blank
Ilustrasi makanan UPF. Foto: Freepik

Oleh: Nurmasari Widyastuti, S.Gz., M.Si Med

MALNUTRISI merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi negara berkembang saat ini, termasuk Indonesia. Menurut WHO, malnutrisi adalah kondisi ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh, yang dapat berupa kekurangan, kelebihan, atau ketidakseimbangan zat gizi.

Penyebab malnutrisi diantaranya adalah pola makan yang tidak seimbang, kurangnya pemahaman masyarakat tentang gizi, tingkat pendapatan yang rendah, hingga akses terbatas terhadap makanan bergizi dan berbagai kondisi kesehatan fisik dan mental.

Data Riskedas 2018 menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak balita mengalami stunting dan 1 dari 10 balita mengalami wasting. Pada saat yang sama , 1 dari 5 anak di Indonesia mengalami kelebihan gizi. Saat ini pemerintah berfokus pada pencegahan dan penanganan stunting, namun demikian masalah wasting, kekurangan gizi mikro dan gizi lebih juga masih memerlukan perhatian. Stunting menjadi upaya prioritas pemerintah dalam Pembangunan Kesehatan di Indonesia. Berdasarkan RPJMN 2025-2029, Indonesia memiliki target penurunan prevalensi stunting menjadi 14,4% pada tahun 2029.

Peningkatan Trend Konsumsi Makanan Olahan dan Kontribusinya terhadap Malnutrisi

Perubahan gaya hidup dan meningkatnya trend konsumsi makanan UPF (Ultra processed food) berkontribusi pada masalah malnutrisi. UPF merupakan makanan yang diproses dengan penambahan zat-zat kimia seperti pengawet dan pewarna. Makanan olahan industri ini cenderung tinggi gula, garam, dan lemak. Beberapa contoh produk UPF adalah mie instan, minuman kemasan, makanan ringan, dan makanan siap saji lainnya.

Meningkatnya trend konsumsi UPF disebabkan oleh perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi. Pemasaran yang agresif dari industri UPF seringkali menggeser sudut pandang konsumen dalam memilih makanan. Iklan-iklan yang masif di sosial media dengan menyasar anak-anak juga turut menjadi permasalahan dalam pola konsumsi masa kini. Kepraktisan dan harga UPF yang cenderung murah dianggap menjadi alternatif solusi bagi beberapa konsumen. Padahal, konsumsi UPF secara berlebihan dan jangka panjang dapat beresiko terjadinya penyakit tidak menular antara lain: Diabetes, Jantung Koroner, Hipertensi, Kanker, dan lain sebagainya.

Kembali ke Pangan Lokal

Pangan lokal adalah bahan pangan yang diproduksi dan dikonsumsi di suatu daerah tertentu, sesuai dengan potensi, kearifan lokal daerah tersebut dan budaya masyarakat. Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 389 jenis buah, 228 jenis sayuran, 75 jenis pangan sumber protein, 26 jenis kacang-kacangan, dan 110 jenis rempah/bumbu. Namun, sejauh mana pemanfaatan dari beragam jenis pangan tersebut?

Mengacu pada skor Pola Pangan Harapan (PPH), skor derajat keberagaman konsumsi pangan masyarakat Indonesia mendekati skor 100 atau sudah mendekati keberagaman baik. Skor PPH dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, dan besaran keluarga. Pendapatan dan pendidikan yang tinggi memungkinkan rumah tangga untuk mengakses lebih banyak jenis makanan, begitupun sebaliknya. Selain itu, pengetahuan tentang gizi yang baik dapat membantu rumah tangga dalam memilih makanan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga.

Menurut data SUSENAS 2024, konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia menurun dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata kalori turun 1,73% menjadi 2.051,54 kkal per hari, dan protein turun 1,01% menjadi 61,70 gram. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok umbi-umbian, sementara konsumsi buah-buahan justru meningkat. Padi-padian tetap menjadi sumber utama kalori (39,96%) dan juga menyumbang protein terbesar (31,28%). Konsumsi protein dari ikan meningkat, sedangkan dari daging sedikit menurun. Pola ini menunjukkan penurunan asupan gizi dan perubahan konsumsi pangan masyarakat.

Peran Pangan Lokal terhadap Ketahanan Pangan, Gizi dan Kesehatan, serta Ekonomi

Pangan lokal dapat menjadi alternatif saat terjadi gangguan pasokan pangan global atau nasional. Sementara itu, diversifikasi pangan lokal dapat meningkatkan ketersediaan dan akses pangan bagi masyarakat.  Pengembangan pangan lokal, seperti pangan sumber karbohidrat selain beras, dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan pokok.

Pangan lokal kaya akan zat gizi penting seperti vitamin, mineral, serat, dan antioksidan, yang bermanfaat bagi kesehatan, terutama untuk anak-anak dan ibu hamil. Beberapa sumber karbohidrat lokal seperti ubi jalar, jagung, dan kacang-kacangan juga memiliki indeks glikemik rendah, sehingga baik untuk penderita diabetes karena membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Selain itu, sayur, buah, dan rempah lokal yang kaya antioksidan dapat berperan dalam mencegah penyakit tidak menular dan mendukung kesehatan masyarakat secara keseluruhan.