JEPARA (SUARABARU.ID) – Suasana penuh antusiasme menyelimuti SMP Negeri 6 Jepara saat menerima kunjungan istimewa dari Duta Besar Bosnia – Herzegovina untuk Indonesia, Mr. Armin Limo. Kunjungan yang berlangsung pada Rabu 28 Mei 2025 ini menjadi momen bersejarah sekaligus kebanggaan bagi seluruh warga sekolah.
Sebelumnya pada tahun 1955, sekolah yang saat itu masih bernama Sekolah Teknik Pertukangan Ukir ini juga telah dikunjungi oleh Presiden Ir. Sukarno.
Dalam kunjungan ini Duta Besar Armin Limo didampingi oleh Wakil Bupati M. Ibnu Hajar, Kepala Disdikpora Ali Hidayat, Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Zamroni Listiaza. Juga Kepala SMKN 2 Jepara Sugiyanto. Turut mendampingi kunjungan Dubes, tim ahli Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat yang mendukung pengajuan pengajuan seni ukir menjadi warisan budaya takbenda Unesco.

Kedatangan Duta Besar disambut meriah dengan penampilan seni budaya lokal yang dibawakan oleh para siswa, termasuk mainan tradisional Egrang dan pertunjukan musik gamelan. Secara spontan, Dubes Bosnia Herzegovina, Mr Amin Limo diajak kepala Disdikpora Ali Hidayat untuk menari.
Kemudian saat menyaksikan sejumlah sejumlah siswa mengukir di depan Museum Sasana Eka Preceka, Armin Limo di tawari Kepala SMPN 6 Darono Ardi Widodo mencoba mengukir. Dengan antusias ia kemudian mencoba mengayunkan palu dan pahat.

Kepala SMP Negeri 6 Jepara, Darono Ardi Widodo, menyampaikan rasa syukur dan bangga atas kunjungan ini. “Ini adalah pengalaman luar biasa bagi kami. Kunjungan dari seorang duta besar memberi semangat baru bagi siswa untuk lebih terbuka terhadap wawasan global dan semangat belajar,” ujar Darono dalam kesempatan tersebut.
SMP N 6 Jepara terpilih menjadi lokasi kunjungan Dubes Bosnia Harzegovina karena sejarahnya yang masih dapat disaksikan sebagai sekolah pelestari seni ukir di Jepara.
SMP Negeri 6 Jepara berdiri pada masa pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 1 Juli 1929 dengan nama Openbare Ambacht School ( sekolah teknik jurusan ukir) di Jepara. Pada zaman merdeka, sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Teknik Pertama (STP) dengan tetap mendidik dua jurusan yaitu meubel dan ukir. Kemudian berubah lagi menjadi ST.
Pada tahun 1956 ST berubah menjadi STN Jepara, sementara itu didirikan pula SKN Jepara (Sekolah Kerajinan Negeri) dengan jurusan yang sama, tetapi lebih menekankan pada pengajaran praktek. SKN ini kemudian berubah menjadi STN-II Jepara. Sedangkan perubahan selanjutnya berupa penambahan jurusan pada STN-I, yaitu jurusan Bangunan Gedung dan Bangunan Kapal.
Di sekolah ini masih menyimpan karya karya seni ukir mulai dari tahun 1929 sampai sekarang. Sejarah panjangnya memberikan semangat untuk berjuang dalam upaya pengukuhan ukir sebagai warisan budaya takbenda.
Kunjungan Duta Besar Armin Limo ini bertujuan untuk menyaksikan langsung seni ukir Jepara yang akan diajukan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO. Disamping itu ia juga mengunjungi masjid Mantingan yang memiliki astefak ukir tertua Jepara dan sentra mebel ukir Mulyoharjo
“Kunjungan ini diharapkan juga menjadi motivasi bagi siswa-siswi SMP Negeri 6 Jepara untuk terus belajar, bercita-cita tinggi, dan memiliki pandangan global tanpa melupakan akar budaya lokal,” ujar Darono Ardi Widodo
Indria Mustika













