
Di sisi lain, penggiat kuliner Santhi Serad membagikan pandangannya tentang kekayaan kuliner Indonesia yang tercermin dalam berbagai pasar tradisional dengan bahan lokal yang beragam. Ia mengisahkan kecintaannya pada kuliner dan kebiasaan menjelajahi pasar sejak kecil, menggambarkan warisan budaya dan alam Indonesia yang mempengaruhi cita rasa Nusantara.
Santhi menggarisbawahi pentingnya inovasi dan pemanfaatan pemasaran digital agar produk lokal dapat berkembang menjadi ekonomi mandiri. Ia menekankan, “Menumbuhkan cinta terhadap cita rasa Nusantara harus dimulai dari keluarga sebagai pondasi agar warisan kuliner bangsa terus hidup dan berkembang.”
Sajian Budaya, Harmoni Indonesia Mini
UKSW, sebagai Kampus Indonesia Mini dengan keberadaan 23 etnis, menghadirkan sajian kuliner khas dari berbagai daerah dalam acara ini. Hidangan tradisional yang ditampilkan meliputi Nasi Pulo dari Maluku, Porodisa (Paguyuban Mahasiswa Talaud) yang menyuguhkan sate jantung pisang dengan bahan utama jantung pisang, tepung, dan sambal kacang yang diapresiasi Santhi Serad sebagai pilihan vegetarian inovatif dengan rasa yang nikmat abdan berpotensi untuk dipasarkan asalkan diberi branding yang tepat.
Selain itu, Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Papua Barat (Himppar) menyajikan Barapen yang sehat dan unik, serta makanan khas lain dari etnis Karo, Lampung, dan Padang seperti Karo Cimpa, Sengkanaung, Kemplang, dan Patin. Sajian ini menguatkan kebersamaan sekaligus melestarikan keberagaman kuliner nusantara.
Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat mulai dari Rektor UKSW, Ketua TP PKK Kota Salatiga, Ketua Persit Kota Salatiga, ibu-ibu Bhayangkari, PKK, Dasawisma, serta tokoh masyarakat seperti Ketua RT, RW, dan Lurah. Kehadiran berbagai pihak ini mengokohkan sinergi kolaboratif dalam upaya menumbuhkan cinta dan pelestarian kebaya serta kuliner nusantara.
Melestarikan Budaya, Menyatukan Generasi
Peserta talkshow memberikan tanggapan positif terhadap kegiatan tersebut. Nanik Sriwahyuni Widodo dari Gabungan Organisasi Wanita Salatiga menyatakan, “Acara ini bagus karena perempuan Salatiga sangat membutuhkan masukan dalam menggunakan kebaya sesuai pakem agar tidak salah kaprah.”
Ia juga berpesan kepada anak muda agar menerapkan penggunaan kebaya di setiap acara untuk melestarikan budaya. Titik Ketut dan Tatik Edhi dari PKK RT 4 RW 11 Kemiri 1 Salatiga mengingatkan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya nusantara.
Anjeli, mahasiswa Fiskom UKSW angkatan 2023, menuturkan bahwa talkshow memberikan banyak pengetahuan tidak hanya tentang batik, tetapi juga ornamen nusantara lainnya. Lainnya, Immanuela, anggota Etnis Himppar UKSW, mengatakan bahwa melalui makanan khas mereka ingin memperkenalkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang tergambar dalam proses pembuatannya.
Penyelenggaraan talkshow kebaya dan kuliner nusantara dalam GIHN 2025 di UKSW menjadi wujud komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 pendidikan berkualitas, SDG 9 industri, inovasi, dan infrastruktur, SDG 11 kota dan komunikasi berkelanjutan, serta SDG 17 kemitraan untuk mencapai tujuan.
Kegiatan ini sejalan dengan Asta Cita Presiden, terutama nomor 2 dalam penguatan riset dan hilirisasi inovasi, nomor 4 pembangunan SDM unggul, serta nomor 6 mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ning S













