WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Acara unik, penyerahan Paket Kentongan Merdeka, berlangsung pada malam tirakatan perayaan Dirgahayu Republik Indonesia (RI) Tahun 2025. Ini dilakukan warga Lingkungan Salak RT 03/RW 04 Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri Kota, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Ketua RT setempat, Sriyanto Kembo, menyerahkan Paket Kentongan Merdeka kepada Ketua Seksi K3 (Keamanan, Ketertiban dan Keindahan) Anjang. Disebut sebagai Paket Merdeka, karena kentongan yang terbuat dari kayu Nangka (Artocarpus heterophyllus) tersebut, agar memiliki nilai historis berkaitan dengan Agustus sebagai Bulan Merdeka.
Kentongan Paket Merdeka yang diserahkan bersamaan dengan momentum perayaan genap 10 windu Kemerdekaan RI tersebut, selanjutnya dipasang di gardu ronda Kamling (Keamanan Lingkungan), untuk menggantikan kentongan lama yang rusak.
Wartawan Bambang Pur yang pernah dua kali melakukan tugas jurnalistik ke China, mendapatkan pemahaman bahwa kentongan memiliki keterikatan erat dengan Laksamana Cheng Ho atau Zheng He (1371-1435). Dia adalah kasim (pria yang dikebiri) yang hidup pada masa Dinasti Ming. Menjadi pelaut kesohor, penjelajah dan diplomat ulung, yang tampil sebagai Laksamana Armada terhebat dalam sejarah Tiongkok.
Ia lahir Tanggal 23 September 1371, dengan nama Ma He di keluarga muslim yang kemudian mengadopsi nama keluarga Zheng pemberian Kaisar Yongle (1403-1424) yang merupakan Kaisar Ketiga Dinasti Ming. Pada masa Kaisar Yongle-Kaisar Xuangde, Zheng (Cheng) melakukan tujuh ekspedisi pelayaran harta karun ke Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika Timur dari Tahun 1405 hingga 1433.
Dalam melakukan pelayarannya, Cheng membawa kapal besar dengan ratusan pelaut. Setelah berhasil menggulingkan Kaisar Jianwen, Cheng Ho diangkat sebagai Komandan Ibu kota selatan Nanjing. Tokoh pelaut besar dunia ini, melakukan pelayaran ke Malaka pada Abad Ke-15. Tahun 1424, Kaisar Yongle wafat dan digantikan oleh Kaisar Hongxi (berkuasa 1424-1425). Saat Kaisar Xuande berkuasa (1426-1435), Cheng Ho melakukan ekspedisi lagi.
Kiai Gorobangsa
Dalam eskpedisinya, Cheng Ho menemukan kentongan sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Temuannya ini, kemudian dibawa ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Yang kemudian kentongan diadopsi dan dikembangkan menjadi alat komunikasi tradisional dan dikenal luas.
OLeh Cheng Ho, kentongan kemudian dibawa ke berbagai wilayah yang dia kunjungi, termasuk Nusantara. Kentongan digunakan untuk berbagai keperluan, seperti ronda malam, memanggil warga dan keperluan ritual lainnya. Juga digunakan dalam kegiatan keagamaan, seperti memanggil jamaah shalat di masjid.
Yang dalam perkembangannya, kentongan juga menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat. Di bulan Ramadhan, kentongan memiliki peran penting untuk membangunkan sahur di berbagai daerah di Indonesia.
Meskipun bukan sebagai pencipta, dalam sejarah budaya, Cheng Ho telah memberikan kontribusi untuk menyebarkan kentongan ke berbagai wilayah di Benua Asia seperti ke China, Korea, Jepang termasuk ke Indonesia. Di Nusantara, kentongan menjadi bagian penting dari tradisi dan sistem komunikasi masyarakat.
Di Bali, kentongan dipasang di Balai Kukul, yakni salah satu bangunan penting Pura, dan menjadi alat komunikasi serta penanda waktu. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), kentongan digunakan untuk mengumpulkan massa, seperti yang dilakukan oleh Raja Anak Agung Gede Ngurah di Lombok. Di Yogyakarta, Kentongan Kiai Gorobangsa digunakan oleh Ngarso Dalem (Raja Kasultanan) untuk mengumpulkan warga. Di Gedung Monumen Pers Solo, tersimpan Kentongan dengan nama Kiai Swara Gugah.(Bambang Pur)













