JEPARA (SUARABARU.ID) – Jagong di Museum Kartini Kamis Legi (JAMU LEGI) yang merupakan sarasehan perkumpulan pelestari Tosan Aji Jepara ( PPTAJ ) yang digelar tanggal 24 Mei 2025 berlangsung gayeng. Ada sejumlah narasumber yang dihadirkan pada diskusi budaya ini.
Kepala Disparbud Jepara Muh Eko Uddyono mengungkapkan keyakinannya bahwa leluhur kita memiliki pusaka Wesi Aji sebagai ageman. Pusaka yang di Jepara tersebar ada sekitar 160 lebih motif dan pamornya serta dapurnya.
“Kita patut bangga dengan khasanah budaya perkerisan. Kami berharap teman-teman komunitas Tosan Aji Jepara bisa menemukan pakem keris Jepara sebagai pusaka daerah” pintanya

Sementara Kabid Kebudayaan Agus Wibowo mengungkapkan keinginannya agar pakem atau pusaka keris Ratu Kalinyamat dapat ditemukan. Agar dalam event kirab budaya di Hari Jadi Jepara, bisa menggunakan pusaka yg pakem keris Jepara.
Sedangkan Ricky selaku ketua PPTAJ menjelaskan, banyak yang di kenal masyarakat umum keris Guling Muria dan Gati Semarang. Padahal keris Jepara yang ada pada era Ratu Kalinyamat hampir sama dengan pesisiran atau kasultanan Demak. Sebab Ratu Kalinyamat adalah keturunan dari sultan Trenggono Demak. “Sedangkan pada di era bapak Adipati Sosroningrat ada perubahan sedikit dengan keris yang di miliki,” ungkap Ricky
Penasehat Tosan Aji Jepara Iwan Nugroho pada kesempatan tersebut menjelaskan bahwa keris pusaka itu di pengaruhi oleh sejarah adat istiadat, tradisi dan kepercayaan agama yang di anut masyarakat saat itu. “Pusaka keris merupakan hasil karya cipta karsa dari pembuatan nya atau si empu,” ujar Iwan
Ia menjelaskan, untuk menggali pakem keris pesisiran Jepara, Tosan Aji mulai melakukan pendataan keris ke masyarakat umum. “Jika dalam pendataan keris ditemukan yang paling tua maka sejarah Jepara terkuak. Karena itu perlu adanya sosialisasi ke masyarakat umum bahwa keris tidak mutlak berkaitan dengan klenik dan mistis melainkan hasil karya Nusantara yang perlu dilestarikan,” pungkasmya
Acara ini juga dihadiri Subkor Sejarah dan Purbakala Disparbud Jepara Lia Supriandik dan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Krisno Winarno
Hadepe – Iwan













