TEGAL (SUARABARU.ID) – Di Kolam Retensi Tegalsari Tegal Barat Kota Tegal diketahui satu dari dua mesin diesel pompa air alami kerusakan. Akibatnya satu mesin bekerja untuk empat pipa pengeluaran air yang mestinya hanya dua pipa pengeluaran.
“Melihat kondisi kolam retensi Tegalsari yang memiliki tugas utama menangani banjir di wilayah Kelurahan Pekauman, Kemandungan, Keraton, Tegalsari yang bermuara pada kolam retensi melalui saluran Siwatu rusak,” kata Ketua Komisi III DPRD Kota Tegal Sutari SH MH, Selasa (9/9/2025).
Menurut Sutari yang krusial adalah dari dua pompa mesin ada satu mesin mengalami kerusakan. Pipa pengeluaran ada empat, untuk kapasitas mesin 1.000 liter per detik. Jadi apabila mesin itu jalan dibagi empat masing-masing menampung 250 liter per detik.
Tahun 2025 ini DPUPR Kota Tegal mengajukan perbaikan pompa maupun mesin diesel yang ada di kolam retensi Tegalsari.
Selanjutnya, DPUPR Kota Tegal minta anggaran untuk pemeliharaan untuk pompa maupun kolam yang ada di wilayah Kota Tegal. Ada sekira sepuluh pompa yang sudah dibangun. Tiga kolam retensi seperti di Polder Bayeman, Tegalsari, dan Mintaragen.
Untuk rumah pompa lain ada di Kelurahan Kaligangsa, Sumurpanggang, Pesurungan Lor, Kalianyar, Alun-alun dan lainnya.
“Kami berharap rumah pompa maupun mesin diesel yang ada bisa berfungsi dengan baik dan maksimal,” harap Sutari.
Kerusakan mesin diesel diketahui saat Komisi III DPRD Kota Tegal melakukan kunjungan lapangan di kolam retensi, Kamis (4/9/2025) lalu.
Fungsi utama kolam retensi salahsatunya adalah mengendalikan banjir dengan menampung air hujan dan limpasan permukaan secara sementara, memangkas puncak banjir, lalu melepaskannya perlahan ke aliran sungai atau daerah resapan. Manfaat lain kolam retensi adalah sebagai konservasi air untuk meningkatkan cadangan air tanah, peningkatan kualitas air melalui sedimentasi alami, dan berfungsi sebagai sarana rekreasi atau pariwisata.
Selain itu juga menampung volume air berlebih saat curah hujan tinggi dan debit sungai meningkat, mencegah potensi luapan dan kerusakan banjir di permukiman.
Menahan air hujan dalam jangka waktu tertentu, memungkinkan air untuk perlahan-lahan dilepaskan kembali ke sistem drainase atau untuk meresap kedalam tanah.













