PURWOREJO (SUARABARU.ID) — Pada tanggal 17 Juni 2025 Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Purworejo merayakan hari jadinya yang ke-19 dengan menggelar tasyakuran secara serentak di 16 kecamatan.
Perayaan ini mengangkat tema “Meneguhkan Perjuangan Status Kepegawaian Bagi Perangkat Desa” sebagai bentuk komitmen PPDI dalam memperjuangkan kejelasan status profesi perangkat desa di Indonesia.
PPDI yang resmi berdiri pada 17 Juni 2006 awalnya sempat dipandang sebelah mata, bahkan oleh kalangan perangkat desa sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, PPDI justru tumbuh menjadi organisasi profesi terbesar bagi perangkat desa di Indonesia, dengan lebih dari 200 kabupaten di 20 provinsi yang telah bergabung.
Organisasi ini memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan perangkat desa, termasuk mendorong lahirnya Undang-Undang Desa Nomor 6 Tahun 2014. Tak hanya itu, PPDI juga sukses memobilisasi perangkat desa dalam dua aksi nasional bertajuk Silatnas PPDI yang digelar di Jakarta pada 2017 dan 2019.
Ketua PPDI Kecamatan Banyuurip, Guntur Nugroho, menekankan bahwa tema peringatan tahun ini menjadi momentum untuk terus memperjuangkan hak-hak perangkat desa yang belum memiliki kepastian status kepegawaian.
Karena bagi kita untuk tema ke-19 ini, kita selaku perangkat desa status kepegawaiannya belum jelas. ASN bukan, P3K bukan. Sedangkan kita sehari-hari menginduk pada pemerintah yang merupakan aparatur sipil negara. Kami tidak menuntut diangkat jadi P3K atau ASN, tapi hak-hak kita agar bisa setara, seperti Tunjangan Hari Raya dan gaji ke-13,” ungkap Guntur usai tasyakuran di Kantor Desa Sumbersari, Kecamatan Banyuurip.
Ia juga mengungkapkan rencana PPDI untuk kembali menggelar Silatnas ke-3 di Istora Gelora Bung Karno atau bahkan mendatangi DPR RI, sebagai bentuk perjuangan untuk menyetarakan kesejahteraan perangkat desa dengan ASN.
Kritik terhadap perlakuan pemerintah terhadap perangkat desa juga disampaikan Anjas Prasetyo, Ketua Paguyuban Sekdes Kabupaten Purworejo yang merupakan sayap organisasi PPDI. Ia menyoroti pengalaman pahit para perangkat saat pandemi Covid-19.













