PARIWISATA memang membutuhkan kreativitas yang luar biasa dan dinamis, untuk bisa memikat kedatangan wisatawan. Dam, sekarang ini, apa saja bisa dijual atas nama pariwisata.
Kalau tahun 70-an, kita melihat ada bus melintas dengan tulisan papan kuning di bagian atas depan DARMAWISATA atau PARIWISATA dipastikan bus itu sedang mengangkut penumpang yang berwisata. Tujuan utama kala itu, bagi warga di Jawa Tengah, umumnya adalah ke Pantai Selatan di DIY seperti Samas, parangtritis, Baron, kemudian Kebun Binatang Gembiraloka di Yogyakarta.
Sekarang beda lagi, orang membuat kerajinan bisa jadi atraksi wisata, membuat makanan, gula merah, memelihara lebah untuk diambil madunya juga bisa menjadi jualan pariwisata.
Begitu pula dengan rang jualan nasi, jajanan yang semula berupa warung-warung biasa, dengan kreativitas bisa menjadi tujuan wisata. Lokasinya tidak sebagaimana warung biasa, cara penjualannya juga berbeda dengan menukarkan koin untuk pembayaran, kemudian kostum yang dipakai penjualnya juga khas, biasanya nuansa tradisional.
Destinasi serupa ini ada di beberapa tempat, satu di antaranya adalah Pasar Kumandang di Dusun Bongkotan, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Namanya pasar, tetapi bukan seperti pasar tradisional yang kita temui biasanya.
Pasar ini menjadi unik karena menyajikan nuansa Jawa. Warung-warungnya, tempat duduk dan ornamen-ornamen lainya terbuat dari bambu yang membuatnya berbeda dengan pasar tradisional lain.
Lokasi pasarnya juga bukan di keramaian, tetapi di tengah hutan. Bila datang ke sana, kitab isa merasakan kesejukan udara dan pemandangan yang asri. Ya, mirip-mirip film silat klasik dengan setting pedesaan. Tetapi jangan salah, meski tradisional tetapi pasar ini juga bsia disebut sebagai salah satu pasar digital di Indonesia. Disebut sebagai pasar digital karena media promosinya menggunakan media digital yang dapat menjangkau masyarakat luas.
Kuliner Lawas
Berkunjung ke sini, serasa Kembali ke masa lampau. Bukan saja suasana pasar yang bangunannya terbuat dari bambu, tetapi tentang jualannya. Meski Namanya pasar, tetapi sebenarnya ini merupakan pusat jajan aneka warna, dengan sajian utama makanan-minuman tradisional. Juga tersedia suvenir khas dan mainan tradisional.
Makanan yang tersedia misalnya gethuk, thiwul, lopis,klepon, tempe kemul, dan sajian lainnya. Juga pasti ada aneka nasi, seperti nasi lengko, sate, bubur, bahkan tersedia juga tahu gejrot dan batagor. Tentu saja tersedia aneka minuman tradisional seperti susu jahe, teh klothok, kopi klotok, jamu, wedang ronde, es dawet dan minuman lainya.
Bagi pengunjung yang ingin mengenang mainan zaman dulu, di sini juga dijual yoyo dan ethek-ethek. Barang-barang yang bisa kita beli untuk dibawa pula sebagai kenangan, selain yoyo dan ethek-ethek, juga tersedia aneka suvenir seperti miniatur tas, mobil-mobilan, gantungan kunci, celengan, boneka rajut, kipas kayu.
Dan, ini, bagi anak desa zaman dulu pasti tahu yaitu bakiak semacam sandal yang terbuat dari kayu, kalau buat jalan di lantai yang keras akan memunculkan bunyi klothak⦠klothak.
Pasar ini tidak buka setiap hari, hanya buka pada hari Minggu saja, meski begitu pengunjungnya cukup banyak. Ya, mereka yang datang ingin mendapatkan sensasi yang jarang ditemukan.
Banyak Aturan dan Bayar Pakai Koin
Pasar Kumandang di Dusun Bongkotan, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek, berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota Wonosobo menuju arah Parakan. Sesampai Lokasi pengunjung harus berjalan melewati jalan setapak dengan hiasan bambu di pinggir-pinggirnya.
Di sini kita rasakan nuansa desa dan Jawa, dengan nyanyian jawa diiringi dengan alat musik kenthongan yang menambah nuansa tradisional nya semakin terasa. Keunikan yang lainya yaitu mata uang keping.

Untuk berjual-beli di pasar ini, tidak menggunakan mata uang rupiah kita. Untuk membayar semua yang kita beli, kita harus lebih dahulu menukar uang kertas kita dengan kepingan koin yang terbuat dari batok kelapa. Tiap koin dihargai Rp 2.000. Nah, nanti ketika kita bertransaksi penjual akan bilang, jenis ini harganya tiga koin, yang lain empat koin, dan sebagainya.
Pasar ini juga peduli lingkungan, dengan menetapkan aturan, taka da kemasan plastic (zero plastic). Bila ada yang hendak kita bawa pulang, tersedia keranjang bambu untuk wadah sebagai pengganti tas plastik/kresek.













