Oleh: Muhajir
JEPARA (SUARABARU.ID)- Kabupaten Jepara memiliki kekayaan wisata alam yang luar biasa, mulai dari pantai-pantai eksotis, air terjun yang memukau, hingga kawasan pegunungan yang sejuk dan memesona. Namun, sayangnya, potensi besar ini belum sepenuhnya dapat dinikmati secara luas karena masih terbatasnya aksesibilitas untuk kendaraan besar dan kurangnya promosi yang gencar.

Jika kita membandingkan dengan daerah lain seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) atau Kota Malang, Jepara tampak tertinggal dalam hal pengelolaan sektor pariwisata. Di Yogyakarta, setiap destinasi baru selalu dipromosikan secara masif dan cepat, baik oleh pemerintah daerah, media lokal, hingga media sosial. Sistem promosi yang solid ini memastikan bahwa setiap destinasi baru mendapat perhatian luas dari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di Kota Malang, sebuah kota yang juga kaya akan wisata alam, sistem promosi dan pengelolaan pariwisatanya sangat matang. Mulai dari objek wisata alam seperti Batu, Selecta, hingga wisata edukasi dan kuliner, Malang selalu berhasil menarik perhatian wisatawan dengan promosi yang gencar. Pemerintah setempat berkolaborasi dengan pelaku usaha wisata dan komunitas lokal, menciptakan berbagai event, serta memaksimalkan pemasaran digital.
Sebagai contoh, wisata Batu Night Spectacular dan Jatim Park selalu menjadi daya tarik utama yang sering dibicarakan di media sosial, menjadikannya destinasi yang ramai dikunjungi.
Sementara itu, Jepara yang juga kaya dengan destinasi wisata alam, seperti Air Terjun Songgo Langit, Air Terjun Jurang Nganten, Watu Ombo, Banyu Anjlok, Desa Tempur, dan kawasan Suroloyo di lereng Gunung Muria, justru menghadapi kesulitan dalam hal akses. Banyak tempat wisata yang menarik ini tidak dapat dijangkau kendaraan bus besar karena jalan yang sempit, terjal, dan minim fasilitas pendukung.
Akibatnya, wisatawan dari luar kota, terutama yang datang dalam rombongan dengan bus besar, hanya dapat mengakses wisata pantai yang lebih mudah dijangkau, seperti Pantai Kartini, Pantai Bandengan, Pulau Panjang, dan salah satu favorit lain, Kali Bening, yang terkenal dengan pemandangannya yang asri.
Desa Tempur adalah salah satu destinasi wisata yang sangat menarik, terutama bagi mereka yang ingin merasakan sejuknya udara gunung dan menikmati keindahan alam pedesaan. Namun, akses menuju ke sana masih sangat terbatas untuk kendaraan besar. Ini adalah salah satu contoh bagaimana Jepara memiliki potensi wisata yang besar, tetapi akses yang masih minim.
Kita semua berharap pemerintah Kabupaten Jepara dan seluruh pihak terkait dapat menangani sektor pariwisata Jepara dengan serius. Dengan adanya perhatian yang lebih pada pengembangan infrastruktur dan aksesibilitas, khususnya untuk kendaraan besar, kami percaya sektor wisata Jepara bisa berkembang pesat.
Akses yang mudah akan membuka peluang besar, tidak hanya untuk sektor pariwisata, tetapi juga untuk sektor lain seperti industri mebel ukir dan kerajinan Jepara, yang akan mendapatkan dampak positif dari semakin banyaknya pengunjung. Perekonomian lokal akan meningkat, dan potensi wisata Jepara akan lebih dikenal luas.
Jepara dan Yogyakarta, serta Kota Malang, sama-sama memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Namun yang membedakan adalah pendekatan yang lebih proaktif dari pemerintah dan pengelola wisata di Yogyakarta dan Malang dalam mendukung aksesibilitas dan promosi digital.
Jika Jepara ingin memajukan pariwisatanya, kolaborasi antara pengelola wisata, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal harus diperkuat. Potensi wisata yang ada saat ini hanya menunggu untuk dioptimalkan menjadi kekuatan wisata yang lebih dikenal luas.
(Penulis adalah Anggota GP PAC Ansor Kecamatan Tahunan)













