blank
Warga yang terlibat sebagai pelaku adat tradisi Ceprotan, mengenakan busana Kejawen. Pria memakai beskap, berjarik dan blangkon serta berkeris, perempuan gelung konde, kebaya dan berjarik.(Dok.Prokopim Pacitan)

PACITAN (SUARABARU.ID) – Ceprotan, adalah tradisi lempar-lemparan cengkir (buah kelapa muda) di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim). Tradisi ini, digelar setiap Bulan Longkang tau Sela (Dzulhijjah), memilih hari Senin Kliwon atau Minggu Kliwon.

Bagian Prokopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, untuk Tahun 1958 Jawa (1446 H), digelar Minggu Kliwon Tanggal 18 Mei 2025. Melibatkan semua warga Desa Sekar dan berlangsung dalam gelaran tata adat tradisional yang meriah diwarnai suka cita riang ria bersama.

Berdasarkan sumber tutur tinular (kisah lisan) yang berkembang, tradisi adat yang unik tersebut erat kaitannya dengan cerita Panji dan Dewi Sekartaji. Para tetua Desa Sekar, menuturkan, tersebutlah tokoh sakti mandraguna Ki Godhek, pria berwajah tampan yang masih keturunan Raja Brawijaya dari Majapahit. yang berani membuka alas (hutan) angker (banyak dihuni makhluk halus dan binatang buas) untuk membuat perkampungan baru.

Upaya ini, berhasil dan berkembang menjadi wilayah pemukiman yang kemudian dikenal sebagai Desa Sekar, Donorojo, Pacitan.
Tatkala membuka hutan tersebut, Ki Godhek berjumpa dengan seorang perempuan cantik, bernama Dewi Sekartaji. Yang saat itu mengeluh karena haus. Ki Godhek kemudian mengeluarkan kesaktiannya, yakni dengan daya linuwih (kemampuan spiritual), dalam sekejap mampu mendatangkan kelapa muda yang masih segar. Kelapa muda tersebut kemudian diberikan kepada Dewi Sekartaji dan langsung diminum airnya.

Ganti Dewi Sekartaji juga mengeluarkan kesaktiannya, sisa air kelapa muda yang sudah diminumnya, dituang ke tanah. Seketika tanah yang basah terkena air kelapa muda mengeluarkan mata air yang besar. Mata air ini, yang kemudian menjadi andalan pencukupan kebutuhan air bagi warga. Tempat pertemuan Ki Godhek dengan Dewi Sekartaji tersebut, kemudian diberi nama Desa Sekar.

Khabar Ki Godhek memiliki kesaktian, banyak warga yang berminat berguru kepadanya. Ki Godhek membuat syarat untuk calon muridnya, diminta membawa sesaji, yang akan dipakai kenduri selamatan. Usai membacakan doa selamatan, ada dua murid yang berebut ayam panggang sesaji.

Sayembara

Ki Godhek tampil untuk melerai, dengan mengadakan sayembara. Siapa saja yang bersedia dilempari kelapa muda, maka ia berhak mendapatkan ayam panggang. Oleh karena itu, sampai saat ini, setiap hari Senin Kliwon dan Minggu Kliwon, bulan Longkang diadakan selamatan untuk melakukan ritual Bersih Desa dengan tradisi Ceprotan. Menyertakan sesaji ayam panggang dalam jumlah banyak, yang kemudian dirangkai dengan atraksi saling melempar cengkir.

Ceprotan, memiliki makna sebagai simbol kebersamaan dan semangat pantang menyerah dalam mencari rezeki. Tradisi ini, melibatkan rangkaian kegiatan, seperti pengumpulan sesaji ayam panggang, tari-tarian, pembacaan doa dan atraksi saling melempar kelapa muda (cengkir) yang telah dikuliti dan direndam (agar lunak).

Saling melempar Cengkir dan adat tradisi Ceprotan,  mengandung pesan simbolik tentang pentingnya mengandalkan akal, cara dan daya pikir dalam mememangi adu lempar Cengkir. Ini menjadi simbol bahwa dalam mencari rezeki, harus bersemangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan. Sebagaimana yang digambarkan dalam atraksi saling melempar Cengkir.

blank
Untuk memeriahkan event wisata budaya adat tradisi Ceprotan, ditampilkan pula hiburan tarian-tarian tradisional yang diikuti oleh pria dan wanita.(Dok.Prokopim Pacitan)

Upacara adat yang dilaksanakan secara turun temurun ini, merupakan bagian dari warisan nenek moyang, yang kini menjadi bagian potensi budaya yang dimiliki Kabupaten Pacitan, Jatim. Yang keberadaannya, senantiasa dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi. Menjadi aset wisata budaya, yang masuk dalam kalender event di kabupaten berjuluk Pradise of Java tersebut.

Yang setiap kali digelar, mampu menyedot perhatian masyarakat dalam jumlah banyak. Tidak hanya bagi warga setempat, namun juga didatangi oleh para wisatawan dari luar Desa Sekar bahkan dari luar Pacitan. Hal tersebut berimbas langsung pada geliat ekonomi masyarakat.

Wakil Bupati (Wabup) Pacitan, Gagarin Sumrambah, saat hadir dalam upacara adat Ceprotan, Minggu (18/5/25), berharap penyelenggaraan Ceprotan ini bisa berdampak memunculkan muliti player efect yang luas. Tidak sekadar sebagai event wisata budaya, tapi mampu meningkatkan perekonomian bagi masyarakat.

Kreatif

Wabup Gagarin Sumrambah, mengajak semua elemen masyarakat, dapat memanfaatkan event Ceprotan dari sektor ekonomi kreatif. ”Agar masyarakat Desa Sekar Donorojo khususnya, maupun warga Kabupaten Pacitan pada umumnya, bisa semakin sejahtera bahagia,’’ kata Gagarin Sumrabah.

blank
Event wisata budaya adat tradisi Ceprotan, berlangsung khidmat dalam nuansa suka cita riang ria.(Dok.Prokopim Pacitan)

Dampak adanya multi player efect dari gelaran adat Ceprotan, telah dirasakan secara langsung oleh masyarakat Desa Sekar dan sekitarnya. Tradisi yang digelar dalam kemasan tradisional ini, menumbuhkan tekad masyarakat untuk berupaya melestarikannya.

Kewajiban masyarakat untuk mengenakan busana tradisional, ikut memberikan peluang para juru rias pengantin menjadi laris menyewakan pakaian Jawa dan memberikan jasa make up bagi warga yang terlibat menjadi pelaku dalam event wisata budaya tersebut.

Bagi para peternak unggas pun, ikut kebagian rezeki karena ayam piaraannya laku terjual untuk sesaji panggang kenduri selamatan. Para bakul tradisional, warung, toko dan pasar rakyat yang menjual kebutuhan sehari-hari pun, menjadi laris menjual aneka keperluan untuk penyelenggaraan Ceprotan.

Munculnya keramaian saat berlangsungnya Ceprotan, memberikan kesempatan warga berjualan aneka makanan dan minuman. Ini sebagaimana dialami oleh Bakul Dwiyanto misalnya. Bapak satu anak ini, merasa senang karena dagangan aneka macam makanan tradisionalnya laris terjual. Jenisnya ada lontong, legender, pecel serta kolong yang merupakan makanan khas pedesaan.

Upacara adat Ceprotan, juga menumbuhkembangkan jiwa sosial kemasyarakatan. Yakni menumbuhkan kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, serta mempererat tali silaturahmi antar warga masyarakat.(Bambang Pur)