
KUPASAN tentang “Ora ……..” masih berlanjut, dan topik ora trima ini fenomenal banget. Rumusan tuntutan 17+8, -semoga tidak bertambah 45- (menjadi angka “keramat” 17-8-45) nuansa implisitnya sebagian besar bernada ora trima. Mengapa begitu?
Bacalah kata trima ini seperti Anda mengucapkan jangan sembrana (banyak pihak menulis secara kurang tepat, sembrono); atau Anda mengatakan: “Saya mau pergi Sala, mau melihat banyak hal yang bernuansa Jawa.”
Dan kata trima ini, kata lainnya trimah, memiliki beberapa makna, yaitu (1) tanpa kalawan panuwun, tanpa ada permintaan. Jika tiba-tiba bu Wali Kota mengirim saya sekeranjang buah-buahan hasil panenannya, itu maknanya: Saya menerima buah-buahan itu padahal saya tidak meminta.
Menerima secara cuma-cuma, tidak perlu diminta-minta, sudah dengan spontan orang memberikan. Arti (2) wis sumeleh atine, artinya orang sudah mau menerima kenyataan secara iklhas, sudah rela, tanpa protes atau pun ada keberatan tertentu.
Maka lalu ada ungkapan lanjutannya, yaitu ditrima; seseorang sudah sepenuh hati menerima, wis marem, sudah puas. Berikutnya ditrimani, untuk mengungkapkan seseorang menerima pemberian istri yang diberikan oleh raja. Perempuan yang dilimpahkan oleh raja kepada seseorang itu disebut triman.
Baca juga Embuh Ora Weruh
Kata ditrimani atau pun triman itu konteksnya adalah dhek jaman biyen, di zaman duluuuuuuu ketika masih ada banyak raja yang memiliki sejumlah selir. Di antara selir-selirnya itu, ada yang, maaf seribu maaf, satu atau dua diberikan kepada tokoh yang tinggal di suatu wilayah tertentu. Tokoh yang diberi itu disebut ditrimani, diparingi; dan selir tersebut sebutannya triman.
Ora trima, mengapa?
Sebagaimana awal tulisan ini telah mengungkapkan, pertanyaannya ialah: Mengapa ada pihak-pihak sing ora trima, sampai-sampai muncul tuntutan 17+8? Jawaban atas pertanyaan ini sangat jelas dan pasti, yakni karena pihak-pihak itu merasa tidak/belum bisa menerima, tidak ikhlas; hati tidak/belum sreg.
Terhadap apa atau siapa kondisi belum bisa menerima itu ditujukan? Dalam rumusan tuntutan 17+8 itu sangat jelas disebutkan baik subyek maupun objeknya, bahkan predikatnya.
Ora trima juga muncul ketika orang atau pihak tertentu merasa iri. Seorang kakak mungkin saja marah-marah kepada orangtuanya karena ia iri terhadap adiknya: Mengapa adikku dipestakan meriah, padahal dia selama ini sudah sering menghambur-hamburkan harta orangtua? “Ora trima, aku.!” Begitu kira-kira rumusannya.
Baca juga Ora Tanja, Ora Tumanja
Ora trima juga dapat muncul karena terpicu oleh rasa khawatir. Wahhhhh, kalau si Dhadhap yang dipasrahi jabatan itu, jangan-jangan nanti semua yang dianggap lawannya dilibas olehnya. “Harus dilawan, ora trima, aku, mengkhawatirkan soalnya.”
Sikap atau reaksi ora trima sangat mudah terpicu apabila ada ketidakadilan. Tidak adil ada kenaikan tunjangan yang begitu fantastis, padahal anggota masyarakat lainnya masih dalam kondisi serba kekurangan. Tidak adil kalau Naya mendapat hak-hak “istimewa” sementara Suta dilupakan begitu saja.
Ora trima sangat mungkin bisa terjadi karena ada kesalahpahaman. Seorang ibu memesan taksi lewat tilponnya. Kebetulan sekali taksi itu pas lewat di depan rumah ibu pemesan, maka segera terdengar suara klakson memberi tahu.
Sopir turun menemui ibu tadi, seraya berkata: “Kami mengutamakan pelayanan cepat, ibu.” Ibu itu memandang sang sopir agak kecut, berkata: “Maaf ya pak, saya membatalkan pesanan karena saya sangat khawatir Bapak telah mengemudi dengan ugal-ugalan begitu cepatnya,” seraya menutup pintu.
Sopir taksi terperanjat, agak bernada keras karena tersinggung sopir itu berkata depan pintu tertutup itu: “Ibu, pas ibu telpon tadi, saya persis lewat depan rumah ini.”
Di dalam rumahnya, ibu itu termangu, dan di depan pintu rumahnya sopir itu menunggu; dua sosok itu sedang terjangkit ora trima, ora sreg sesuai versi masing-masing. Namun setelah berdialog, ditemukanlah solusi.
Simpulan, berdialoglah para subjek/pihak yang disebut-sebut dalam tuntutan 17+8 dengan pihak penuntut; sekali lagi berdialoglah. Kalau pun sudah ada jawaban atau pemenuhan atas sebagian tuntutan, jangan-jangan pemenuhan itu terjadi monolog, padahal yang diperlukan dialog.
Tukiman Tarunasayoga, pengamat dan penulis terkait pendidikan dan budaya Jawa, tinggal di Ungaran, Jateng













