blank
Anis Soleh Baasyin dalam acara Ngaji Ngallah Suluk Maleman 'Mata Air Mata Merdeka' yang digelar di rumah Adab Pati, Sabtu (16/8/2025).

PATI (SUARABARU.ID) – Gelaran Suluk Maleman edisi ke-164 pada Sabtu (16/8) menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan malam tirakatan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Dalam kesempatan tersebut, penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin, mengajak masyarakat untuk kembali memaknai arti kemerdekaan, baik dari sisi asal (sangkan) maupun tujuan (paran).

Menurut Anis, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 sejatinya dilakukan oleh bangsa Indonesia, bukan negara. “Saat itu yang ada baru entitas bangsa. Negara Republik Indonesia baru dibentuk sehari setelahnya, pada 18 Agustus. Artinya bangsa adalah pemilik saham mutlak berdirinya negara,” tegasnya.

Pemimpin Harus Hidup Bersama Rakyat

Anis mengingatkan bahwa negara dan pemerintahan hanya merupakan delegasi dari bangsa. Oleh karena itu, siapa pun yang diberi amanah mengelola negara tidak boleh melupakan asal-usulnya.
“Pemimpin harus selalu memosisikan diri sebagai representasi rakyat, bukan menjadi entitas terpisah yang sibuk dengan kepentingan sendiri,” ujarnya.

Ia memberi ilustrasi teladan Rasulullah yang memilih hidup sederhana bersama umatnya. Bahkan di era modern, ia mencontohkan Swedia, di mana pejabat publik tidak diberi fasilitas mewah, sehingga mampu merasakan langsung kehidupan rakyat.

“Seorang pemimpin harus hidup bersama rakyat, bukan di menara gading. Kesadaran tentang sangkan (asal) dan paran (tujuan) sangat penting agar kebijakan tetap berpihak pada rakyat,” tegasnya.

Refleksi di Usia 80 Tahun Kemerdekaan

Menjelang peringatan HUT RI ke-80, Anis menyoroti berbagai fenomena sosial, mulai dari maraknya pengibaran bendera bajak laut Topi Jerami One Piece hingga aksi unjuk rasa besar-besaran di Pati pada 13 Agustus 2025.

“Generasi muda kini menemukan inspirasi perjuangan dari budaya populer seperti anime, sama seperti para pendiri bangsa dulu yang terinspirasi dari buku-buku pergerakan,” jelasnya.

Sementara aksi demonstrasi, lanjutnya, menunjukkan bahwa rakyat mulai sadar akan kedudukannya sebagai pemilik kedaulatan. Mereka menolak hanya menjadi objek kebijakan pemerintah, terutama ketika kebijakan justru membebani rakyat lewat pajak, pemblokiran rekening, hingga minimnya lapangan kerja.

“Sejarah membuktikan, keruntuhan negara biasanya dimulai dari penarikan pajak berlebihan yang membebani rakyat. Negara yang jauh dari sangkan-parannya akan rapuh dan mudah runtuh,” pungkas Anis.

Diskusi Penuh Hikmat

Diskusi Suluk Maleman malam itu berlangsung hangat dan penuh hikmat. Suasana semakin hidup dengan alunan musik dari Sampai GusUran, yang menambah kedalaman makna refleksi kemerdekaan hingga larut malam.

Ali Bustomi