WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Di awal musim penghujan sekarang ini, masyarakat perlu mewaspadai keberadaan bantala rengka (permukaan bumi yang retak). Hal ini penting dilakukan, untuk mewaspadai kemunculan bencana tanah longsor.
”Ada baiknya, celah retak pada permukaan bumi segera ditutup, untuk menghindarkan agar tidak menjadi resapan luapan air hujan,” jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama.
Upaya mewaspadai bantala rengka, perlu dilakukan masyarakat utamanya yang bermukim di lereng perbukitan. Sebab, air hujan yang menyusup ke celah bantala rengka, dapat menjadi pemicu munculnya bencana tanah longsor. Itu terjadi, karena air yang masuk melalui celah permukaan bumi, dapat membuat celah retakan menjadi melebar dan menyebabkan lereng tebing longsor.
Hujan-hujan deras, belakangan ini telah mengguyur di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Kalau mencermati Pranata Mangsa, saat ini sudah masuk dalam siklus Mangsa Kalima. Bisa jadi hujan sekarang ini, sudah menjadi awal dimulainya musim rendengan (hujan).
Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Mangsa Kalima berlangsung sejak Tanggal 13 Oktober sampai 8 Nopember 2025 mendatang. Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Surakarta Hadiningrat, menyatakan, siklus Mangsa Kalima memiliki rentang waktu selama 27 hari. Mangsa Kalima memiliki lambang ibarat Pancuran emas sumawur ing jagad. Artinya, guyuran hujan deras bersebaran (berhamburan) di alam semesta.
Hujan Lebat
Pranata Mangsa dituliskan dalam Kitab Primbon Qamarussyamsi Adammakna. Pemakaian hitgungan Pranata Mangsa dipelopori oleh Raja Pakoeboewono (PB) VII, dimulai sejak Tanggal 22 Juni 1856. Pranata (aturan) Mangsa (musim atau waktu). Jadi Pranata Mangsa adalah aturan yang digunakan kaum agraris untuk menentukan waktu bertani. Juga dipakai pedoman para nelayan saat melaut, bahkan digunakan untuk penghitungan strategi pemenangan perang, dan menentukan waktu yang baik untuk merantau.
Pemahaman seperti ini, juga dikenal oleh suku-suku lainnya di Indonesia. Seperti Suku Sunda dan Suku Bali, dengan sebutan Kerta Masa. Bahkan menjadi tradisi di beberapa wilayah di Eropa, misalnya pada Bangsa Jerman, dikenal sebagai Bauern Kalendar (penanggalan untuk petani).
Dalam Buku Horoskop Jawa Misteri Pranata Mangsa (karya Ki Hudoyo Doyodipuro Occ (Dahara Prize), dituliskan, Mangsa Kalima musim turun hujan, kadang-kadang disertai angin dan banjir. Waktunya musim buah mangga. Bersamaan itu, binatang melata seperti ular, pada keluar dari liangnya.
Sementara itu, ramalan cuaca yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyebutkan, selama sepekan terakhir sebagian wilayah Indonesia bagian selatan mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat, dengan curah hujan >100 mm/hari. Potensi hujan diprediksi meningkat di sebagian wilayah Indonesia meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, serta sebagian kecil Pulau Papua.
Peningkatan ini berkaitan dengan faktor dinamika atmosfer pada skala global, regional dan lokal, turut memberikan kontribusi terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia. Ini berkaitan dengan munculnya gelombang atmosfer di sebagian wilayah Indonesia, yang dipengaruhi adanya siklon tropis, bibit siklon tropis dan sirkulasi siklonik serta faktor lokal di masing-masing wilayah. Yang itu memicu kondisi atmosfer yang relatif labil, sehingga mendorong terjadinya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang. (Bambang Pur)













