blank
Gapura di Komplek Makam Mantingan Jepara.

Oleh: Syafri Samsudin

JEPARA (SUARABARU.ID)- Dalam tradisi Jawa, konsep niskala sering merujuk pada dunia yang tidak kasat mata, yakni segala sesuatu yang gaib, spiritual, atau di luar jangkauan panca indera manusia (seperti roh, energi, dan kekuatan tak terlihat).

Begitu pula dalam Islam dikenal dengan istilah dimensi spiritual atau hal-hal yang tidak terlihat, tidak bisa dijangkau panca indera manusia biasa, seperti malaikat, jin, alam ruh, dan kekuasaan Allah. Keimanan kepada yang gaib adalah bagian penting dari ajaran Islam

Pemahaman tentang niskala sering bersanding dengan dunia nyata (sakala), sehingga harmoni hidup diyakini terwujud saat menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan dunia tak tampak.

Di banyak makam dan di beberapa tempat tua di Jawa, penulis sering mengamati bagaimana makam-makam kuno, atau bahkan area-area keramat yang kita sebut punden, punya tata letak yang menyimpan makna filosofis dalam. Ini bukan cuma soal menata batu atau tanah, tapi ada sebuah konsep ruang yang dalam.

Konsep sakala dan niskala seperti disebutkan di atas dalam kompleks pemakaman kuno seperti Astana Sultan Hadlirin dan kompleks Makam Citrosomo, awalnya mungkin kita hanya melihatnya sebagai “makam raja” atau “area suci” biasa.

Tapi, ternyata ada pemisahan yang jelas. Ada area “Sakala”; ini adalah bagian luar, yang sifatnya duniawi, yang masih bisa kita sentuh, kita lihat dengan mata kepala kita sehari-hari. Di sini, mungkin ada gapura, jalan setapak, atau area tunggu dan makam makam lain.

Namun, yang lebih memukau adalah konsep “Niskala”. Ini adalah inti dari area makam, bagian yang paling suci, yang paling dalam. Ketika kita melangkah masuk dari area Sakala menuju Niskala, ada perasaan yang berbeda. Ini bukan lagi sekadar perpindahan fisik dari satu titik ke titik lain. Konsepnya sangat mendalam: masuk ke Niskala itu adalah simbolisasi melepaskan diri dari segala urusan duniawi, dari hiruk pikuk kehidupan, bahkan dari ego kita.

Bayangkan, saat kita melangkah melewati batas itu, seolah-olah kita sedang memulai sebuah perjalanan spiritual. Pikiran kita diajak untuk hening, hati kita diajak untuk merendah. Para tokoh penting, para leluhur yang dihormati, atau bahkan Wali, biasanya dimakamkan di area Niskala ini. Keberadaan mereka di “inti” tersebut menegaskan posisi spiritual mereka yang tinggi, jauh dari urusan material.

Bagi penulis, ini mengajarkan bahwa makam atau punden bukan hanya sekadar tempat persemayaman jasad. Ia adalah sebuah “peta” spiritual yang mengajak kita merenung, bertransformasi, dan memahami arti kehidupan serta kematian dari perspektif yang lebih dalam.

Meskipun mungkin tidak semegah Imogiri, kita juga bisa merasakan adanya batasan-batasan tak terlihat di area punden dan makam, sebuah ‘penghormatan’ yang meminta kita untuk bersikap dan berpikir secara berbeda saat memasuki ruang yang disucikan. Ini adalah warisan kebijaksanaan leluhur yang terus hidup dalam tata ruang dan praktik spiritual kita.

(Penulis adalah Pegiat Sejarah dan kebudayaan Jepara)