SEMARANG (SUARABARU.ID)– Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, belum lama ini menginisiasi sebuah forum pembinaan bagi Dai dan Daiyah yang ada kota ini. Adapun latar belakang diadakannya kegiatan ini, bagaimana dakwah bisa tetap hidup, menyentuh, dan membumi, di tengah generasi kekinian yang makin lekat dengan dunia maya.
Acara bertajuk ‘Strategi Dakwah di Era Digital bagi Generasi Kekinian’, yang digelar di Resto Extreme Kuliner, Jalan Pamularsih, Semarang itu, diikuti sekitar 65 peserta yang berasal dari berbagai unsur.
Hadir dalam acara ini, sejumlah, dai/daiyah, Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) dan PPPK se-Kota Semarang, yang tersebar di 16 kecamatan, Pengurus MUI tingkat Kota Semarang, dan 16 kecamatan se-Kota Semarang.
BACA JUGA: Kemenag Kota Semarang Beri Apresiasi pada Pahlawan Lingkungan
Kegiatan ini juga menjadi titik temu, antara tradisi dakwah klasik dan peluang dakwah digital, yang coba dirumuskan ulang.
Sebagai pemateri utama, perwakilan Kemenag Kota Semarang, H Muhammad Mudhofi menyatakan, pentingnya memahami karakter generasi saat ini. Mereka aktif di berbagai platform media sosial, kreatif, kolaboratif, dan sangat peduli isu sosial maupun lingkungan.
”Generasi saat ini bicara dengan bahasa yang mungkin asing bagi kita, tapi justru itu yang harus kita pelajari,” tuturnya.
BACA JUGA: Pemakaman Aiptu Aris Rudiyanto Diiringi dengan Tembakan Salvo
Menurut Mudhofi, keberhasilan dakwah tidak lagi hanya ditentukan isi materi, tetapi juga oleh siapa yang menyampaikan, kepada siapa, dengan metode apa, dan melalui media apa. Di sinilah lima pilar dakwah menjadi kunci, yaitu, pelaku dakwah, sasaran dakwah, metode, materi, dan media atau wasilah dakwah.
Pada sesi terpisah, KH Nawawi AT, memberikan pendalaman materi dengan judul, ‘Menjadi Dai di Era Kekinian Menurut Alquran dan Hadist’. Dia juga menekankan, tantangan dakwah yang tidak ringan.
Disampaikan juga, di dunia digital semua orang bisa bicara agama, tapi tak semuanya memiliki kapasitas. Di sisi lain, generasi muda kerap terdistraksi oleh hiburan instan dan minim literasi keagamaan yang mendalam.
”Ada polarisasi umat yang makin tajam, di ruang digital. Di saat yang sama, kita kekurangan figur panutan, yang kokoh dalam ilmu dan perilaku,” ungkap Nawawi.
Riyan













