SEMARANG (SUARABARU.ID) – Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang yang berlangsung mulai tanggal 15 Juli hingga 28 Agustus 2025 menjadi wadah nyata bagi mahasiwa untuk mengabdikan diri sekaligus berkontribusi pada pembangunan masyarakat . Berbagai program dirancang untuk menjawab kebutuhan warga, salah satunya adalah pelatihan digitalisasi UMKM di Desa Jatirunggo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada para pelaku usaha lokal agar lebih melek teknologi, mampu memanfaatkan media digital, serta memperluas jangkauan pemasaran produk mereka di era serba online.
Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas pasar. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang Posko 96 menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Digitalisasi UMKM di Aula Balai Desa Jatirunggo, Kamis, 21 Agustus 2025. Acara yang berlangsung pukul 09.00-12.00 WIB ini diikuti oleh 13 pelaku UMKM lokal dengan penuh antusias.
Sekretaris Desa Jatirunggo yang hadir mewakili Kepala Desa dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya pelaku UMKM lokal untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, dengan sentuhan digital, produk desa bisa menjangkau pasar yang lebih luas tanpa harus keluar dari wilayah Jatirunggo.. “Dengan pemanfaatan teknologi, UMKM Jatirunggo punya peluang bersaing di pasar yang lebih besar. Inilah saatnya kita melangkah bersama,” ujarnya.

Selanjutnya, sesi utama berupa pemaparan materi dimulai. Para mahasiswa KKN yang bertindak sebagai narasumber menyampaikan empat topik utama: digitalisasi UMKM, teknik foto produk, desain produk dengan aplikasi Canva, dan strategi soft selling.
Digitalisasi UMKM
Materi pertama disampaikan oleh Nafis, yang menekankan pentingnya transformasi digital dalam dunia usaha. la menjelaskan bahwa digitalisasi bukan sekadar menggunakan media sosial, melainkan mencakup pengelolaan usaha, interaksi dengan konsumen, hingga strategi promosi.
“Kalau dulu pemasaran hanya dari mulut ke mulut, sekarang cukup dengan satu postingan di Instagram atau WhatsApp Business, produk bisa dilihat ratusan bahkan ribuan orang,” papar Nafis.
Peserta diberi contoh nyata UMKM yang berkembang pesat berkat strategi digital. Hal ini memotivasi pelaku UMKM Jatirunggo untuk berani mengambil langkah serupa.

Foto Produk Menarik
Materi kedua dibawakan oleh Rosyadi, yang menjelaskan pentingnya foto produk berkualitas. Menurutnya, foto adalah “wajah” sebuah produk. Gambar yang terang, jelas, dan estetik akan jauh lebih menarik minat konsumen. Tidak hanya teori, sesi ini juga dilengkapi dengan praktik langsung. Peserta diminta membawa produk masing-masing untuk difoto. Dari jamu tradisional, sambal rumahan, kue kering, olahan singkong, hingga kerajinan kayu dan kain, semuanya dibawa ke aula pelatihan.
Sebanyak 13 pelaku UMKM yang hadir di antaranya Indriyani (Jamu Iswari), Rizki Dwiyanti (Sambal Bu Yanti), Fyana (Snack Gabin Tape), Maesaroh (Gethuk), Nunik M (Kastengel), Nia Ulfa Laila (Kerajinan Kayu), Esti Rahayu (Singkong Frozen), Elsa A (Cake Slice), Nurohayatun dan Neni Muslikhah (Pengrajin Keset), Siti Rohndiyah (Sarung Bantal), Sri Winarni (Susu Kambing), serta Erna (Gendar Pecel).

Mereka dipandu untuk mengatur posisi produk, memanfaatkan pencahayaan alami, dan memilih sudut pengambilan gambar. Hasilnya langsung terlihat: foto sederhana pun bisa tampak lebih profesional dengan teknik yang tepat.
Desain Produk Menggunakan Canva
Sesi berikutnya disampaikan oleh Nuha dan Rahma, yang memperkenalkan aplikasi Canva sebagai alat desain sederhana namun sangat berguna untuk promosi. Hasil foto produk yang sebelumnya sudah diambil langsung dijadikan bahan praktik. Peserta diajari bagaimana membuat poster, katalog digital, hingga konten media sosial dengan desain yang menarik.
Nuha menjelaskan bahwa desain visual yang baik mampu meningkatkan kepercayaan konsumen. “Produk yang dikemas secara estetik di media sosial akan lebih meyakinkan. Orang cenderung percaya bahwa produk tersebut berkualitas,” katanya.
Peserta terlihat sangat bersemangat mencoba fitur-fitur Canva di ponsel masing-masing. Ada yang membuat poster untuk promosi di Instagram, ada pula yang mencoba membuat katalog harga produk.
Strategi Soft Selling
Materi terakhir dibawakan oleh Al Kavavi, yang mengulas tentang soft selling atau teknik menjual tanpa terlihat memaksa. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang persuasif dan membangun hubungan baik dengan konsumen.
“Jangan hanya berfokus menjual, tapi ciptakan cerita di balik produk. Misalnya, jamu buatan tangan ibu-ibu desa yang diwariskan turun-temurun. Cerita seperti ini membuat konsumen merasa lebih dekat,” jelas Al Kavavi.
Selain itu, peserta juga diberi contoh bagaimana membuat caption menarik di media sosial, memilih kata-kata yang tepat, serta cara merespons calon pembeli agar mereka merasa nyaman.
Antusiasme Peserta
Sepanjang acara, suasana aula balai desa terasa hidup. Para pelaku UMKM tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan mencoba. Ibu Nia Ulfa Laila, pengrajin kayu, mengaku sangat terbantu dengan praktik foto produk. “Ternyata dengan pencahayaan sederhana saja, hasil foto sudah terlihat lebih bagus. Saya jadi lebih percaya diri untuk mempromosikan produk di media sosial,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Fyama, pelaku UMKM gabin tape, yang merasa terbuka wawasannya setelah mengenal Canva. “Saya baru tahu bisa membuat katalog digital. Padahal ini sangat membantu untuk memperkenalkan produk ke konsumen lebih luas,” katanya.
Penutup dan harapan
Menjelang siang, acara ditutup oleh MC dengan menyampaikan kesimpulan. MC menekankan bahwa digitalisasi bukan sesuatu yang sulit jika mau mencoba. Kunci utamanya adalah konsistensi, kreativitas, dan keberanian untuk tampil di dunia digital. Dengan berakhirnya acara, para peserta pulang membawa ilmu baru, keterampilan praktis, dan semangat untuk menerapkan strategi digitalisasi pada usaha masing-masing. Harapannya, UMKM Desa Jatirunggo semakin berkembang, produknya dikenal luas, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
Pelatihan digitalisasi UMKM di Desa Jatirunggo ini menjadi bukti bahwa teknologi bisa menjadi sahabat bagi pelaku usaha kecil. Dengan keterampilan foto produk, desain promosi menggunakan Canva, serta strategi soft selling, UMKM lokal kini lebih siap menghadapi persaingan. Langkah sederhana yang dilakukan mahasiswa KKN bersama masyarakat ini diharapkan menjadi awal dari gerakan lebih besar: membawa produk lokal Jatirunggo melangkah menuju pasar digital, dikenal luas, dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Hadepe – Najwa Nisrina Hanum , Mahasiswi KKN UIN Walisongo Posko 96













