JEPARA (SUARABARU.ID) – Walaupun akan saling pukul dengan api selama hampir 1 jam, namun “pasukan” yang akan berperang tidak cemas akan terluka. Sebab secara turun temurun ada minyak penyembuh luka bakar yang disebut minyak londoh.
Minyak ini dioleskan ke bagian yang terluka. “Insya Allah dapat menyembuhkan luka akibat Perang Obor, baik pasukan maupun penonton” ujar Petinggi Tegalsambi Agus Santoso saat dihubungi SUARABARU.ID Minggu (9/6-2026) malam
Minyak Londoh ini bukanlah minyak kelapa biasa. Sebab disamping harus dibuat dari kelapa yang tua, juga harus diramu oleh istri petinggi Tegalsambi, Anis Nuril Agus Santoso. Caranya minyak kelapa dicampur dengan bunga sesaji kembang telon yang telah kering. Tentu ada doa khusus yang diucapkan.
Memang secara turun-temurun setiap malam Jumat, Petinggi Tegalsambi mengadakan ritual doa untuk keselamatan masyarakat di desa tersebut. Doa tersebut dilakukan secara rutin. Ritual ini menggunakan sesaji kembang telon yang setelah kering disimpan disebuah tempat khusus.
Waktu prosesi Perang Obor tiba, bunga kering ini kemudian dicampur dengan minyak kelapa dengan disertai doa dan laku khusus oleh istri petinggi. Minyak inilah yang kemudian dikenal sebagai minyak londoh. Minyak londoh ini oleh masyarakat setempat ini dipandang sebagai keajaiban dari doa yang tulus kepada Allah.
Jika ada yang terluka, pengobatan dengan menggunakan minyak Londoh biasanya dilakukan oleh istri petinggi desa di teras rumah dengan cara mengoleskan pada bagian tubuh yang terbakar. Insya Allah luka ini dua hari telah kering.
Prosesi Perang Obor
Tradisi Perang Obor akan digelar Senin tanggal 9 Juni 2025. Direncanakan Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Forkopimda akan hadir pada acara ini.
Prosesi ini dimulai dari rumah Petinggi hingga kepusat upacara di perempatan jalan tengah desa Tegalsambi. Petinggi mengenakan pakaian adat Jawa diapit pawang api dan sesepuh desa.
Juga ada prosesi mengarak dua pusaka yaitu dua buah pedang yaitu pedang Gampang Sari dan pedang Podang Sari yang dipercayai sebagai warisan Sunan Kalijaga kepada dua kebayan Leger Tegalsambi waktu itu. Kedua pedang kayu itu konon merupakan serpihan kayu dan potongan reng yang dipakai membangun Masjid Demak. Pusaka ini disimpan oleh Petinggi dan dua Kebayan Leger.
Hadepe
Tak Takut Terbakar di Perang Obor, Ada Minyak Londoh Penyembuh Luka
JEPARA (SUARABARU.ID) – Walaupun akan saling pukul dengan api selama hampir 1 jam, namun “pasukan” yang akan berperang tidak cemas akan terluka. Sebab secara turun temurun ada minyak penyembuh luka bakar yang disebut minyak londoh. Minyak ini dioleskan ke bagian yang terluka. “Insya Allah dapat menyembuhkan luka akibat Perang Obor, baik pasukan maupun penonton” ujar Petinggi Tegalsambi Agus Santoso saat dihubungi SUARABARU.ID Senin (9/6-2026)
Minyak Londoh ini bukanlah minyak kelapa biasa. Sebab disamping harus dibuat dari kelapa yang tua, juga harus diramu oleh istri petinggi Tegalsambi, Anis Nuril Agus Santoso. Caranya minyak kelapa dicampur dengan bunga sesaji kembang telon yang telah kering. Tentu ada doa khusus yang diucapkan.
Memang secara turun-temurun setiap malam Jumat, Petinggi Tegalsambi mengadakan ritual doa untuk keselamatan masyarakat di desa tersebut. Doa tersebut dilakukan secara rutin. Ritual ini menggunakan sesaji kembang telon yang setelah kering disimpan disebuah tempat khusus.
Waktu prosesi Perang Obor tiba, bunga kering ini kemudian dicampur dengan minyak kelapa dengan disertai doa dan laku khusus oleh istri petinggi. Minyak inilah yang kemudian dikenal sebagai minyak londoh. Minyak londoh ini oleh masyarakat setempat ini dipandang sebagai keajaiban dari doa yang tulus kepada Allah.
Jika ada yang terluka, pengobatan dengan menggunakan minyak Londoh biasanya dilakukan oleh istri petinggi desa di teras rumah dengan cara mengoleskan pada bagian tubuh yang terbakar. Anehnya, luka ini langsung sembuh seketika
Prosesi Perang Obor
Tradisi Perang Obor akan digelar Senin tanggal 9 Juni 2025. Direncanakan Bupati Jepara Witiarso Utomo dan Forkopimda akan hadir pada acara ini.
Prosesi ini dimulai dari rumah Petinggi hingga kepusat upacara di perempatan jalan tengah desa Tegalsambi. Petinggi mengenakan pakaian adat Jawa diapit pawang api dan sesepuh desa.
Juga ada prosesi mengarak dua pusaka yaitu dua buah pedang yaitu pedang Gendir dan pedang Gampang serta sebuah arca, dan sebuah Bedug Dobol, yang dipercayai sebagai warisan Sunan Kalijaga kepada dua kebayan Leger Tegalsambi waktu itu. Kedua pedang kayu itu konon merupakan serpihan kayu dan potongan reng yang dipakai membangun Masjid Demak. Pusaka ini disimpan oleh Petinggi dan dua Kebayan Leger.
Hadepe













