Oleh: Septiana Wibowo
Malam itu riuh insan teater Jepara memadati halaman pelataran Pendopo Gedung Kesenian Daerah Kabupaten Jepara, Sabtu 9 Agustus 2025. Tabuh 19.00, para penonton sudah berkumpul ke dalam pendopo. Perhatian puluhan pasang mata tertuju pada satu panggung berlatar punden tua, tempat berkisah tentang harapan, perjuangan hidup dan kehilangan yang segera mulai mengalir.
Pertunjukan teater berbahasa Jawa berjudul “Leng” yang digelar oleh kelompok Teater Jaten Batang yang bekerjasama dengan Djarum Foundation Bakti Budaya ini tampak menarik perhatian banyak penonton terutama usia Generasi Z Jepara. Bagi kami, ini tampaknya memang bukan sekadar hiburan melainkan sebuah edukasi yang membawa semangat tradisi dan kelokalan.
Dengan naskah yang ditulis oleh Bambang Widoyo Sp, sebuah naskah yang berumur empat puluh tahun yang lalu, yang pastinya tidak asing untuk para insan teater di Jepara maupun kota-kota yang lainnya. Teater Jaten Batang dengan percaya diri boyongan ke Jepara bahkan cukup berani untuk membawakan naskah panjang dengan Bahasa Daerah yang tidak semua orang mungkin memahami konteks bahasanya.

Cerita tentang kehilangan tanah kelahiran yang disimbolkan oleh perebutan lahan desa dan Makam Keramat Kyai Bakal berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton lewat dialog yang tajam tentang kemarahan dan kekecewaan akibat kebisingan industri serta keserakahan kaum kelas atas.
Akting yang berkarakter kuat, dan tata panggung dan lampu yang sederhana namun sangat komplek dan mudah dipahami menjadi rangkaian yang apik. Mereka dengan cerdas memadukan setting panggung atas sebagai kantor pabrik dan makam, lalu panggung bawah sebagai setting desa yang akan digusur untuk perluasan pabrik.
Mengisahkan lakon-lakon dengan permasalahan hidup yang nyata. Seorang ibu tunggal yang harus menghadapi tekanan ekonomi. Seorang kuncen makam yang gelisah dengan kondisi ekonominya yang tak berubah puluhan tahun, namun dengan kesenangan dia memasang nomor togel dan selalu kalah. Seorang Pegawai Negeri Sipil yang SK-nya lama tak turun-turun. Seorang perempuan malam yang gelisah dengan kisah hidupnya. Bahkan seorang mantan pekerja pabrik bernama Bongkrek yang tersisih dan di PHK karena prinsip yang dia miliki.

Tak hanya realita kaum proletar saja, naskah ini mengupas ketakutan-ketakutan dan keserakahan kaum elit dalam kehidupannya dengan menghadirkan tokoh Juragan serta bagaimana para pegawai bisa bermuka dua, baik dan sayang kepada atasan namun mencemooh dan sok tahu di belakang. Bahkan bagaimana dendam tercipta diantara kedua kelas yang berbeda melalui penggusuran kampung dan pembangunan pabrik di sekeliling Makam Keramat itu.
“Saya tampak seperti merekam memori yang nyata, yang sangat dekat dengan realitas kita dengan kebisingan-kebisingan pabrik yang hampir sama ruwetnya walau berbeda bentuk,” ujar Den Hasan, sastrawan dan pegiat teater Jepara saat memberikan testimoninya.
Dibalik Layar, Ada Semangat yang Tak Kalah Besar
Sutradara pertunjukan, Nur Rozak, mengaku penggarapan Lakon Naskah Leng ini penuh kreatifitas anak-anak muda. Yang juga menurutnya lahir dari keresahannya melihat kondisi masyarakat yang kian terpinggirkan.
“Mengapa memilih Naskah Leng, saya nampak saat pergi ziarah, bagaimana ada seorang ibu dan anak yang menumpang mandi di sebuah bilik, hanya karena mereka betul-betul tidak memiliki uang. Saya merasakan bagaimana mereka terpinggirkan.” Ujarnya saat sesi diskusi.
Menurut Rozak, proses penggarapan banyak melalui penyesuaian dengan aktor-aktor muda, ini juga awalnya menjadi tantangan, namun seiring berjalannya waktu, dan semangat para aktor yang luar biasa akhirnya naskah ini bisa kami bawa ke tiga kota yaitu Sanggar Pakerti Batang pada 26 Juli 2025, Taman Budaya Tegal pada 2 Agustus 2025 dan Gedung Dewan Kesenian Kabupaten Jepara pada 9 Agustus 2025.
Hal yang sepaham juga disampaikan oleh Ahmad Syaiful Muluq selaku Pimpinan Produksi serta aktor pemeran Juragan. “Kami ingin menyampaikan bahwa teater bisa jadi alat perubahan sosial yang bukan hanya tontonan saja,” katanya seusai pertunjukan.
Sesi diskusi malam itu mengupas tentang proses kreatif para pemain, ada yang ternyata tidak bisa berbahasa Jawa namun harus berdialog dan berpentas dengan Bahasa Jawa. Cerita bahwa sebagian dari mereka masih duduk di bangku SMA hingga bagaimana para aktor mempelajari dan akhirnya semakin tertarik dengan naskah-naskah berbahasa Jawa.
“Selain naskah yang berbahasa Indonesia, kami sebenarnya ketagihan dan selalu tertantang dengan naskah bahasa Jawa, kami sudah mementaskan naskah berbahasa Jawa sekitar tiga naskah,” ujar Muluq yang juga ketua Teater Jaten Batang.
Pementasan yang Mengajak Merenung
Pementasan yang panjang dengan durasi dua jam bagi saya memberikan banyak pelajaran, bagaimana kehidupan yang terpinggirkan mudah untuk dimanfaatkan seperti tokoh Pak Rebo, atau bagaimana tidak mudahnya memegang prinsip hidup seperti tokoh Bongkrek. Hingga bagaimana keserakahan dan ketamakan membuat hati manusia tidak tenang seperti tokoh Juragan.
Pertunjukan ini meninggalkan bekas yang mendalam. Walau dengan perbedaan dialek membuat saya sedikit kurang memahami ucapan di beberapa bagian, dan gimmick yang terlalu tua dikarenakan naskah yang memang sudah sangat lama dan melegenda. Ini membuat sejumlah guyonan (jokes) yang ada di naskah kurang relate di kondisi sekarang.
Namun Teater Jaten Batang terbukti berani dan pantas diapresiasi, mereka bahkan membawakan naskah asli yang full tanpa merubah apapun sehingga isi cerita memang tampak keasliannya.
Tampak sedikit gen Z yang kurang tertarik dan Nampak pulang meninggalkan arena pentas sebelum pementasan usai, namun ini tidak mengurangi khidmatnya pementasan. Nyatanya banyak yang bertahan bahkan hingga sesi diskusi selesai. Riuh tepuk tangan pun tetap menggema saat lampu panggung dimatikan sebagai tanda usai pementasan dan saat dinyalakan kembali.
Penulis adalah aktivis budaya dan wartawan SUARABARU.ID













