WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Jamaah pengajian yang terdiri, Jamaah Mujahadah Qulhu, Jamaah Yasinan 17 dan Majelis Ta’lim Maratus Sholihah RT 07 Perum Purnamandala Bumireso Wonosobo, Sabtu (6/9/2025) malam, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di komplek perumahan setempat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bertema “Romantisme Keluarga Rosulullah dalam Sirah Nabawiyyah” tersebut menghadirkan pembicara H Ngatoilah Linaja Alh, Lc pengasuh PP Al Islah Surengede Kertek Wonosobo.
Gus Atho panggilan H Ngatoillah Linaja menceritakan Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 9 atau 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan 20 atau 22 April 571 Masehi di Mekah.
“Pada masa awal kehidupan Nabi Muhammad SAW diasuh oleh Halimah binti Abi Dhuayb dari suku Sa’ad hingga umur 4 atau 5 tahun. Setelah itu, beliau diasuh kembali oleh ibunya, Aminah, hingga umur 6 tahun,” kisahnya.
Namun, lanjut Gus Atho, ibu Nabi Muhammad SAW meninggal dunia dalam perjalanan ke Madinah untuk menziarahi kuburan suaminya.Nabi kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthallib, hingga umur 8 tahun, lalu oleh pamannya, Abu Thalib.
“Pada masa muda, pada umur 12 tahun, Nabi Muhammad SAW diajak oleh Abu Thalib ke Syam untuk berdagang. Beliau bertemu dengan seorang rahib bernama Buhaira yang mengenali tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad,” lanjutnya.
Menurutnya, pada umur 25 tahun, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Khadijah, seorang wanita terpandang dan kaya dari kaum Quraisy. Masa kenabian dan dakwah, pada umur 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, yaitu surat Al-Alaq.
“Beliau memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi, lalu secara terbuka di Mekah. Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai tantangan dan penolakan dari kaum musyrikin Quraisy,” tutur dia.
Hikmah Maulid Nabi

Pada tahun 622 Masehi, ujar Gus Atho, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah setelah mendapat ancaman pembunuhan dari kaum Quraisy. Beliau membangun Masjid Nabawi dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor.
“Nabi Muhammad SAW memimpin beberapa peperangan, termasuk Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Beliau berhasil memperluas wilayah Islam dan menegakkan keamanan di Jazirah Arab,” paparnya.
Nabi Muhammad SAW, lanjut dia, wafat pada usia 63 tahun setelah mengalami sakit. Perjalanan hidup beliau menjadi contoh bagi umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Adapun hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dijelaskan Gus Atho, memiliki banyak hikmah yang dapat diambil sebagai pedoman hidup bagi umat Islam. Yakni meningkatkan kecintaan pada Rosulullah, mendorong umat Islam bersholawat dan meneladani akhlak Nabi.
“Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum untuk menguatkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, yang merupakan salah satu pilar keimanan. Membaca sholawat merupakan salah satu bentuk penghormatan dan cinta kepada Rasulullah,” tandasnya.
Dikatakan, peringatan Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk memperbanyak sholawat dan mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah teladan yang sempurna dalam berbagai aspek kehidupan. Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk mempelajari dan mencontoh akhlak mulia beliau, seperti kasih sayang, keadilan dan perdamaian.
Dikisahkan Gus Atho, Rasulullah SAW dikenal sebagai pemimpin yang adil dan dermawan. Maulid Nabi mengajarkan umat Islam tentang pentingnya menegakkan keadilan dan menebar kebaikan kepada sesama. Juga menjadi momentum untuk bersyukur atas nikmat Allah SWT, yaitu diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Peringatan Maulid Nabi menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan sosial antar sesama Muslim dan meningkatkan solidaritas umat. Maulid Nabi juga dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan ajaran Islam dan meningkatkan pemahaman umat tentang agama,” pungkasnya.
Muharno Zarka













