blank
Sejumlah sivitas akademika SCU, menabur bunga di atas pusara Mgr Soegijapranata. Foto: dok/scu

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Dalam rangka memperingati wafatnya Mgr Albertus Soegijapranata SJ, Soegijapranata Catholic University (SCU) atau Unika Soegijapranata Semarang, menggelar perayaan Ekaristi.

Kegiatan doa bersama itu dipimpin Rm Marcellinus Tanto Pr, Rm Sbastianus Prasetya Aditama N Pr, Rm Paulus Erwin Sasmita Pr, dan Rm Bernadus Himawan Pr.

Acara yang diikuti segenap sivitas akademika, Perhimpunan Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) itu, dilakukan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, Selasa (22/7/2025).

BACA JUGA: IDAI Jateng Beri Layanan Kesehatan Anak Hingga ke Desa-Desa Terpencil

Rektor SCU, Dr Ferdinandus Hindiarto mengatakan, pihaknya setiap tahun rutin mengadakan misa, untuk memperingati wafatnya Mgr Soegijapranata, sebagai patron universitas.

”Kami akan terus mewarisi, menggali, dan menghidupi nilai-nilai Beliau. Salah satunya yang kami tekankan pada tiga tahun terakhir ini, bagaimana setiap perjumpaan yang Beliau lakukan bersama siapa pun, bisa mengubah dan menggerakkan,” ungkapnya.

Menurut dia, semangat itu sejalan dengan perhatian kampus dalam mendidik mahasiswa, dan melatarbelakangi tema besar Dies Natalis ke-43 SCU, pada Selasa (5/8/2025) mendatang, yakni, ‘Spiritualitas Perjumpaan: Pendidikan Personal dan Iklusif yang Mengubah dan Menggerakkan’.

BACA JUGA: Muharram Berbagi: 125 Anak Yatim di Jepara Disapa Cinta dan Cerita oleh Lazismu dan PDA

”Kami ingin “perjumpaan yang mengubah”, selalu ada untuk menggerakkan mahasiswa menjadi pribadi yang lebih matang. Sehingga kampus, khususnya Perguruan Tinggi Katolik, bukan hanya sebatas ruang perkuliahan, melainkan ruang terciptanya “perjumpaan” itu,” tandasnya.

Seperti diketahui, Mgr Albertus Soegijapranata SJ, merupakan uskup pribumi pertama yang juga sebagai pahlawan Nasional, yang memiliki andil besar dalam mendukung kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi.

Saat menjabat sebagai Vikaris Apostolik Semarang (1940), dan Uskup Keuskupan Agung Semarang (1949), Mgr Soegijapranata memainkan peran penting dalam masa Revolusi Fisik.

BACA JUGA: Musabaqah Qira’atil Kutub Jadi Sarana Strategis Siapkan Santri Unggul

Pada masa itu, dia menjembatani komunikasi antara pemimpin Nasional dengan dunia internasional, serta menggunakan kapasitasnya untuk meredam konflik dan mendukung diplomasi.

Salah satu langkah strategis yang dilakukan yakni, mengirim surat resmi kepada Vatikan, yang meminta agar Indonesia diakui kemerdekaannya. Langkah ini terbukti memperkuat posisi Indonesia, di mata dunia internasional saat itu.

Selain itu, dia juga mendorong para misionaris dan umat Katolik asing, untuk mendukung perjuangan Indonesia. Sementara di dalam negeri, uskup kelahiran Surakarta, 25 November 1896 itu, memromosikan dialog antaragama, untuk memperjuangkan hak rakyat.

BACA JUGA: Tim PKM Sosialisasi Bahaya dan Manfaat Financial Technology

Sempat mengenyam pendidikan di Belanda, dia dikenal sebagai uskup yang cerdas dan berwawasan luas, namun rendah hati. Dikenal juga dengan semboyan khasnya, ‘100% Katolik 100% Indonesia’, Soegijapranata juga memperjuangkan inklusivitas dan keterlibatan umat Katolik, dalam membangun bangsa.

Slogan itu juga tercermin, ketika dia menjadikan gereja sebagai tempat perlindungan bagi pengungsi dan korban perang, akibat agresi militer Belanda.

Kini, sudah genap 62 tahun sejak kepergian Mgr Soegijapranata, pada 22 Juli 1963, di Belanda.

Riyan