blank
Falasifah, pimpinan PT Albitec menyampaikan paparan dalam kegiatan Energy Explore. Foto: Ning S (SUARABARU.ID)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Siapa sangka, di Kelurahan Jetis Terawas, RT.03/RW.03, Cepoko, Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang berdiri sebuah pabrik yang menghasilkan spirulina, seperti masker kecantikan SpiruGlow dan produk superfood SpiruLife.

PT Alga Bioteknologi Indonesia (Albitec), perusahaan yang dipimpin seorang anak muda ini memproduksi Spirulina yang dibudidayakan Albitec, juga digunakan sebagai bahan baku produk lain seperti kopi penambah stamina BeCoffe dan suplemen herbal untuk diabetes Spirulife, hingga produknya telah dipasarkan hingga di Eropa dan Amerika Serikat.

PT Albitec ini juga menerapkan prinsip energi bersih di tempat produksinya. Spirulina disebut sebagi sumber kaya protein, vitamin, dan mineral. Dan pertumbuhannya sangat cepat ketika ditanam di air hangat yang memiliki kadar basa tinggi di bawah paparan sinar matahari yang intens.

blank
Spirulina siap dikonsumsi. Foto: Ning S (SUARABARU.ID)

Falasifah, pendiri Albitec menyebut, spirulina melakukan fotosintesis, mengonsumsi CO2 dari udara dan menghasilkan oksigen. Makanan ini memiliki catatan konsumsi manusia yang panjang dan dianggap sebagai makanan masa depan.

Falasifah, lulusan Biologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini mengatakan, Albitec menjalankan pabrik dengan kapasitas produksi mikroalga menggunakan energi terbarukan dan sambungan listrik PLN.

“Kami menggunakan kombinasi Energi Baru Terbarukan (EBT) dan listrik dari PLN dalam menjalankan operasional. Kami memanfaatkan energi hijau, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), untuk beberapa keperluan seperti pengeringan,” ungkapnya dalam kegiatan Energy Explore 2025: Youth Leaders on the Path to Renewable Transition yang diselenggarakan oleh Generasi Energi Bersih (GenB) Indonesia bersama Institute for Essential Services Reform (IESR) menggandeng anak muda, Kamis (7/8/2025).

Disampaikan, pihaknya juga menerapkan prinsip permakultur dan pengelolaan sampah terintegrasi. “Albitec mengelola 16 kolam dengan kapasitas 25.000 liter per kolamnya. Kami memiliki mesin pengering dengan tenaga PLTS dan PLTB,” ujarnya.

Falasifah mengaku selalu membuka akses bagi pelajar dan mahasiswa untuk belajar tentang mikroalga. Begitupun untuk masyarakat umum. Albitec terbuka untuk mengajarkan teknik budidaya mikroalga.

“Terkait limbah, di sini sebenarnya tak memiliki limbah, karena begitu panen paling adanya sisa air yang bisa digunakan untuk pupuk, dan pupuk tersebut kita gunakan untuk tanaman-tanaman yang ada di sekitar kita. Bahkan kalau mengalir ke sawah, sawahnya jadi makin subur,” tambah Falasifah.

Sementara itu National Chairperson, Generasi Energi Bersih Indonesia, Ilham Maulana mengatakan, jika spirulina bukan hanya superfood, tapi juga super-solution. “Albitec menunjukkan bahwa inovasi berbasis mikroalga mampu menjawab tantangan gizi, lingkungan, dan ekonomi sekaligus. Inilah potret masa depan pangan dan energi rendah karbon,” ungkap Ilham.