Oleh: Aslim Akmal
JEPARA (SUARABARU.ID)- Dalam tradisi masyarakat Indonesia, terutama bagi warga Nahdliyin, ziarah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehai-hari. Di manapun tempatnya, terutama di makam-makam masyhur, mereka akan menyempatkan diri untuk berziarah atau sekedar mengirim do’a Al-fatihah kepada shohibul makam. Bahkan di kalangan mereka ada istilah sarkub (sarjana kuburan), label bagi orang-orang yang memang mempunyai hobi ziarah.
Namun yang menjadi persoalan adalah orang yang mempunyai fanatisme terhadap makam dan merasa punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan shohibul makam melalui cara kontak batin. Meskipun tidak menutup kemungkinan kemampuan ini (ahli kasyaf) ada, tapi praktek inilah yang sebenarnya sering menyesatkan. Apalagi sampai mengklaim nama shohibul makam, dan dibuat acara-acara, haul misalnya.
Tidak sedikit yang menjadi korban kesesatan akibat ulah orang yang merasa (bahkan mengaku) bisa berwawancara dengan ruh yang sudah terpisah dari jasad alias orang mati di kuburan, dengan menanyakan siapa namanya. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan, karena berakibat pembohongan publik atau masyarakat.
Sebagai pegiat makam-makam kuno, penulis seringkali ditanya ketika memposting nisan yang sedang penulis teliti tipologinya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul adalah “itu nisan siapa?”, “siapa yang dimakamkan disitu?”, dll. Pertanyaan ini sangat mudah dijawab, “maaf kami tidak tahu”. Jawaban seperti ini lebih selamat bagi kami, maupun bagi yang bertanya.
Berbeda jika sebuah nisan memiliki inskripsi nama pemiliknya dan kami bisa membacanya, kami akan menjawab sesuai inskripsi nama yang tertera pada nisan. Selama meneliti nisan-nisan kuno di kawasan pesisir Utara Jawa, bisa dikatakan hampir 90% lebih nisan-nisan tersebut tidak memiliki inskripsi nama pemiliknya. Inskripsi yang paling sering ditemukan terpahat pada nisan adalah ayat Qur’an dan kalimat tauhid.
Menulis nama pada nisan terdapat silang pendapat di antara para ulama. Ada yang tegas melarang dan ada yang membolehkan sesuai hajat atau kebutuhan. Pernah ada beberapa orang yang datang menanyakan perihal tipologi nisan dan masanya sambil menunjukkan foto nisan tersebut. Sebenarnya, untuk mengetahui tipologi nisan kurang memadai kalau hanya melihat dari foto. Sama seperti ketika kita memyatakan selembar uang kertas palsu atau tidak adalah dengan melihat, meraba, dan menerawang.
Tapi untuk nisan cukup dengan melihat dan meraba. Melihat adalah menentukan berapa tinggi, lebar, ketebalannya, dan ornamen atau lambang apa yang terpahat pada nisan. Dengan meraba akan terdeteksi dari bahan apa nisan tersebut dibuat, dari batuan andesit, karang, atau kapur. Nisan kuno rata-rata terbuat dari ketiga bahan tersebut.
Apa yang penulis sampaikan tersebut rupanya bisa dipahami. Lalu disusul pertanyaan berikutnya, “kira-kira itu makam siapa ya, Pak?”. Pertanyaan tersebut tidak aneh, sebab mereka ingin mencocokkan (konfirmasi) nama yang selama ini didengar, apakah nama tersebut benar dalam pandangan penulis. Penulis jawab dengan sejujurnya bahwa tidak tahu siapa nama pemilik makam tersebut.
Penulis cukup menyarankan, kalau memang tidak tahu ya sudah, tak usah kesana kemari datang ke orang khusus menanyakan siapa namanya. Itu akan lebih selamat dan aman. Tapi anehnya, setelah penulis terangkan seperti itu mereka justru meminta saya datang melihat langsung makam tersebut. Tapi penulis tolak.
Begitulah, sebagian (entah besar, entah kecil) kondisi masyarakat kita dalam dekade ini ketika menyikapi “makam” kuno, setengah kuno, dan belum kuno. Fenomena tersebut penulis sebut dengan istilah “berburu nama”. Fenomena tersebut rasa-rasamya kurang mendapat respon dan perhatian yang cukup memadai dari para tokoh masyarakat dari berbagai unsur. Apakah justru mereka menikmati adanya fenomena tersebut?. Wallahua’lam Bishawab.
(Penulis Adalah Pegiat Sejarah Kudus dan Anggota Komunitas Peneliti Makam Kuno Muria Raya)













