JAKARTA (SUARABARU.ID) – Pagi itu, Inu Pramono yang menjabat Business Development & Steam Sales Manager PT Thermax International Indonesia serta rekan-rekannya cukup sibuk dengan aktivitas di stan ruang pamer peralatan industri. Kepada khalayak lintas kalangan, tim mengenalkan kontribusi perusahaan asal India itu dalam membuat produk sekaligus komitmen menjemput mempercepat perjalanan dekarbonisasi Indonesia.
Ya, PT Thermax International Indonesia tak ketinggalan menaruh partisipasinya pada ajang The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS), di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, Rabu, 20 Agustus 2025.
Stan itu memperkenalkan langsung produk-produk perusahaan untuk industri, ssperti mesin pemanas, pendingin, pengelolaan limbah industri naik padat maupun cair, hingga proyek pengendalian polusi udara.
Stan tersebut cukup ramai, menarik perhatian Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita. Kemudian pemerintah daerah seperti Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, kalangan pengusaha, pemerhati lingkungan, hingga masyarakat umum (civil society.
Inu mengatakan, salah satu produk cukup strategis menuju industri hijau buatan perusahaan yang berkantor pusat di Pune, India itu, yakni mesin yang mengolah energi alternatif dari limbah biomassa. Pola manajemen sampah (waste manajemen) dimanfaatkan betul untuk menjadi energi alternatif di industri bersangkutan.
“Sejauh ini kita sampaikan ke customer (pelanggan) kita yang masih pakai batu bara ya. Ya, kita bilang, ‘Oke, dengan batu bara nilainya segini hasilnya, dampaknya ada limbah B3-nya, karbonnya ada, polietelina (PE) ada.’ Kayak gitu kan. Tapi kalau switching (beralih) ke Biomassa, memang agak lebih mahal biayanya. Akan tetapi itu enggak ada dampak lingkungan lagi,” katanya.
Inu mengatakan, sistem transisi energi atau peralihan dari fosil seperti batu bara menggunakan biomassa memiliki banyak manfaat dalam menjemput energi bersih, khususnya untuk industri hijau di Indonesia. Dengan begitu industri akan turut berperan menjalankan kewajibannya dalam meminimalkan dampak lingkungan di tengah masyarakat.
“Jadi enggak ada (dampak) lingkungannya, misalkan industrinya dekat dengan masyarakat gitu,” ucap pria lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung tersebut.
Dicontohkan Inu, salah satu perusahaan yang sudah bekerjasama dengan produk PT Thermax International Indonesia yakni industri jamu terbesar yang berada di Jawa Tengah. Bermula dari kesulitan perusahaan industri jamu tersebut dalam mengatasi tumpukan limbah padat sisa rempah-rempah bahan dasar jamu, kerjasama itu terjalin. Kerjasama membuat energi alternatif biomassa itu sudah berjalan sepuluh tahun terakhir
“Dari kesusahan dalam solusi membuang limbah. Kita tawarkan, oke limbahnya ini bisa jadi bahan bakar. Jadi mereka mengurangi biaya operasional ke arah situ. Energinya nanti keluar untuk steam (mesin pemanas), listrik juga. Buat proses produksi mereka dari recycle (pengolahan sampah),” tutur Inu.
Sejauh ini, kata dia, Thermax yang memulai perjalanan bisnisnya di Indonesia sejak 1971 itu, terus memperluas pasar untuk dukungan dekarbonisasi melalui produk buatannya. Khususnya menyasar kalangan industri. Sektor yang cukup gencar digarap di Indonesia menyasar perusahaan makanan dan minuman, serta farmasi. Di mana limbahnya diolah lagi menjadi energi alternatif.
Menurut dia, kontribusi pasar dari Thermax untuk dua sektor industri tersebut mencapai 30-40%. Perusahaan juga mengedukasi untuk sektor-sektor industri lainnya.
“Kalau sektor-sektor lain, seperti tekstil. Mereka berpotensi tumbuh,” katanya.

Ajak Kolaborasi Industri-industri Baru
Inu mengatakan, Thermax terus berkomitmen untuk menjadi bagian dari perwujudan industri hijau di Indonesia yang telah menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Thermax menjajaki industri-industri baru yang sedang tumbuh, salah satunya di Jawa Tengah. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, serta KEK Kendal.
Perusahaan yang punya pabrik produksi manufaktur di Kawasan Industri Krakatau, Banten, itu mengeksplorasi diri untuk menjadi mitra yang produknya selaras dengan kebutuhan industri-industri baru di Indonesia. Tentu dengan komitmen jalan dekarbonisasi.
“Kita lihat produk kita, apa yang bisa diserap sama kawasan industri baru itu,” kata dia.
Terlebih, dikatakannya, industri yang produknya diekspor di Eropa khususnya harus memiliki rekam jejak yang baik terhadap komitmen dekarbonisasi. Untuk itu, keberadaan Thermax diharapkan akan menjadi mitra yang baik bagi industri, hingga mampu kontribusi menumbuhkan perekonomian nasional.
Untuk diketahui, sejauh ini bahkan produk dari PT Thermax International Indonesia merambah pasar di Asia Tenggara. Di antaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Produknya antara lain, mesin pemanas skala besar, peralatan pengendalian polusi udara, sistem pengolahan limbah, hingga chiller.
Kemudian secara global, Thermax telah memilki 29 kantor internasional, 14 fasilitas manufaktur yang terdiri dari 10 di India, dan empat lainnya di luar negara itu. Jaringan pemasaran mencapai 88 negara di Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika. Perusahaan juga memiliki 7 anak perusahaan domestik, dan 21 internasional.

Industri jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional
Pada kesempatan itu, Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan, peran industri sudah menjadi penopang utama perekonomian nasional. Dipaparkannya, sektor manufaktur pada akhirnya memiliki kontribusi strategis pada kinerja produk domestik bruto (PDB) nasional.
Tercatat pada triwulan II tahun 2025 kontribusi sektor industri manufaktur mencapai 16,92%. Artinya angka itu maik dibandingkan triwulan yang sama tahun 2024 yang tercatat 16,72%. Sektor industri manufaktur juga tumbuh 5,60% year on year pada triwulan II tahun 2025 dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada angka 5,12%.
Melihat kinerja ekspor industri manufaktur, angka pada semester I tahun 2025 tercatat pada angka 107,6 atau setara 83% total ekspor nasional. Pada periode yang sama, sektor industri pengolahan nonmigas juga berperan sebagai penyerap tenaga kerja strategis. Di mana jumlah tenaga kerja tercatat lebih dari 19,60 juta orang.
Sejalan dengan itu nyatanya, kata Agus, industri manufaktur menghadapi tantangan yang cukup berat baik kaitannya dengan geopolitik dengan geoekonomi.
“Termasuk tuntutan dari pasar global. Setiap produk dihasilkan dituntut untuk upaya menurunkan emisi gas rumah kaca. Transisi menuju energi bersih juga sebagau tuntutan untuk menjaga daya saing produk industri di pasar global,” ucapnya.
Agus mengajak pemerintah daerah (pemda), kalangan usaha, dan lain sebagainya untuk berkolaborasi membuka jalan mimpi dalam mewujudkan ekonomi hijau, dari energi bersih. Program dekarbonisasi salah satunya dilakukan oleh sektor industri yang telah menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Untuk peran pemda penting dalam membuat kebijakan dalam manajemen pengelolaan limbah/sampah (waste management). Termasuk yang terpenting yakni pengumpulan limbah/sampah (waste collection).
“Indonesia punya target terhadap net zero emission pada tahun 2060 atau bisa lebih cepat pada 2050,” katanya.
Agus lantas mengajak pelaku industri dalam melihat agenda besar bersama yaknj dekarbonisasi. Ini bisa dilakukan dengan efisiensi energi, memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) inovasi teknologi, hingga penerapan prinsip ekonomi sirkular.
“Jangan dilihat sebagai beban. Akan tetapi peluang emas untuk meningkatkan daya saing pasar global, mendukung pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. sebagai tanggung jawab kita,” kata dia.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, mengatakan, adanya forum industri hijau tersebut memicu target pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Di sisi lain, pemda juga berlomba menggaet investor untuk menanamkan modal menjadi industri di wilayah.
Komitmen pemerintah dalam jalan menuju ekonomi hijau, kata dia, bisa menjadi modal kepercayaan pada investor yang akan menanamkan sahamnya. (*)
Diaz A Abidin













