BLORA (SUARABARU.ID) — Bupati Blora, Arief Rohman melantik dan pimpin penandatangan perjanjian kerja sekaligus mengambil sumpah/janji kepada 1.048 PPPK di lingkungan Pemkab Blora, formasi tahun 2024 tahap I, dan menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan kepada 197 CPNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Blora formasi 2024.
Pelantikan 1.048 PPPK (P3K) di lingkungan Pemkab Blora, pada Selasa 29 April 2025, suasana penuh gembira dan syukur tentu masih hinggap di hari bahagia para pegawai yang diambil sumpah janji oleh Bupati Blora, di alun-alun kota Blora.
Ada cerita perjuangan yang cukup heroik dialami oleh beberapa gelintir tenaga honorer di wilayah Blora yang kini menyandang status cukup mapan itu sebagai karyawan P3K. Salah satunya yakni Karni (57), mengabdi 27 Tahun, perempuan asal Desa Tempuran Kecamatan Blora yang sudah beberapa tahun belakangan ini tinggal di Desa Purwosari, Kecamatan Blora.
Mantan atlet dayung yang pernah mengharumkan nama Blora, Jawa Tengah bahkan Indonesia di kancah internasional itu, mengaku cukup berliku-liku perjuangannya untuk bisa diangkat menjadi ASN/P3K di lingkungan Pemkab Blora.
Ditemui disela-sela kesibukannya di bilangan Tirtonadi (statusnya sebagai karyawan P3K di lingkungan Dinporabudpar Blora), Senin 5 Mei 2025, wanita yang saat ini sudah dikaruniai satu cucu itu, Karni mengaku, dirinya sangat bersyukur akhirnya ikut diangkat menjadi tenaga P3K di Lingkungan Pemkab Blora.
Disinggung soal masa pengabdiannya ke pemerintah sebagai tenaga P3K yang hanya tinggal satu tahun ? Karni menyatakan tidak masalah, karena masih ada beberapa teman se-profesinya justru tidak bisa menjadi karyawan P3K.
”Ndak masalah. Saya sangat bersyukur, dan memang ini sudah diatur Tuhan, bahwa saya diangkat menjadi pegawai disaat usia saya sudah 57 tahun lebih 4 bulan ini,” ucap Karni.
Secara khusus, Wanita yang mulai terjun di bidang olahraga dayung sejak 1988 itu, Karni mengucapkan terimakasih kepada Bupati Blora atas prakarsanya sehingga dirinya bisa dilantik menjadi tenaga P3K.
”Terima kasih Pak Bupati Arief atas semuanya. Saya sangat bersyukur bisa diangkat menjadi tenaga P3K. Mohon maaf kalau selama ini saya ada salah,” kata Karni yang mengaku sempat dikunjungi Arief Rohman di tahun 2016, saat itu masih menjadi Wakil Bupati Blora.
Atlet Berprestasi
Karni yang hanya berijazah SD itu menuturkan, pada awalnya tidak pernah berpikir jika suatu saat, tepatnya di tahun 1998 diberi kesempatan untuk mengabdi di Pemkab Blora. Karena waktu itu, dia hanya tertarik ikut bergabung menjadi atlet dayung yang latihannya di Waduk Tempuran.
Karyawati P3K di lingkungan Dinporabudpar Kabupaten Blora yang sudah cukup lama mengemban tugas kebersihan di lingkungan Tirtonadi itu, masih ingat betul saat dilatih oleh pelatih Dayung almarhum Sukiman.
“Pertama kali mengikuti lomba dayung mewakili Jawa Tengah di helatan PON, di tahun tahun 1989 berikut tahun terus 1990,” ujar Karni.
Hanya saja dimungkinkan masih perlu jam terbang, belum berhasil memperoleh medali. Tak pernah patah arang, melainkan terus giat berlatih di bawah arahan pelatih almarhum Sukiman di tahun berikutnya wanita yang sudah berumur itu berhasil memperoleh medali perunggu di ajang PON.
Seiring terus giat berlatih, dia terpilih dan dipanggil untuk mengikuti Sea Games di tahun 1996/1997 dan Indonesia meraih 3 medali emas dan 1 perak. Berkat prestasi ini, Karni sempat mendapat penghargaan dari pemerintah, di perolehan medali perak mendapat penghargaan Rp 500.000 sementara di perolehan 3 medali Emas, dirinya memperoleh Rp 15 juta.
Prestasinya tidak berhenti disini. Karni dan sejumlah atlet dayung lainnya, di tahun 1997 mengikuti kejuaraan dayung tingkat dunia di Hongkong. Dan hasilnya luar biasa, di kelas perahu Dragon dia dan kawan-kawan berhasil memperoleh 3 medali emas dan 1 perak. Hingga akhirnya dia tidak aktif lagi di atlet dayung tahun 2012.
Nenek dengan satu cucu itu, masih ingat betul atas prestasi yang diraih saat menjadi atlet dayung itu, dia akhirnya ditarik menjadi tenaga honorer di Pemkab Blora (saat ini Setda Blora). Hanya selang dua sampai tiga bulan, dipindah tugaskan sebagai tenaga honorer bidang kebersihan di lingkungan Kantor Pariwisata (saat ini Dinporabudpar).
Tugas pertamanya adalah sebagai tenaga kebersihan di lingkungan Sayuran, yang waktu itu menjadi salah satu lokasi wisata karena ada kolam renangnya. Sekitar 3 tahun, ia menjadi tenaga kebersihan di Sayuran, setelah itu dipindahkan ke lingkungan Taman Sarbini. Dan mulai tahun 2013 hingga saat ini bertugas sebagai tenaga kebersihan di Tirtonadi.
Perjuangannya untuk bisa diangkat menjadi tenaga P3K di lingkungan Pemkab Blora ternyata cukup berliku. Meski harus menunggu 27 tahun, yang namanya rezeki tampaknya tidak akan lari kemana. Sehubungan dengan adanya program dari pemerintah untuk mengangkat tenaga P3K selain PNS, di tahun 2025 ini dia akhirnya diangkat menjadi tenaga P3K.
Kesempatan emas untuk menjadi abdi negara sebenarnya pernah diperolehnya di tahun 2008. Hanya saja, dia harus membuang jauh angan-angan itu manakala dirinya belum atau tidak mengantongi ijazah selembar pun, meski ijazah SD.
Tak patah arang, dengan harapan suatu saat akan ada pengangkatan PNS lagi, Karni mengikuti kursus dan berhasil mengantongi ijazah SD. Apa yang diharapkan akhirnya tiba, di tahun 2010 kembali ada lowongan pengisian PNS, dan ijazah SD yang telah dipunyai itu digunakan untuk mengadu peruntungan.













