
“Kekecewaan kami salah satunya adalah pada waktu pandemi Covid-19, perangkat desa jadi ujung tombak yang harus selalu berhubungan langsung dengan warga dan sangat berisiko tertular. Banyak bantuan mengalir, tapi tak satu pun ada yang ingat memberikan bantuan pada para perangkat,” ujar Anjas yang juga menjabat sebagai Sekdes Golok, Kecamatan Banyuurip.
Ia juga menambahkan bahwa hingga pandemi berakhir, tidak ada ucapan terima kasih dari pemerintah pusat, meskipun perangkat desa berperan aktif sebagai anggota Satgas Covid-19 dan di Jawa Tengah menjadi bagian dari Satgas Jogo Tonggo.
Ketua Umum PPDI Kabupaten Purworejo, Erwan Widi Ashari, dalam sambutannya juga menyoroti semakin besarnya kesenjangan antara perangkat desa dan aparatur sipil negara (ASN).
“Pernyataan pejabat negara pasca Covid membuat kami merasa tidak nyaman. Perangkat desa adalah garda terdepan badai pandemi, pengakuan negara menyebut perangkat desa sebagai ujung tombak pemerintahan, namun (keberadaan) masih dianggap sebelah mata,” kata Erwan dalam sambutan yang dibacakan masing-masing Ketua PPDI Kecamatan.
Dengan peringatan HUT ke-19 ini, PPDI kembali menegaskan posisinya sebagai garda depan dalam memperjuangkan martabat dan kesejahteraan perangkat desa di seluruh Indonesia.
Vashti













