk bekerja, sehingga olahraga terabaikan. Akibatnya risiko stroke meningkat,” ujarnya.

Lebih mengkhawatirkan, stroke kini mulai menyerang usia yang lebih muda. Jika sebelumnya dominan di atas 60 tahun, kini pasien berusia 35 tahun sudah mulai ditemukan di RS Mardi Rahayu.

blank
Direktur RS Mardi Rahayu dr Pujianto menegaskan penanganan stroke terbaik adalah dengan segera membawa pasien ke RS. RS Mardi Rahayu menyediakan layanan cepat untuk pasien stroke. Foto:Ali Bustomi

Layanan Terpadu Tangani Stroke

Sebagai upaya peningkatan layanan, RS Mardi Rahayu mengembangkan konsep Pelayanan Stroke Terintegrasi (PASTI). Program ini menjamin pasien mendapatkan penanganan cepat sejak pertama kali menunjukkan gejala stroke.

“Begitu ada tanda-tanda stroke, segera bawa ke rumah sakit. Waktu emas penanganannya hanya sekitar 4,5 jam agar tidak terjadi kecacatan atau kematian,” tegasnya.

RS Mardi Rahayu juga menyiapkan layanan ambulans jemput gratis serta sistem fast track di IGD agar pasien bisa langsung menjalani CT scan dalam waktu 4–5 menit untuk menentukan jenis stroke, apakah karena sumbatan atau perdarahan.

Pujianto menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan tindakan keliru terhadap pasien stroke.

“Jangan diberi minum atau dikompres, apalagi dipijat. Itu salah. Bawa segera ke rumah sakit agar bisa ditangani dengan benar,” pungkasnya.

Ali Bustomi