blank
Ketua TP PKK Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan hadir memberikan sambutan. Foto: UKSW

SALATIGA (SUARABARU.ID) – Hari kedua Gelar Inovasi Harmoni Nusantara 2025 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) diwarnai dengan talkshow bertajuk “Kebaya dan Kuliner Nusantara”.

Acara ini menunjukkan perhatian dan komitmen UKSW sebagai Kampus Indonesia Mini dalam menjaga serta melestarikan warisan budaya dan kuliner khas nusantara yang menjadi identitas bangsa.

Guna memperkuat pemahaman dan memperkaya diskusi, talkshow menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Miranti Serad Ginanjar sebagai penggagas Gerakan Kebaya Goes to UNESCO dan Santhi Serad sebagai penggiat kuliner nusantara. Talkshow dipandu oleh Budhi Widi Astuti, S.I.Kom., M.A, dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) UKSW.

Rektor UKSW, Profesor Intiyas Utami, membuka kegiatan ini dengan menegaskan bahwa UKSW hadir tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai penjaga aset budaya dan kuliner Nusantara. “UKSW hadir untuk merawat aset Nusantara, baik melalui inovasi mahasiswa dan dosen maupun pelestarian resep dan busana tradisional yang menjadi identitas bangsa,” ujarnya, belum lama ini.

Rektor juga berpesan agar semangat menjaga warisan budaya terus ditularkan generasi ke generasi. “Tanpa bertutur dan melestarikan, aset Nusantara tidak akan bertahan,” tambahnya.

Dengan latar belakang keberagaman mahasiswanya yang menggambarkan miniatur Indonesia dan keterlibatan aktif dalam masyarakat Salatiga, UKSW bertekad menjadi bagian penting dalam menjaga toleransi dan memastikan kejayaan Indonesia tetap terjaga di masa depan.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, hadir memberikan sambutan dan berharap kegiatan seperti ini memperkuat pelestarian kebaya dan kuliner nusantara sebagai warisan penting bagi bangsa Indonesia.

“Kebaya dan kuliner Nusantara bukan hanya warisan budaya, tetapi juga simbol martabat dan jati diri perempuan serta bangsa kita,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pelestarian kebaya dan resep tradisional adalah wujud cinta tanah air dan mempererat keharmonisan sosial. Retno menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan kalangan muda terutama mahasiswa UKSW dalam mengangkat kebaya dan kuliner nusantara ke kancah internasional. “Mari kita jaga dan kembangkan kebaya serta kuliner Nusantara sebagai nafas kehidupan yang menyatukan kita,” ungkapnya.

Pelestarian Budaya, Kekuatan Identitas Nusantara

Miranti Serad Ginanjar, penggagas Gerakan Kebaya Goes to UNESCO, menyoroti pentingnya tanggung jawab sosial pribadi dalam pelestarian budaya. Ia menjelaskan bahwa kebaya setiap daerah memiliki ciri khas unik dan telah berkembang turun-temurun sesuai aturan pemakaian tradisional. Miranti juga menegaskan pemberdayaan UMKM berbasis kearifan lokal sebagai strategi memperkuat kemandirian ekonomi dan identitas nasional. Sebagai wujud dukungan UKSW, kegiatan rutin pemakaian busana wastra Nusantara setiap hari Senin di kampus menjadi contoh nyata pelestarian budaya yang konsisten dan berkelanjutan.