blank
Kondisi darurat sampah yang ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wonorejo Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan hidup menjadi prioritas utama pembangunan daerah, dengan melibatkan lintas sektor yang dilaksanakan secara terintegrasi dan berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Hal tersebut, disampaikan Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat saat membuka “Sarasehan Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Hidup”, di Pendopo Bupati setempat.

Lebih lanjut, Afif menyampaikan, perlunya bersama-sama meningkatkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah bukan hanya sekadar urusan teknis.

Namun, persoalan sampah juga menyangkut pola hidup, kesadaran ekologis serta keberlanjutan pembangunan jangka panjang.

“Berbagai langkah-langkah konkret telah kita mulai di lapangan, dengan membangun sistem Bank Sampah dan TPS 3R (reduce, reuse, recycle) di berbagai wilayah,” katanya.

Kemudian, program konservasi dan rehabilitasi lingkungan, seperti penanaman pohon di lahan kritis, pengujian kualitas udara, air dan tanah.

“Ada pula penguatan program Adiwiyata di sekolah-sekolah serta pengadaan dan distribusi bibit tanaman untuk masyarakat,” papar Afif.

Diharapkan, seluruh upaya ini tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah dan pemulihan lingkungan, tetapi juga membuka ruang ekonomi berbasis sumber daya lokal secara tepat guna.

“Pengelolaan sampah efektif harus dimulai dari sumbernya. Baik dari rumah tangga, pelaku usaha dan produsen,” katanya.

Melalui edukasi publik, advokasi kebijakan, serta penguatan budaya pilah sampah, tentu harus kita dorong agar terbentuk sistem ekonomi sirkular berbasis komunitas yang adaptif dan berkelanjutan.

“Inilah salah satu fondasi penting dalam menciptakan ekosistem lingkungan yang bersih, sehat dan siap menghadapi tantangan pada masa-masa mendatang,” tandas dia.

Tantangan Besar

blank
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat saat membuka saresehan pengelolaan sampah. Foto : SB/Muharno Zarka

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonosobo, Endang Lisdiyaningsih, menambahkan, Wonosobo tengah menghadapi tantangan besar dalam penanganan sampah yang semakin kompleks.

Meski begitu, lanjutnya, pada tahun 2024, Kabupaten Wonosobo mencatat capaian signifikan dalam pengelolaan sampah.

“Tingkat penanganan sampah di Wonosobo telah mencapai 35,73 persen. Sementara tingkat pengurangan sampah mencapai 15,27 persen.

“Capaian ini patut diapresiasi karena telah melampaui target nasional pengurangan sampah sebesar 30 persen yang ditetapkan untuk tahun 2025,” ungkap Endang.

Dia menambahkan bahwa Pemkab Wonosobo berkomitmen kuat dalam upaya pengelolaan sampah. Tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga lewat langkah-langkah konkret di lapangan.

“Kami berkomitmen mewujudkan pelibatan berbagai pihak. Salah satunya mengumpulkan perwakilan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait,” terangnya.

BUMN yang telah terlibat dalam pendampingan, katanya, yakni PT Indonesia Power dan PT Geo Dipa Energi, para aktivis dan pegiat lingkungan hidup untuk berdiskusi dan berkolaborasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan sampah di Wonosobo

Sarasehan yang diselenggarakan ini juga diisi dengan berbagai paparan inspiratif, yaitu presentasi dari BSIW mengenai pengelolaan Bank Sampah, paparan dari APPEL tentang tantangan penanganan sampah di masyarakat.

Juga ada presentasi dari Gerakan Kelompok Kesadaran dan Integritas “TANPA NAMA” terkait upaya konservasi air di Desa Bowongso Kalikajar Wonosobo.

Selain itu, turut dipaparkan juga aksi nyata dari Komunitas Dieng Bersih dalam menjaga kebersihan kawasan wisata tersebut.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor dan menjadi momentum penting dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan di Wonosobo.

Muharno Zarka