blank
Bona Ventura Sulistiana (kiri), menyerahkan bonus kepada Tim Karete Jateng, usai merebut medali emas nomor Kata Beregu Putra. Foto: dok/ist

PERTANYAAN ini tiba-tiba saja mengusik ketika mendengarkan sambutan Ketua KONI Jawa Tengah, Bona Ventura Sulistiana, saat membuka diskusi yang digelar Seksi Wartawan Olahraga (Siwo) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng, di Hotel Noormans, Semarang, belum lama ini.

Kala itu, Bona banyak mengurai dinamika KONI yang dia pimpin untuk periode 2021-2025, mulai dari bagaimana membangun pondasi yang kuat terkait tata kelola semua bidang, baik itu aspek organisasi, pembinaan prestasi, perencanaan dan dana yang tercermin dalam motto HATI (Harmoni, Akuntabilitas, Transparansi dan Intergritas).

Dia berprinsip, melalui organisasi yang baik tentu lebih menungkinkan untuk mencapai tujuan, dibanding dengan organisasi yang tata kelolanya buruk, diyakini tidak akan mampu mencapai target. Sebagai lembaga yang mengkoordinasikan gerak langkah olahraga, tentu saja ‘Goal’ yang ingin dicapai adalah peningkatan prestasi olahraga Jateng di percaturan Nasional.

Parameternya adalah Pekan Olahraga Nasional (PON), yang saat periode kepengurusannya digelar di Aceh-Sumut tahun 2024. Hasilnya, semua warga Jateng sudah tahu, di PON XXI ini duta olahraganya berhasil mencatat sejarah dengan raihan medali 71 emas, 74 perak dan 115 perunggu.

Di ruang ber-AC yang sejuk, tempat diskusi digelar, terkadang “tensi” bicaranya terasa naik, namun terlihat pula seperti bersedih, bahkan nafasnya seperti tersekat di kerongkongan, kala mengulik kembali jalan berliku yang harus dia lalui untuk mengangkat harkat dan martabat keolahragaan Jateng ini.

Sepertinya memang bukan hanya kerikil-kerikil tajam yang harus dia lalui, ada pula batu dan bahkan tembok yang menghadang di depan, apalagi jika sudah bicara soal anggaran keolahragaan yang disediakan oleh pemerintah daerah.

Sekadar mengingatkan, dalam menghadapi PON XXI di Aceh-Sumut itu, anggaran Jateng hanya sekitar Rp 85 miliar. Dari studi banding di tiga provinsi di Jawa, angka itu hanya seperenam anggaran DKI Jaya, seperlima dari Jawa Timur dan seperempat dari Jawa Barat.

Namun angka-angka itu tidak menyurutkan langkah, untuk melakukan yang terbaik dengan HATI. Pengurus dari lapis bawah bersatu padu, saling sengkuyung dalam menanggung beban berat.

Singkat cerita, dalam 12 hari pertempuran yang dijalani duta olahraga Jateng di arena pertandingan, tentu atas kehendak Tuhan Yang Maka Kuasa, kontingen bisa pulang dengan kepala tegak, bukan sombong. Ya, Pak Bona dan pasukannya memang telah berhasil mengukir sejarah bagi Jateng di PON.

Jangan Gegabah
Selepas mendengar paparan itulah, kemudian muncul pertanyaan: “Pak Bona, tegakah meninggalkan KONI Jateng?”. Ruang dan bidang yang sudah ditata demikian baik, jangan sampai terkoyak sebelum situasi dan kondisi mapan dan mantap dalam gerak langkah keolahragaan Jateng ke depan.

Di balik pertanyaan ini, sebenarnya ingin tahu kepastian dari dinamika di KONI Jateng tentang pencalonan ketua umum, untuk kepengurusan periode mendatang. Banyak persepsi dan bahkan gejolak yang muncul di lingkungan cabang olahraga, yang notabene saat ini masih menjadi anggota KONI.

Ini terjadi, manakala dkaitkan dengan situasi dan kondisi politik keolahragaan Nasional. Misalnya, banyak yang tidak tertarik dengan KONI setelah diterbitkannya Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) Nomor 14 Tahun 2024.

Umumnya mereka menyebutkan, Permenpora ini selain mengebiri tugas pokok dan fungsi KONI, juga disebut-sebut melanggar Olympic Charter, yang sangat berbahaya bagi kehidupan olahraga Indonesia, terkait dengan ruang kompetisi internasional, lebih-lebih menyangkut soal dana operasional.

Tetapi persoalan sebenarnya tidak sesederhana itu. Membangun olahraga adalah membangun prestasi (yang abstrak), dimana objek yang dikelola adalah olahraga, namun yang dijadikan subjek adalah manusia. Disini dinamikanya sangat luar biasa, bahkan terkadang diluar nalar.

Karena itulah, di kalangan pelaku olahraga sering kita dengar: “Kita tidak boleh gegabah, dan jangan sekali-sekali membawa orang yang gagap apalagi bisu-tuli dalam ilmu dan organisasi keolahragaan untuk memimpin KONI. Ini akan sangat berhaya”.

Sepertinya ini penting diingat untuk semua stakeholder keolahragaan Jateng. Contohnya Bona Ventura, sebelum sampai di puncak (Ketua KONI Jateng), dia pernah menjadi Wakil Ketua Bidang Organisasi KONI Jateng, kemudian naik jadi Kabid Organisasi, naik lagi menjabat Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, lalu dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KONI Jateng, dan baru dipilih menjadi Ketua Umum.

Apalagi Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Kadisporapar) Jateng, Muhamad Masrofi yang hadir dalam diskusi itu tegas mengatakan, siapapun yang menjadi ketua umum nanti, KONI Jateng harus tetap eksis membantu pemerintah dalam membangun keolahragaan Jateng.

Nah, ini artinya bukan coba-coba. Maka kata kuncinya nanti, cabang olahraga dan KONI Kabupaten/Kota sebagai anggota yang memiliki hak pilih dalam penentuan Ketua Umum, harus benar-benar jeli kepada calon yang muncul. Ini penting diingatkan, karena pemegang hak pilih, pada akhirnya harus memiliki tanggung jawab dan beban moral dalam kemajuan olahraga Jateng di masa mendatang.

Jika bicara legal-formal, Bona Ventura dan pasukannya memang harus meninggalkan “kekuasaan” dalam Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov), yang menurut rencana akan digelar 24-25 Oktober nanti.

I Nengah Segara Seni; wartawan senior, mantan Ketua Siwo PWI Jateng