Oleh : Fahrudin Brodin
Daulat rakyat dikedepankan untuk merefleksi praktek bernegara yang jauh dari cita cita kemerdekaan kita. Kemerdekaan yang telah tertulis tegas dalam Pembukaan UUD 1945 dalam teks “atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan dengan didorong oleh keinginan luhur… ” ternyata jauh melenceng ketika dimanifestasikan oleh para pemimpin kita hari ini.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih jauh panggang dari api. Korupsi dan tindakan menyalahgunakan wewenang semakin menjadi jadi-jadi hingga membuka luka jiwa rakyat Indonesia. Rakyat melawan. Dengan cara yang cukup keras. Korban berjatuhan. Rakyat menjadi korbannya. Para pemimpin kaget. Barangkali. Sebagian rakyat berharap akan segera terjadi perubahan radikal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Sekejab kita melihat hitam putih negeri ini, setelah sekian lama dipertontonkan dalam atmosfer abu abu. Tipu daya nampak seperti sopan santun. Hukum dirancang untuk melenggangkan dan melanggengkan kejahatan para pemimpim atas rakyatnya. Ketimpangan ekonomi, sosial, tidak terhindari. Kaum elit berpesta pora dalam arti yang sebenar benarnya di meja panjang perjamuan para penjahat berdasi dan kaum agamawan yang memonopoli tiket surga dan neraka.
Dan ketika rakyat melawan, mereka seperti lupa bahwa ini adalah hukum alam belaka. Hukum tabur tuai, nandur panen. Bagi bangsa yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, setiap kejadian adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Kekuasaan para pemimpin negara tentu ada batasnya. Juga kesabaran rakyat.

Atmosfer sosial politik itu juga sampai ke Jepara. Satu Kota kecil di utara pulau Jawa. Yang sebenarnya menyimpan sejarah Kejayaan Nusantara. Kejayaan Kalingga, Kalinyamatan, penyerangan Portugis ke Johor Malaka, di dalam Epos perlawanan Trunojoyo, setidaknya bisa menjadi referensi betapa masyarakat Jepara selalu setia, selalu sedia melawan imperialisme penjajahan, ketidak adilan, dalam bentuk apa pun.
Itu pula yang ditunjukkan oleh Kartini dalam deretan panjang surat-surat yang berisi gagasan dan cita-citanya. Perlawanan terhadap kondisi yang tak tertahankan.

Di dalam peta perlawanan hari ini terhadap pemerintahan yang dholim pada kenyataannya di sini kalah viral dengan tetangga kita di Pati, misalnya. Namun jangan lupa bahwa Pati adalah Jepara juga diluar pembagian administratif pasca kemerdekaan 1945. Demonstrasi melawan pemerintah yang dialamatkan kepada Kepolisian dan Dewan Perwakilan rakyat juga terjadi di sini. Gedung DPRD Jepara terbakar. Menyisakan kesedihan dan kepedihan mendalam. Termasuk di dalamnya teman teman Jepara yang selama ini berjuang di jalur budaya.
Masyarakat budaya Jepara kemudian menggeliat. Seniman pemerhati kesenian, akademisi, semua sepakat untuk mengangkat kesenian di beranda muka strategi kebudayaan kita. Seni ukir kayu menjadi perhatian utama hari ini. Pemimpin pemimpim informal kita sedang mengusahakan “gaung” ke langit kehidupan yang lebih tinggi. Mereka sedang merancangnya bagaimana seni kita bisa mendapatkan penghargaan yang proporsional di panggung nasional dan Internasional. Mari kita tunggu dan kita dukung selalu.

Dalam pada itu, di Bumi Kartini ini seniman – seniman kita bersepakat bersama sama rakyat, mengusung agenda Seni Rakyat ke dalam agenda kesenian Jepara secara simultan, berkelanjutan.
Tabur bunga di reruntuhan Gedung DPRD 1 September lalu, sebagai bukti bahwa kita masyarakat kesenian tidak diam dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kesenian, seni harus menjadi isi utama dari jiwa dan ruh pembangunan materiil spirituil di Jepara ini.

Minggu, 7 September 2025 , masyarakat kesenian Jepara akan melanjutkan langkah sebagai respon keprihatinan terhadap situasi sosial politik tadi dengan mengadakan kegiatan berkarya on the spot di Pantai Pasir Hitam, Tambakrejo, Mulyoharjo Jepara. Dalam kesempatan itu pula akan ada beberapa perform, instalasi dan prosesi “larung” sebagai simbul membuang hal hal buruk dalam kehidupan kita, untuk menyongsong masa depan yang penuh harapan dan berkah dari Sang Pencipta.
Hitam putih Indonesia ku. Akan di ekspresikan para seniman dengan menggoreskan sisa sisa arang dari kursi kursi di DPRD terbakar tempo hari pada kanvas putih secara bersama sama. Atau bisa jadi meresponnya dengan karya karya lain yang menunjukkan jejak peristiwa penting tadi menjadi isu baru yang reflektif.

Semua akan mengalir laksana air, yang tertatih bersama waktu berjalan menuju kehidupan dimana kawula alit tertawa bahagia.
Jepara, 7 September 2025
Penulis adalah budayawan Jepara













