KEBUMEN (SUARABARU.ID) – Historical Study Trips kembali hadir di tahun 2025 dengan kegiatan study trip sesi ke-13 bertema, “Kala Masa Jaya Genteng Sokka” di Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Minggu (27/4).
Pendiri Historical Study Trips Teguh Hindarto menjelaskan, melalui kegiatan ini peserta diajak untuk memahami masa lalu di balik tobong-tobong genteng tua dengan cerobong kokoh yang saat ini masih ada di kompleks pabrik genteng yang bersebelahan dengan eks stasiun Sokka, Kecamatan Pejagoan, Kebumen.
Sebagian tobong genteng yang kokoh dan saksi bisu kejayaan genteng Sokka itu saat ini dialihfungsikan menjadi resto “Warung Sepur”. Peserta yang berpartisipasi kali ini bukan hanya dari Kebumen melainkan juga ada dari Solo dan Yogyakarta.

Menurut pemaparan Teguh Hindarto yang juga peneliti sejarah dan budaya di Kebumen, industri genteng dan batu bata di Sokka tidak bisa dilepaskan dari tokoh bernama Haji Aboengamar yang telah melanjutkan usaha ayahnya.
Pada tahun 1909 Aboengamar melanjutkan industri ini untuk memenuhi kebutuhan batu bata dan genteng yang dipasok sampai keluar Jawa. Bahkan sampai Jepang.
Kualitas dan kekuatan genteng sokka dari tanah liat mengandung lem[png di sekitar Pejagoan memang sangat diakui oleh Belanda. Bahkan hampir semua stasiun Kereta Api di masa lalu menggunakan atap genting Sokka.
Teguh mengungkapkan, surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie (17 Februari 1920) menyitir bahwa 1.600 orang menemukan penghidupan ekonomi dari keberadaan pabrik ini.
Stasiun Soka yang dahulu berstatus halte (stasiun kecil) menjadi tempat pengiriman bata dan genteng ke berbagai lokasi di Hindia Belanda. Dalam iklan yang dimuat koran De Locomotief (13 April 1918) disebutkan kapasitas pengiriman genteng 12.000.000 dan 6.000.000 bata per tahunnya
Perjalanan berakhir di rumah Aboengamar, pengusaha Bumi Putra yang sukses dan namanya selalu dihubungkan dengan produk genteng Soka dan batu bata. Rumah klasik baik arsitektur bangunannya yang berornamen antik dengan lantai kuno yang eksotik.
Dengan kegiatan study trip sesi ke-13 ini, Teguh Hindarto selaku founder wisata sejarah Historical Study Trips mengajak para peserta untuk memahami masa lalu lebih baik dan melindungi warisan sosial ekonomi dan sosial kultural berupa bangunan-bangunan yang semakin renta dimakan usia.
Fina, mahasiswa UGM Yogyakarta salah saru peserta kegiatan susur sejarah itu menyatakan, mengikuti study trip ke-13 memberikan pengalaman yang membuka wawasan dengan menyusuri jejak kejayaan industri lokal.
Menurut Fina, materi disampaikan dengan gaya storytelling yang ringan. Dirinya dan peserta lain seperti mendengarkan kisah lama yang hidup kembali.
“Sangat seru dan insightfull untuk bisa menjelajahi tempat yang tampak biasa ternyata menyimpang kisah luar biasa dan tentunya disertai dengan bukti-bukti arsip,”aku Fina.
Komper Wardopo













