blank
Ilustrasi makanan UPF. Foto: Freepik

Pemanfaatan pangan lokal menjadi alternatif penting untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pangan lokal seperti ubi jalar, jagung, kacang-kacangan, dan daun kelor terbukti kaya gizi, rendah indeks glikemik, serta mengandung antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan, termasuk mencegah malnutrisi dan penyakit tidak menular. Selain itu, pangan lokal juga mencerminkan budaya daerah dan ramah lingkungan karena lebih berkelanjutan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pangan lokal dapat memperbaiki status gizi balita, misalnya dengan pemanfaatan MP-ASI berbahan dasar tempe kedawung atau daun kelor yang meningkatkan berat badan, kadar hemoglobin, dan status antioksidan. Pemerintah pun mendorong intervensi gizi spesifik bagi ibu menyusui dan anak usia 7–23 bulan, termasuk penggunaan MP-ASI lokal yang murah, bergizi, dan aman.

Namun, masih banyak tantangan, seperti rendahnya mutu MP-ASI yang berdampak pada gangguan tumbuh kembang anak, baik kekurangan gizi maupun risiko obesitas akibat komposisi yang tidak tepat. Oleh karena itu, edukasi kepada tenaga kesehatan dan ibu tentang pemanfaatan pangan lokal sangat penting untuk mendukung perbaikan gizi ibu dan anak.

Pemanfaatan makanan lokal memberikan manfaat penting dalam pencegahan dan penanganan malnutrisi dengan pemenuhan gizi pada anak. Pangan lokal memiliki peran penting dalam aspek ketahanan pangan, gizi dan kesehatan, serta ekonomi. Beberapa pangan lokal seringkali kaya akan gizi penting, termasuk vitamin, mineral dan serat dan antioksidan. Intervensi penggunaan makanan lokal sebagai MP-ASI memberikan hasil positif dalam pencegahan malnutrisi pada anak.

Sebagaimana yang diketahui bahwa salah satu faktor pendorong di balik meningkatnya masalah malnutrisi dan penyakit tidak menular adalah perubahan pola makan yang ditandai dengan konsumsi makanan dan minuman yang tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebihan dan oleh karena ketersediaannya terus meningkat, harga yang murah, dan promosi yang massif, maka sebagai salah satu alternatif upaya untuk pencegahan dan penanganan malnutrisi adalah memberlakukan pembatasan konsumsi gula melalui kebijakan penerapan cukai minuman berpemanis.

Kebijakan penerapan cukai ini dapat menjadi alat yang dinilai ampuh untuk mengurangi konsumsi produk makanan/minuman yang tidak sehat, hal ini dikarenakan harga makanan dan minuman mempengaruhi keputusan seseorang dalam membeli makanan sehari-hari.

Disamping kebijakan penerapan cukai minuman berpemanis, perlu adanya pembatasan iklan dan pemasaran produk UPF, terutama pada anak-anak, sebagaimana yang direkomendasikan oleh WHO. WHO telah merekomendasikan pembatasan iklan dan pemasaran makanan dan minuman UPF terutama kepada anak-anak, WHO juga mendukung kebijakan di sekolah yang membatasi promosi dan penjualan makanan UPF, serta mempromosikan konsumsi makanan segar sebagai bagian dari program gizi sekolah.

Tujuan dari pembatasan ini adalah untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendukung pola makan yang lebih baik, terutama bagi anak-anak dan remaja, untuk mencegah masalah kesehatan di kemudian hari.

Pada level individu, sebagai upaya untuk mengurangi dampak konsumsi UPF, konsumen harus terbiasa membaca label gizi pada kemasan dan melakukan praktik persiapan makanan dengan menggunakan bahan-bahan pangan lokal yang utuh (bahan makanan alami yang mengalami minim atau tanpa proses pengolahan, sehingga kandungan gizinya tetap terjaga, seperti sayuran dan buah segar, kacang-kacangan, biji-bijian, telur, daging) untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian dan mengurangi ketergantungan pada makanan instan.

Nurmasari Widyastuti, S.Gz., M.Si Med (Dosen dan peneliti Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro)