blank
BNNP Jateng optimis relawan di Ngaliyan mampu jadi role model menginspirasi generasi muda jauhi narkoba. Foto: BNNP

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Ancaman penyalahgunaan narkoba semakin kompleks. Bukan hanya di perkotaan, tetapi juga sudah merambah ke lingkungan pedesaan. Bandar narkoba kian agresif menargetkan generasi muda, khususnya remaja dan pelajar yang berada pada fase rentan.

Menyikapi hal itu, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah menggulirkan strategi berbasis masyarakat dengan menggelar Asistensi Relawan Anti-Narkoba dalam rangka KIE Sumber Daya Pembangunan Desa.

Kegiatan yang berlangsung di Balai Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang pada Kamis (28/8/2025) ini dihadiri jajaran Forkopimcam, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, PKK, karang taruna, organisasi masyarakat, serta puluhan peserta yang didorong untuk menjadi relawan anti narkotika.

Melalui kegiatan ini, BNNP Jawa Tengah berharap lahir agen-agen perubahan yang siap menjaga lingkungan dari bahaya narkoba dan memperkuat ketahanan sosial di tingkat akar rumput.

Kepala BNN Provinsi Jawa Tengah, Dr. H. Agus Rohmat menegaskan, narkotika bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah sosial, kesehatan, hingga masa depan bangsa. Narkotika juga merusak fisik, menghancurkan mental, dan menggerogoti tatanan keluarga serta masyarakat. Yang lebih memprihatinkan, generasi muda kita menjadi sasaran empuk para pengedar.

“Perang melawan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada BNN semata. Kita membutuhkan kekuatan kolektif masyarakat. Relawan anti narkoba hadir sebagai garda terdepan. Mereka adalah agen perubahan yang bisa menyampaikan pesan dengan bahasa sederhana, menyentuh hati, dan mampu menggerakkan lingkungannya,” kata Agus.

“Kami yakin, dengan peran relawan, desa bisa menjadi benteng pertahanan bangsa, dan Ngaliyan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain untuk mewujudkan Desa Bersinar (Bersih Narkoba),” tegasnya.

Agus menyampaikan sebuah pepatah Jawa, “Sapa nandur bakal ngunduh.” “Barang siapa menanam, maka ia yang akan menuai. “Jika kita menanam kebaikan, menanam kepedulian, dan menanam semangat untuk melindungi generasi muda dari narkoba, maka kelak kita akan menuai masyarakat yang sehat, sejahtera, dan berdaya saing. Sebaliknya, jika kita abai, maka yang kita tuai adalah kerusakan dan penderitaan,” tegasnya.

Camat Ngaliyan, Moeljanto menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan BNNP Jawa Tengah dengan menjadikan wilayahnya sebagai lokasi kegiatan. Menurutnya, keberhasilan pencegahan narkoba hanya bisa terwujud dengan kolaborasi.

“Narkoba adalah musuh bersama. Karena itu, strategi pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan gotong royong, sinergi, dan kepedulian dari semua pihak, mulai dari pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga organisasi kepemudaan,” katanya.