blank
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno (berkalung Batik Kawung) dan Wakil Ketua DPRD Suryo Suminto (deret depan ketiga dari kiri) ikut serta dalam prosesi kirab agung ritual tradisi Ngrekso Bumi di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.(Dok.Prokopim Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Masyarakat memilih hari Dite Palguna, Bulan Sura, Wuku Prangbakat, Tahun Dal 1959, untuk menggelar tradisi ritual Ngrekso Bumi. Event wisata budaya ini, puncaknya dilakukan Hari Minggu (21/7/25), ditandai gelaran prosesi kirab gunungan hasil bumi, berlangsung siang sampai sore hari.

Ribuan warga hadir ikut meramaikan ritual tradisi yang dilaksanakan di kawasan Bukit Hutan Gendol, Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (sekitar 70 Km arah timur laut Ibukota Kabupaten Wonogiri). Lokasi Bukit Hutan Gendol, berada pada Kaki Gunung Lawu. Yakni Gunung legendaris (+ 3.265 MDPL), yang berada di tapal batas Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan dikenal sebagai tempat Moksa Prabu Brawijaya Raja Majapahit.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, Ngrekso Bumi kali ini berlangsung istimewa, karena dihadiri langsung oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. Orang pertama di Kabupaten Wonogiri ini, hadir didampingi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wonogiri Suryo Suminto yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Wonogiri.

Juga hadir Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata (Disporapar) Haryanto bersama para Pimpinan Perangkat Daerah terkait, Camat Bulukerto bersama jajaran Forkompincam, para Kepala Desa dan Lurah. Semua hadir mengenakan busana Kejawen. Yakni memakai beskap kroweng, blangkon, berkain jarik dan berkeris.

Ritual tradisi Ngrekso Bumi, merupakan wujud syukur masyarakat dalam upaya melestarikan bumi dengan segala potensinya, termasuk sumber mata air yang mengalir dari hutan yang lestari. Masyarakat yang umumnya bermata pencaharian sebagai petani, merasakan bahwa dengan lestarinya bumi, hutan dan air, telah memberikan dampak positif terhadap kehidupannya.

Tersedianya aliran air dari hutan yang mengalir lestari, memberikan kemakmuran kepada petani. Mereka dapat membudidayakan tanaman pangan di sepanjang musim, yang dampaknya mampu memberikan hasil panenan yang lumintu (berkesinambungan). Ritual tradisi Ngrekso Bumi, diawali dengan menggelar acara istighosah dan doa bersama pada Hari Sabtu (19/7/25).

Kenduri Agung

Kemudian dirangkai dengan beragam hiburan masyarakat, berupa tari-tarian dan pertunjukan kesenian Ketoprak. Susana menjadi terkesan religius, ketika diadakan kenduri agung secara massal dengan menyajikan nasi tumpeng dalam jumlah banyak. Yang dibawa warga, melalui komunitas masing-masing Rukun Tetangga (RT) dari seluruh wilayah Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.

Ritual kenduri agung ini, digelar sekaligus sebagai penghormatan kepada Mbah Sadiman. Yakni seorang petani setempat, yang melambung pamornya, karena menjadi tokoh nasional peraih anugerah Kalpataru Pelestari Lingkungan. Mbah Sadiman dikenal gigih dalam merehabilitasi hutan yang gundul di lereng Gunung Lawu. Sebagai petani miskin, dia rela menjual ternak kambing piaraannya, demi untuk membeli bibit  tanaman, untuk menghijaukan lahan hutan yang gundul.

Dia memilih bibit pohon beringin, pamrihnya agar cepat tumbuh rindang dan lestari, untuk mengatasi krisis air sekaligus untuk konservasi tanah demi mencegah erosi di lereng perbukitan hutan gunung, serta demi menghindarkan musibah banjir. Usaha Mbah Sadiman berhasil memberikan manfaat tercukupinya suplai air kebutuhan sehari-hari dan air untuk irigasi tanaman pangan bagi sekitar 3.000 warga Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri.

Pemerintah RI melalui Kementerian Lingkungan Hidup, berkenan memberikan anugerah Kalpataru. Lambang supremasi pelestari lingkungan yang prestisius tingkat nasional ini, diberikan kepada Mbah Sadiman yang telah memulai aksinya menghijaukan hutan pada Tahun 1996. Dia telah menanam pohon beringin di lahan hutan seluas 250 Hektare (Ha) di Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan. Ini dia lakukannya secara sukarela, bahkan sempat dianggap “gila” oleh sebagian orang, karena menanam pohon beringin di saat orang lain menanam tanaman pangan. Namun, berkat ketekunannya, daerah yang dulunya gersang, kemudian berubah menjadi hijau dan memiliki sumber air yang cukup.

Bupati Setyo Sukarno, menyatakan, Ngrekso Bumi adalah kekayaan budaya desa, yang sekaligus menjadi sarana edukasi pariwisata. ”Warga Desa Conto berhasil mengembangkan pariwisata desa. Yang itu mereka lakukan dari nilai melestarikan alam, untuk bisa menjadi sumber kehidupan warga,” puji Bupati. Diharapkan, ini dapat ditiru oleh desa-desa lain. Yakni untuk menampilkan sesuatu yang menarik wisatawan, sekaligus untuk menciptakan ekonomi baru demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(Bambang Pur)