Oleh: Dr. Muh Khamdan
JEPARA (SUARABARU.ID)- Jepara bukan hanya tentang ukiran kayu yang mendunia. Kabupaten pesisir di utara Jawa Tengah ini menyimpan kekayaan kuliner dan makanan ringan yang luar biasa, dari horok-horok hingga olahan ikan laut khas pesisir. Namun, potensi ini belum sepenuhnya tereksplorasi sebagai kekuatan ekonomi lokal. Jika Bupati Jepara ingin menjadikan UMKM naik kelas, maka saatnya kita fokus pada strategi kreatif di luar sekadar permodalan.
Pelatihan saja tidak cukup tanpa aksi lapangan. UMKM Jepara perlu pelatihan berbasis kearifan lokal dan indikasi geografis. Artinya, pelatihan harus menyentuh aspek pengolahan bahan baku khas Jepara, teknik pengemasan modern berbasis eco-friendly, hingga narasi sejarah produk. Misalnya, pelatihan tentang bagaimana mengangkat horok-horok sebagai makanan bersejarah yang bisa dikemas modern seperti rice cake Korea.
Pendampingan harus menjadi program berkelanjutan, bukan proyek jangka pendek. Pemerintah daerah dapat menggandeng akademisi dan praktisi bisnis lokal untuk mendampingi UMKM secara terstruktur dalam manajemen usaha, digital marketing, dan inovasi produk. Pendampingan ini akan efektif jika berbasis klaster, seperti klaster kuliner pesisir, klaster makanan ringan berbahan kelapa, klaster agroindustri, atau klaster olahan laut.
Untuk mendorong UMKM kuliner naik kelas, perlu ada inkubasi bisnis yang didesain sebagai rumah kreatif Jepara. Inkubator ini menjadi tempat riset produk kuliner khas, pusat desain kemasan, dan tempat uji coba rasa. Bayangkan sebuah pusat inovasi rasa Jepara yang mempertemukan petani kelapa, pelaku UMKM keripik, dan desainer kemasan muda dalam satu ekosistem.
UMKM kuliner juga perlu masuk dalam ekosistem pariwisata Jepara. Setiap titik wisata seperti Karimunjawa, Pantai Bandengan, dan pusat oleh-oleh di perbatasan kota, harus dilengkapi dengan stan kuliner lokal binaan UMKM. Pemerintah daerah dapat membuat “Pasar Rasa Jepara” di setiap lokasi wisata sebagai etalase produk khas yang tak hanya dijual tapi diceritakan asal-usulnya.
Digitalisasi adalah keniscayaan. Pelaku UMKM kuliner harus dibekali keterampilan e-commerce, SEO, foto produk, dan manajemen sosial media. Pemerintah bisa membuat platform marketplace khusus UMKM Jepara dengan kurasi produk unggulan berdasarkan sertifikasi halal, indikasi geografis, dan bahan lokal. Ini akan memperkuat branding Jepara sebagai kabupaten kuliner bercita rasa tinggi.
Bupati Jepara bisa mendorong lahirnya kolaborasi strategis antar pelaku UMKM melalui festival tahunan bertajuk “Jepara Food Movement”. Festival ini bukan sekadar pameran, tapi ruang kolaborasi untuk menciptakan menu fusion dari berbagai produk lokal. Bayangkan horok-horok diolah menjadi sushi lokal, atau rengginang seafood yang dibungkus modern dengan cita rasa global. Begitulah Singapura mendesain Hawker Centre sebagai pusat jajanan atau pujasera berbasis kaki lima.
Pemerintah daerah juga dapat menyiapkan program Business Matching antara UMKM dan ritel modern. Dengan fasilitasi ini, produk makanan ringan Jepara bisa masuk ke minimarket, toko oleh-oleh, hingga hotel-hotel di Jawa Tengah. Tak cukup hanya memperbanyak produksi, UMKM perlu didorong untuk membangun jaringan distribusi.
Branding menjadi titik penting. UMKM makanan ringan dari Jepara harus memiliki identitas visual dan cerita produk yang kuat. Pemerintah bisa menggandeng anak-anak muda kreatif untuk membantu UMKM membuat logo, slogan, dan narasi produk berbasis sejarah lokal, seperti kisah Kartini atau jalur rempah Jepara. Pada posisi ini, pemerintah Jepara dapat membantu serta memfasilitasi pengajuan hak merek maupun sertifikasi halal untuk masing-masing produk.
Penting pula adanya penghargaan tahunan bagi UMKM inspiratif yang berhasil menembus pasar nasional atau internasional. Penghargaan ini tidak hanya simbolis, tetapi juga disertai pelatihan lanjutan di luar negeri atau kesempatan promosi di ajang internasional seperti Trade Expo Indonesia atau World Food Exhibition.
Jepara juga bisa memanfaatkan jejaring diaspora dan pelajar di luar negeri sebagai agen promosi kuliner khas. Program “Jepara Food Ambassador” dapat dicanangkan dengan mengirimkan produk UMKM ke komunitas Indonesia di luar negeri sebagai test market.
Sinergi lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah) sangat penting. Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata, Dinas Perdagangan, hingga Dinas Pendidikan harus bersatu dalam mendorong UMKM sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Misalnya, pelajaran kewirausahaan di sekolah bisa memasukkan modul kuliner lokal Jepara agar regenerasi pelaku UMKM terjaga.
Untuk jangka panjang, kebijakan perlindungan indikasi geografis dan sertifikasi produk berbasis bahan lokal harus dipercepat. Jepara perlu mendaftarkan kuliner khasnya ke Kemenkumham sebagai kekayaan intelektual komunal agar nilai jualnya naik dan terlindungi.
Kini bukan saatnya lagi UMKM hanya dianggap pelengkap ekonomi rakyat, yang seolah-olah problemnya hanya berkutat soal permodalan. Jika Bupati Jepara mampu mengorkestrasi strategi ini dengan serius, bukan tidak mungkin Jepara akan dikenal bukan hanya karena mebel ukir, tapi juga karena kuliner khas yang melegenda di pasar dunia. UMKM kuliner Jepara tidak sekadar naik kelas, mereka bisa menjadi duta rasa Nusantara.
Dr. Muh Khamdan, Doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Koordinator Biro Hukum dan Kekayaan Intelektual DPW Gerakan Santripreneur Nusantara (GENI NUSA) Jawa Tengah













